Angka Kematian Ibu Indikator Kesejahteraan Perempuan

Ditulis 22 Apr 2011 - 10:10 oleh Banyumas1

PURBALINGGA – Wafatnya RA Kartini setelah melahirkan putra pertamanya menunjukkan kondisi kesejahteraan perempuan saat itu yang masih jauh dari harapan. Menurut Bupati Drs H Heru Sudjatmoko MSi, angka kematian ibu saat melahirkan memang bisa menjadi salah satu indikator kesejahteraan perempuan.

”Keberhasilan pembangunan suatu daerah biasanya dilihat juga dari angka kematian ibu. Kalau angka kematian ibu masih tinggi, berarti banyak pekerjaan rumah bagi pemerintah, mulai dari masalah gizi ibu hamil, ketersediaan bidan desa, kemiskinan, dan persoalan kompleks lainnya,” jelasnya dalam sambutan pada Peringatan Hari Kartini ke-132 di Pendopo Dipokusumo Purbalingga, Kamis (21/4).

Indikator kesejahteraan perempuan juga dapat dilihat dari kecenderungan pemikiran masyarakat secara umum. Menurutnya, masih banyak orang tua yang lebih mementingkan anak laki-lakinya untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi daripada anak perempuannya.

”Masih sering kita dengar, atau bahkan kita sendiri, mengatakan jan jane pinter sayange kok ya wadhon (sebenarnya pintar tapi sayangnya kok perempuan),” tuturnya. Hal ini menurutnya, menjadi indikator belum sepenuhnya hak-hak perempuan diakui dan diperjuangkan, bahkan oleh orang tuanya sendiri.

Momen Peringatan Hari Kartini, kata dia, bukan berarti ingin membuat perempuan sama persis seperti laki-laki. Karena bagimanapun, perempuan tetap memiliki karakteristik yang berbeda dengan laki-laki.

”Sebagai contoh, kita semua itu dilahirkan dari seorang ibu. Kita semua pernah hidup dalam perut ibu selam 9 bulanan. Setelah itu melahirkan dan menyusui. Ini tugas-tugas yang tidak bisa digantikan oleh laki-laki manapun,” jelasnya.
Peringatan Kartini, kata dia, lebih pada perjuangan hak-hak perempuan yang pada masa kehidupan Kartini belum bisa dinikmati. Perempuan hanya memiliki kewajiban yang semuanya diarahkan untuk melayani kebutuhan laki-laki.

Kegiatan Peringatan Hari Kartini di Purbalingga yang diselenggarakan Gabungan Organisasi Wanita (GOW) sebelumnya dimeriahkan dengan berbagai lomba, seperti lomba merangkai bunga dari tas kresek dan membuat tas dari plastik bekas. Para pemenang lomba menerima hadiah di Resepsi Peringatan Hari Kartini sebagai puncak kegiatan. Kegiatan yang dihadiri ratusan ibu dari berbagai organisasi wanita ini, semakin semarak dengan penampilan Tari Saman khas Aceh oleh para siswi SMK N 2 Bobotsari dan Tari Lir-Ilir dari Ikatan Guru RA/BA (IGRA) Kabupaten Purbalingga yang berhasil meraih Juara Umum Porseni Kreativitas Guru RA/BA tingkat Nasional, 10 Februari 2011 lalu di Ancol, Jakarta (BNC/cie).

Tentang Penulis

Leave A Response