400-an Warga Sekitar DAS Purbalingga Tanam Bambu

PURBALINGGA (BNC) – Sekitar 400-an warga di sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS) di Kabupaten Purbalingga, Banjarnegara dan Kebumen akan menanam bambu pada musim penghujan yang diprekdisikan jatuh pada pertengahan Bulan November 2011 nanti. Sebelumnya mereka telah mendapatkan pembekalan dalam sosialisasi di masing-masing kabupaten, dengan difasilitasi pemkab setempat.

Ketua Tim Kegiatan dari Pusat Penelitian Lingkungan Hidup Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (PPLH – LPPM) Universitas Jendral Soedirman (UNSOED) Purwokerto Dr Ir Eko Hendarto menyampaikan ketiga kabupaten itu dipilih berdasarkan karakteristik geografisnya. Banjarnegara mewakili daerah pegunungan, Kebumen mewakili dataran rendah dan pantai, sementara Purbalingga mewakili antara keduanya.

“Kegiatan dilaksanakan mulai September hingga Desember 2011, berupa sosialisasi, pengumpulan informasi dan puncaknya nanti penanaman bambu di sekitar Daerah Aliran Sungai oleh masyarakat di sekitarnya,” ujar akademisi yang juga menjabat sebagai Divisi Pendidikan dan Pelatihan di PPLH.

Pemilihan bambu sebagai media konservasi, kata Eko, karena bambu telah lama dilupakan orang. Padahal, secara ilmiah, bambu memiliki multifungsi diantaranya fungsi ekonomi karena memiliki nilai jual dan sebagai media konvervasi yang sangat baik.

”Orang selama ini telah melupakan bambu. Padahal bambu merupakan media konservasi yang baik sekali, ramah lingkungan dan dapat dimanfaatkan untuk kehidupan sehari-hari,” jelasnya.

Kegiatan yang bertajuk Peningkatan Kapasitas Peran Masyarakat Perdesaan dalam Pengendalian Kerusakan, Pencemaran Lingkungan dan Perubahan Iklim di Purbalingga, Kebumen dan Banjarnegara, kata dia, hasil kerjasama PLH LPPM UNSOED dengan Kementrian Lingkungan Hidup. Secara keseluruhan, anggaran kegiatan ini dialokasikan hingga Rp 90 juta.

”Itu tidka termasuk monitoring atau evaluasi berkala yang akan kami lakukan setelah kegiatan ini berakhir. Evaluasi dan monitoring sepenuhnya akan dianggarkan oleh lembaga kami,” jelasnya.

Eko menambahkan, tujuan akhir kegiatan ini menjadikan upaya pengendalian kerusakan dan pencemaran lingkungan sebagai kebudayaan dan kebiasaan yang tak bisa lepas dalam kehidupan sehari-hari masyarakat perdesaan khususnya di sekitar DAS tigas kabupaten itu. Menurut Eko, hal ini sesuai dengan amanah Pasal 70 UU No 32 Tahun 2009 tentang perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Salah satunya tentang pelibatan masyarakat dalam pengendalian pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup. (BNC/cie)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.