Awas,Pejabat Purbalingga jadi Target Penipuan

Ditulis 14 Apr 2011 - 12:49 oleh Banyumas1

PURBALINGGA – Percobaan penipuan dengan sasaran pejabat/ PNS di Kabupaten Purbalingga kerap terjadi. Menghindari berjatuhan korban, Sekda Purbalingga Drs Subeno MM menerbitkan surat yang ditujukan kepada seluruh kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) untuk mewaspadai percobaan penipuan dengan berbagai modus operandi.
“Modus yang sering digunakan itu mengaku-ngaku sebagai wartawan atau dari instansi atau lembaga tingkat provinsi atau pusat. Tapi ujung-ujungnya ya memang tidak jauh-jauh dari uang,” jelas Kepala Bagian Humas Setda Purbalingga Drs. Rusmo Purnomo, Rabu (13/4).
Dalam Surat Sekda Nomor 331/2161 Tanggal 12 April 2011 Perihal Waspada Percobaan Penipuan Berbagai Modus, disebutkan beberapa hal yang sering dilakukan para pelaku percobaan penipuan yang mengaku sebagai wartawan. Diantaranya mengkonfirmasikan tentang dugaan praktik korupsi, kolusi dan nepotisme di instansi yang menjadi sasaran.
“Biasanya cara konfirmasi yang dilakukan cenderung menyudutkan sasaran. Jika sasaran terganggu, biasanya akan memberikan sejumlah uang agar ‘para wartawan’ ini segera pergi,” jelas Rusmo.
Hal lain yang biasa dilakukan wartawan gadungan itu bisa juga berupa permintaan bantuan dana melalui penjualan kaos, taplak, stiker dll berlogo media massa / organisasi media massa tertentu dengan harga yang sangat tinggi, atau permohonan penggantian biaya cetak media massa tempatnya bekerja, biasanya dengan sedikit pemaksaan. Meskipun sasaran menolak, biasanya oknum itu baru akan pergi setelah menerima sejumlah uang.
Ada pula yang meminta stempel sebagai bukti tanda terima surat baik untuk dibubuhkan di buku ekspedisi ataupun di balik surat tugas/ surat penempatan milik oknum tersebut. Stempel ini, kata dia, akan digunakan sebagai legalisasi seolah oknum yang bersangkutan telah direstui oleh instansi-instansi yang membubuhkan stempel tersebut.
“Misal dia minta stempel di kecamatan, maka stempel itu akan ditunjukkan ke kepala-kepala desa sasaran, seolah-olah kecamatan memang telah merestui apapun yang akan dilakukan orang itu. Sehingga para kades ini akan tunduk terhadap kemauannya, termasuk jika harus menyetorkan uang tertentu sebagai pengganti transpor oknum yang bersangkutan,” jelas pejabat eselon III/a yang pernah menjabat sebagai camat di beberapa kecamatan di kabupaten Purbalingga.
Selain mengaku sebagai wartawan, modus lain yang sering digunakan pelaku mengaku dari instansi/lembaga/organisasi tingkat provinsi/pusat. Umumnya yang biasa dilakukan yaitu menelpon ke sebuah instansi meminta nomor telepon pejabat tertentu atau bermaksud berbicara langsung dengan pejabat tertentu. Biasanya oknum ini akan mengajukan permohonan dana, hal yang sangat jarang bahkan mustahil dilakukan sebuah lembaga/instansi/organisasi tingkat provinsi/pusat kepada instansi di tingkat kabupaten atau yang lebih rendah dari itu.
“Kalau ada orang asing yang meminta nomor telepon para pejabat tertentu, sebaiknya tanyakan dulu identitasnya, tanya keperluannya untuk apa dan mohon ijin kepada pejabat yang bersangkutan. Jangan asal memberikan no telpon,” imbuhnya.
Tips Hadapi Percobaan Penipuan

Dalam surat sebanyak dua lembar itu, Sekda juga meminta semua kepala SKPD dan stafnya untuk mewaspadai percobaan penipuan dengan berbagai modus. Jika terpaksa menghadapi situasi yang mencurigakan seperti disebutkan dalam surat, kepala atau staf SKPD yang bersangkutan harus berani menanyakan identitas orang itu, seperti nama lengkap, nama media massa dan alamat, no telpon pribadi dan kantor.
“Usahakan semua orang yang datang ke SKPD, terutama yang baru pernah datang ke SKPD itu, mengisi buku tamu. Buku tamu ini berguna untuk mengontrol munculnya kasus-kasus semacam ini. Kalau yang hanya via telpon, ya catat identitasnya dalam buku arsip,” jelasnya lagi.
Rusmo menambahkan, jika ada oarng yang mengaku sebagai waratwan, konfirmasikan kepada Bagian Humas Setda Purbalingga untuk memastikan yang bersangkutan wartawan resmi atau orang yang mengaku wartawan. Selanjutnya, koordinasikan dengan Bagian Humas tentang langkah apa yang mesti ditempuh.
“Jika oknum itu melakukan wawancara yang menyudutkan dan bertindak tidak sopan, atau mengancam akan memberitakan kasus-kasus tertentu yang memang tidak kita lakukan, usahakan tetap tenang dan tidak terbawa emosi. Jika memang tidak bersalah, tidak perlu takut,” katanya.
Jika oknum itu mulai melakukan percobaan pemerasan, kata dia, pastikan ada saksi dan bukti untuk selanjutnya melaporkannya kepada kepolisian terdekat (BNC/cie)

Tentang Penulis

Leave A Response