Tiga Tokoh Terima PWI Kebumen Award 2011

KEBUMEN – Tiga orang tokoh terpilih menerima “PWI Kebumen Award 2011” sebagai penghargaan atas dedikasi di bidangnya masing-masing. Tiga tokoh tersebut ialah Kapolres Kebumen AKBP Andik Setiyono SIK SH MH sebagai pejabat penanggungjawab kamtibmas berdedikasi, pengusaha Sugeng Budiawan sebagai pengusaha berdedikasi dan peduli sesama, serta wartawan senior Nanang W Hartono atas dedikasi dan kesetiaannya pada profesi wartawan.
Penghargaan diserahkan masing-masing oleh Ketua DPRD Ir Budi Hianto Susanto, Ketua PWI Perwakilan Jateng IV Drs Komper Wardopo MPd dan Wakil Bupati Djuwarni AMd Pd dalam Sarasehan dan Resepsi Hari Pers Nasional (HPN) tahun 2011 yang digelar PWI Koordinatoriat Kebumen bekerjasama dengan PWI Perwakilan Jateng IV di Pendopo Rumah Dinas Bupati Kebumen, Jumat (27/5).
“Pemberian PWI Kebumen Award telah menjadi tradisi tahunan yang kami berikan sebagai bentuk penghargaan atas peran yang diberikan kepada masyarakat,” ujar Komper Wardopo dalam sambutannya.
Dia menambahkan, Kapolres AKBP Andik Setiyono dinilai berhasil dalam mengamankan Pemilukada dua putaran di Kebumen. Sehingga meskipun tensi politik cukup panas namun tetap aman dan kondusif. Sedangkan Sugeng Budiawan yang juga pemilik Muncul Burso Motor dinilai sebagai pengusaha yang memiliki kepedulian yang tinggi masyarakat kurang mampu. Dalam kesempatan itu, Wabup Djuwarni juga menerima kenang-kenangan berupa karikatur gambar dirinya dengan pakaian olahraga.
Pendidikan Politik
Sementara itu, sarasehan yang mengangkat tema “Pendidikan Politik Kaum Muda untuk Meneguhkan NKRI” itu menghadirkan pembicara dosen Fisipol UGM Yogyakarta Abdul Gaffar Karim MA. Acara diikuti sekitar 150 peserta yang terdiri atas perwakilan pelajar SMP dan SMA di Kebumen, guru, mahasiswa, serta organisasi kepemudaan.
Dalam paparannya, Abdul Gaffar Karim menyampaikan tiga pilar kurikulum pendidikan politik harus ditegakkan guna mencegah generasi muda terasuki paham-paham yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kebangsaan serta persatuan bangsa. Tiga pilar itu ialah kebangsaan, kebernegaraan, dan kewarganegaraan.
“Persoalannya, dalam pendidikan formal kita, hanya kewarganegaraan yang masih dominan,” ujarnya.
Kebangsaan kata dia ialah rasa percaya diri sebagai orang Indonesia. Kebernegaraan adalah memahami sejarah, serta merawat dan mempertahankan NKRI. Sedangkan kewarganegaraan adalah memenuhi kewajiban sebagai warga negara yang baik.
Terkait partai politik yang berkepentingan terhadap pendidikan politik untuk mengenalkan bagaimana politik yang baik, dinilai belum berjalan seperti yang diharapkan. Sebab parpol masih sibuk dengan dengan negosiasi politik. Untuk itulah dia mendorong media massa, sekolah, dan keluarga untuk menjadi agen pendidikan politik yang baik.
Para peserta sarasehan utamanya pelajar sangat antusias bertanya. Apalagi bagi siswa penanya diberikan door prize dari Stikes Muhammadiyah Gombong. Sayangnya, keterbatasan waktu yang ada, banyak peserta kecewa karena sarasehan serasa cepat berakhir.
Koordinator PWI Kebumen, Bagus Sukmawan SIP mengatakan dipilihnya tema pendidikan politik kaum muda dilatarbelakangi adanya mencuatnya gerakan radikalisme dengan segala kegiatannya akhir-lahir ini telah menyusup ke kalangan generasi muda melalui sekolah dan kampus. Hal itu harus dicegah karena mengancam nilai-nilai perjuangan kemerdekaan dan NKRI.
“Melalui pendidikan politik yang benar diharapkan dapat menciptakan generasi muda Indonesia yang sadar akan kehidupan bernegara dan berbangsa berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945,” katanya. (BNC/J)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.