Korban Selamat Bencana Longsor Purbalingga Masih Trauma


PURBALINGGA – Sorot mata Catur Dedy Santoso (30), masih tampak terlihat sedih. Ia mengaku trauma, sekaligus bersyukur karena dapat selamat dari bencana tanah longsor yang terjadi di kompleks bangunan penampung air bersih di Desa Wlahar, Kecamatan Rembang, Kabupaten Purbalingga (Jateng), Sabtu (23/04/2011) petang. Ia menjadi saksi hidup bencana yang menewaskan dua temannya. Dedy kini mengaku belum berani mengunjungi ke lokasi longsoran yang berjarak sekitar 200 meter dari rumahnya. Ia memilih bercengkerama dengan istri, seorang anaknya dan teman-teman serta kerabatnya.

”Saya sangat bersyukur karena bisa selamat dari bencana itu. Jika tidak terhempas, mungkin tubuh saya sudah terkubur hidup-hidup oleh longsoran tanah,” ujar Dedy , Minggu (24/03/2011) siang. Dedy dijumpai disela-sela menghantar pemakaman dua teman yang tewas tertimbun tanah longsor. Dedy hanya mengalami luka-luka pada kedua kakinya, sementara dua rekannya yang tewas yakni Yatirun (35), dan Masyoto (30).

Dedy tidak menduga sama sekali jika tebing setinggi kurang lebih 15 meter akan ambruk dan menimpa korban serta dirinya. Saat bencana terjadi, suasana hujan sangat deras. Dedy bersama dua korban lainnya yang bertugas sebagai pengurus Badan Pengelola Sarana (BPS) program Pamsimas (Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat) di desanya, berniat membersihkan guguran tanah dan sampah dedaunan yang menutupi bak penampungan air. Dedy selaku penanguyngjawab teknis bersama korban Masyoto, sementara Yatirun menjabat sebagai ketua BPS Desa Wlahar.

”Kebutuhan air bersih warga menjadi tanggungjawab BPS termasuk saya. Ketika warga mengeluhkan air yang masuk ke bak rumah-rumah warga bercampur tanah, maka saya spontan menuju bak penampungan air,” kata Dedy, bapak seorang anak yang berulangkali menyatakan rasa syukurnya karena selamat.

Air bersih dari mata air Sutheng, selama ini ditampung dalam sebuah bak penampung berukuran 1,5 x 1 meter. Dari bak penampungan kemudian dialirkan ke bak penyaring berukuran 2,5 x 9 meter dan ketinggian 1,5 meter. Dari bak penyaring ini, air dialirkan ke sedikitnya 85 Sambungan Rumah (SR) atau setara untuk memenuhi kebutuhan sekitar 700 jiwa, dan ke dua buah sambungan kran umum.

Musibah diawali ketika Dedy dan Masyoto mulai membuang sampah daun dan tanah yang masuk ke bak penampungan. Karena banyaknya guguran tanah yang masuk ke bak, maka korban Masyoto menyuruh Dedy untuk meminjam ember di rumah korban Yatirun. Meski hujan masih turun sangat lebat, namun korban Yatirun berniat ikut membantu. Yatirun merasa ikut bertanggungjawab dan membantu membersihkan guguran tanah di bak. Saat membersihkan, Dedy sempat bertanya kepada korban Masyoto, apakah tanah di bagian atas tidak akan longsor. ”Masyoto memperkirakan tanah tidak longsor dan aman,” tutur Dedy yang memiliki seorang anak laki-laki, David (6).

Namun, selang beberapa saat kemudian, tiba-tiba muncul suara gemuruh dan dalam sekejab langsung menimpa korban. Dedy sempat terhempas oleh longsoran tanah itu. ”Begitu longsor, dengan setengah sadar saya mencari Masyoto dan Yatirun. Saya hanya melihat dua kaki tersembul keluar, sementara bagian tubuhnya tertutup tanah. Saya memastikan itu kaki Masyoto. Sedang Pak Yatirun tidak terlihat sama sekali,” ungkap Dedy.

Dedy kemudian mencarei pertolongan warga. Dengan suasana yang sangat panik, ratusan warga kemudian spontan berdatangan. Warga pun menggali longsoran tanah setebal kurang lebih 2 meter. Selang satu jam kemudian, kedua korban baru berhasil dikeluarkan dari dalam tanah. Korban yang masih belepotan tanah kemudian dilarikan ke RSUD Purbalingga, namun rupanya saat dibawa korban sudah meninggal dunia.

Jenasah korban kemudian dibawa ke rumah duka masing-masing di wilayah RT 6/I Dukuh Wlahar. Jenasah kemudian disholatkan di mesjid desa setempat. Pemakaman jenasah dilakukan Minggu (24/04/2011) siang sekitar pukul 10.00 WIB dengan dihantar oleh ratusan warga setempat. Ikut mengantar, jajaran Muspika Rembang, dan sejumlah pejabat dari Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Purbalingga, Dinsosnakertran (Dinas Sosial Tenaga Kerja & Transmigrasi), dan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Bupati Purbalingga Drs H Heru Sudjatmoko, M.Si juga terlihat datang sesaat setelah pemakaman korban.

Koordinator Lembaga Keswadayaan Masyarakat Desa Wlahar, Triyanto mengungkapkan, Program Pamsimas di desanya memanfaatkan dua sumber mata air yang berada pada dua tempat terpisah. Mata air Sutheng, tempat lokasi musibah, penyaluran airnya menggunakan gaya gravitasi ntuk mencukupi 85 sambungan rumah dan 2 sambungan kran umum. “Para korban sangat bertanggungjawab terhadap kebutuhan air warga, sehingga meskipun hujan mereka tetap iklhas bekerja,” kata Triyanto.

Sementara itu Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPUK) Purbalingga Ir Sigit Subroto, MT mengatakan, longsor menimpa bak penampung air yang berlokasi disebelah bak penyaring yang dibangun atas biaya APBN, APBD dan swadaya masyarakat. “Bak penampung air sudah lama dibangun oleh warga, Pemkab melalui program Pamsimas membangunkan bak penyaring yang biayanya dari APBN, APBD, dan swadaya warga. Bak penyaring ini kondisinya masih baik. Setelah bencana terjadi, longsoran sudah dibersihkan, dan meski bak penampung air rusak namun penyaluran air bersih sudah kembali normal,” kata Sigit Subroto.

Seperti diberitakan Sebelumnya, musibah bencana tanah longsor menimpa bangunan penampung air di Desa Wlahar, Kecamatan Rembang, Purbalingga, Sabtu (23/04/2011) petang. Dua orang tewas tertimbun tanah ketika mencoba membersihkan bak penampung air (BNC/tgr).

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.