“Dawet Gangga” Ikon Pangan Lokal Purbalingga

DAWET ganyong yang sudah diangkat sebagai potensi olahan pangan lokal Purbalingga sejak kepemimpinan Bupati terdahulu (Triyono Budi Sasongko), kini menjadi ikon baru pangan lokal Purbalingga. Minuman menyegarkan yang terbuat dari tepung ganyong, kini memiliki nama baru Dawet Gangga (Ganyong Purbalingga). Nama ini diberikan oleh salah seorang pejabat tingkat provinsi Jawa Tengah saat produk asal desa Bandingan Kecamatan Kejobong ini, mengikuti sebuah pameran di Semarang 8 Juni lalu.
“Salah satu produk panganan peserta gelar potensi pangan lokal kali ini yakni Dawet Gangga, diharapkan menjadi ikon kabupaten Purbalingga. Kalau Banjarnegara sudah punya Dawet Ayu, Purwokerto dengan Getuk Gorengnya. Nah mudah-mudahan dawet Gangga bisa menjadi ikon produk pangan Purbalingga,” kata Kabid Ketahanan Pangan pada Badan Pelaksana Penyuluhan dan Ketahanan Pangan kabupaten Purbalingga, di sela-sela kegiatan Gelar Potensi Pangan Lokal di Gelora Goentoer Darjono, Minggu (10/7)
Gelar Potensi Pangan Lokal kabupaten Purbalingga diselenggarakan dalam rangka peringatan Hari Koperasi ke-64 dan Harganas ke-18 tahun 2011. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Dinas perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Dinperindagkop) bekerjasama dengan Badan Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan (BKBPP) kabupaten Purbalingga. Selain gelar potensi pangan juga diadakan jalan sehat dan gelanggang dagang produk kelompok UPPKS.
Diakui Sugeng, berbagai upaya telah dilakukan untuk mengangkat dawet gangga menjadi ikon Purbalingga. Diantaranya dengan mengikuti pameran di tingkat kabupaten maupun provinsi. Bantuan modal Rp. 1 juta juga sudah diberikan BP2KP kepada pembuat dawet gangga “Yu Khot”, Ny. Khotimah.
“Dalam waktu dekat kita akan mengadakan pelatihan membuat dawet ganyong bagi penjual dawet dan minuman di kabupaten Purbalingga. Harapannya pembuatan dan penjualan dawet gangga semakin menyebar,” katanya.
Dia berjanji produk terbaik tiap kecamatan akan ditampilkan pada kegiatan-kegiatan tingkat kabupaten.
Kegiatan yang diikuti 239 desa dari 18 kecamatan se-kabupaten Purbalingga, juga mendapat perhatian Bupati Drs H Heru Sudjatmoko dan Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Purbalingga Ny. Sudarli Heru Sudjatmoko. Bupati memberikan apresiasi terhadap kreativitas para peserta. Meski jumlah pesertanya banyak namun produknya tidak ada yang sama. Bahkan Ketua TP PKK Ny. Sudarli dan rombongan sempat memborong “minyong” (Mie Ganyong) dari salah satu stand Gelar Dagang Produk Kelompok UPPKS.
“Bagus-bagus semua ini. Hasilnya juga sangat beragam. Tapi harus diingat ya bu, yang warnanya macam-macam harus dengan pewarna alami. Jangan pewarna buatan. Apalagi pakai yang bukan untuk makanan,” pesan bupati sambil tak henti-hentinya memuji.
Ketua Panitia Pelaksana Tafrikan SE menuturkan, dalam rangka Harkop dan Harganas tahun 2011 telah digelar berbagai event berupa bhakti sosial, kemasyarakatan, dan hiburan. Ditambahkan Tafrikan, resepsi periangatan Harkop ke-64 dan Harganas ke-18 akan dilaksanakan 16 Juli 2011 di pendopo Cahyana. Terakhir, Upacara peringatan Harganas dan Harkop akan dilakukan di Pendopo Dipokusumo pada 18 Juli mendatang (BNC/har)

DAWET GANYONG: Bupati Purbalingga saat mencoba nikmatnya Dawet Ganyong (foto:har/BNC)

1 Comment

  1. Ass. Mohon informasi bagaimana cara membuat dawet dari tepung ganyong secara rinci dan gamblang, Tks Wassalam

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.