Bahasa Korea Masuk Kurikulum SMK N 1 Purbalingga

PURBALINGGA (BNC) – Bahasa Korea telah masuk menjadi salah satu bahasa yang diajarkan di SMK N 1 Purbalingga. Hal ini terkait erat dengan banyaknya perusahaan milik Korea yang bertebaran di Kabupaten Purbalingga, terutama di bidang hair industry. Bahkan untuk jurusan sekretaris, Bahasa Korea wajib diikuti.

“Ini sudah berjalan 2 minggu. Sementara memang pengajarnya bukan guru tetap, sehingga bahasa Korea ini hanya sebagai ekstra kurikuler, tapi bersifat wajib, khususnya bagi siswa jurusan sekretaris,” ujar Sukamto, Kepala SMK Negeri 1 Purbalingga di ruang kerjanya, Sabtu (1/10).

Selain bahasa Korea, Bahasa Jepang telah lebih dulu diajarkan sejak tahun 2006. Bahkan, pada Gelar Prestasi dan Bela Negara yang diselenggarakan Pemerintah Provinsi Jateng 18-19 September lalu, SMK Negeri 1 Purbalingga meraih juara II Bidang Bahasa Jepang Tingkat Provinsi Jateng. Tak hanya itu, dua tahun berturut-turut sebelumnya, SMK yang dulu dikenal dengan SMEA Purbalingga, berhasil menjadi Juara 2 Tingkat Provinsi (2008) dan Juara 1 Tingkat Provinsi (2009) untuk jenis lomba yang sama.

Sukamto sangat berharap, kebijakan moratorium segera berlalu, karena kebutuhan tenaga guru bahasa Jepang dan Korea sangat mendesak. Pihaknya tidak akan mungkin memasukkan bahasa Jepang dan Bahasa Korea menjadi mata pelajaran intra kurikuler selama belum ada tenaga guru pengampu yang berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Berstandar Internasional Harga Tetap Lokal

Tiga bahasa yang diajarkan di SMK ini semakin mendukung status SMK N 1 Purbalingga sebagai Rintisan Sekolah Berstandar Internasionl (RSBI). Berbeda dengan penerapan RSBI pada sekolah pada umumnya, biaya sekolah di SMK ini relatif terjangkau dan selalu menjadi incaran siswa-siswi lulusan SMP yang pintar namun berasal dari keluarga tidak mampu.

SMK N 1 Purbalingga juga menyediakan keringanan bagi siswa-siswi yang terbukti tidak mampu. Untuk tahun ini saja, menurut Sukamto, ada sebanyak 300-an siswa yang mengajukan permohonan keringanan biaya. Dari 300-an siswa ini berasal dari kelas 10, 11 maupun 12.

“Biasanya selain surat keterangan tidak mampu dari desa,kami juga memiliki tim survey untuk melihat langsung bagaimana kondisi siswa itu sebenarnya. Kalau memang terbukti siswa ini berasal dari keluarga tidak mampu, akan kami beri keringanan bahkan bebas biaya,” jelasnya.

Selain beasiswa atau keringanan selama sekolah, banyak siswa SMK N 1 Purbalingga yang memperoleh beasiswa untuk melanjutkan kuliah. Meskipun sekolah kejuruan, tahun ini saja sudah ada 36 siswa yang diterima di Perguruan Tinggi Negeri ternama di Indonesia tanpa harus dipusingkan oleh biaya kuliah.

“Mereka diterima melalui seleksi Bidik Misi yang diselenggarakan Dirjen Dikti. Ini dimulai tahun lalu. Tahun lalu hanya 8 anak yang mendapat beasiswa, sekarang melonjak sampai 36 anak,” ujarnya bangga (BNC/cie)

1 Comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.