Di Purbalingga,BAB Sembarangan Dikenai Sanksi

Ditulis 18 Apr 2011 - 09:50 oleh Banyumas1

PURBALINGGA – Kebiasan sebagian warga Desa Bandingan, Kecamatan Kejobong, Kabupaten Purbalingga, untuk Buang Air Besar (BAB) sembarangan, kini agaknya sudah mulai ditinggalkan. Pihak desa memberikan sanksi berupa denda uang atau kerja bhakti kepada warga yang masih melakukan BAB sembarangan.

Kesepakatan warga dituangkan dalam deklarasi untuk tidak BAB sembarangan. Tak tanggung-tanggung, deklarasi yang berlangsung di balai desa setempat, Sabtu (16/4) mengundang Bupati Purbalingga Drs H Heru Sudjatmoko, M.Si untuk menjadi saksinya.

Uniknya, deklarasi dibacakan oleh seorang warga Khusnul Khotimah, dan ditirukan oleh ibu-ibu lainnya secara bersamaan. Layaknya ketika para pejabat diambil sumpah jabatan. Para tamu undangan yang menyaksikan itu juga sempat senyum-senyum, karena ada kalimat yang unik, ”Kami siap membongkar fasilitas umum yang biasa digunakan untuk BAB di tempat terbuka”, tutur Khusnul Khotimah. Sejumlah tamu pun berujar, kalau BAB di saluran irigasi, berarti saluran irigasinya yang dibongkar ya, bukan tempat BAB-nya” ujar seorang tamu sembari tersenyum.

Deklarasi warga Bandingan yang disebutnya sebagai Open Defecation Free (ODF), merupakan kelanjutan Program Pamsimas (Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat). Program Pamsimas ini juga menggerakan masyarakat melalui Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) dengan pendekatan merubah perilaku masyarakat yang higiene. Deklarasi di Bandingan merupakan yang pertama untuk wilayah Jateng II yang meliputi Purbalingga, Banyumas, Banjarnegara, Cilacap, Brebes, dan Tegal.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kabupaten Purbalingga Ir Sigit Subroto, MT mengungkapkan, ODF merupakan kondisi ketika setiap individu dalam suatu komunitas untuk tidak melakukan BAB sembarangan melalui pemicuan. ”Metode ni menyadarkan masyarakat melalui pendekatan agama, dan juga dari sisi kesehatan. Jika BAB sembarangan akan menimbulkan rasa jijik sehingga masyarakat dengan kesadaran sendiri merasa perlu untuk membuat jamban,” kata Sigit Subroto.

Sementara itu Kepala Desa Bandingan, Kecamatan Kejobong Muhail mengungkapkan, sebelum ada program Pamsimas tahun 2009, dari jumlah 1.648 Kepala Keluarga (5.636 jiwa), jumlah kepemilikan jamban sebanyak 1.208 buah. Dari jumlah jamban ini dipergunakan untuk 1.481 KK. Artinya ada 167 KK yang tidak memiliki jamban. Mereka tentunya ketika melakukan BAB di sembarang tempat. Bisa di saluran air, sungai, kebun atau tempat terbuka lainnya.

”Setelah program Pamsimas, ada peningkatan jumlah jamban 110 buah sehingga total jamban yang tersedia 1.318 buah. Jumlah jamban ini sudah dipakai oleh 100 persen warga desa kami. Jadi, sudah tidak ada warga Bandingan yang melakukan BAB sembarangan,” ungkap Muhail bangga.

Muhail mengatakan, karena larangan BAB sembarangan merupakan kesepakatan warga di lima dusun yang ada, maka pengawasannya juga diserahkan kepada para kepala dusun (kadus) sebagai koordinator yang dibantu oleh kader-kader kesehatan di wilayah dusun tersebut. ”Tim ini bertugas menjaga kesinambungan perilaku masyarakat untuk selalu membuang air besar ke jamban sehat dan tidak kembali pada kebiasaan lama yakni buang air besar di tempat terbuka,” kata Muhail sembari menambahkan jamban dibangun secara swadaya oleh masyarakat tanpa subsidi dari pihak manapun.

Bupati Purbalingga Drs H Heru Sudjatmoko, M.Si menyambut baik kemajuan Desa Bandingan yang telah mendeklarasikan ODF atau bebas buang air besar sembarangan. Keberhasilan ini tentunya akan mendukung pola hidup bersih dan sehat warga sehingga pada akhirnya akan dicapai masyarakat yang selalu sehat. ”Saya berharap, bagi desa-desa lain di Purbalingga penerima program Pamsimas agar dapat mencontoh Desa Bandingan dan mencapai ODF,” harap Bupati Heru (BNC/tgr)

Tentang Penulis

Leave A Response