Permintaan Ekspor Sapu Hamada ke Korea & Taiwan Meningkat

Ditulis 07 Apr 2011 - 14:09 oleh Banyumas1

PURBALINGGA – Prospek usaha bisnis sapu Hamada (sapu dari rumput glagah), semakin cerah. Meski nilai keuntungan per biji produk sapu jenis Rayung dan Lakop tidak begitu besar, namun permintaan ekspor sapu ini ke Korea dan Taiwan terus meningkat. Sementara, parajin sapu di Purbalingga belum mampu memenuhi permintaan tersebut karena terbatasnya bahan baku dan tenaga kerja.

Permintaan dari Korea dan Taiwan dalam satu bulan rata-rata 200 ribu buah. Jenis sapu yang digemari seperti Sapu Rayung (tangkai pelepah rumpuh glagah), dan sapu Lakop (tangkai bambu/kayu). ”Dalam satu bulan, kami baru bisa memenuhi sekitar dua kontainer saja. Satu kontainer jika diisi sapu lakop mampu menampung 80 ribu iji, sementara jika diisi sapu rayung sekitar 37 ribu – 40 ribu biji. Rata-rata nilai ekspor antara Rp 350 juta – Rp 400 juta,” kata Bambang Triyono, perajin sapu hamada di Desa Karanggambas, Kecamatan Padamara, Purbalingga.

Disebutkan Bambang, konsumen sapu hamada di dua negara tersebut cukup besar. Permintaan setiap tahun juga terus meningkat. Sementara, untuk produksi sapu masih tergantung dari pasokan bahan baku rumput glagah dan juga tenaga kerja pembuat sapu. Dalam satu bulan, bahan baku yang dipasok dari petani rumput glagah di wilayah Kecamatan Karangreja Purbalingga dan sekitarnya sebanyak 50 ton. Sementara, untuk satu orang pekerja dalam sehari hanya mampu membuat 15 biji sapu.

”Ketrampilan membuat sapu hamada sebenarnya tidak begitu sulit, cukup dibutuhkan ketekunan dan ketelatenan. Hanya saja, keterbatasan tenaga manusia yang hanya mampu membuat 15 biji sapu jenis Rayung,” kata Bambang yang mulai menjalankan usaha sapu sejak tahun 2002.

Bambang kini memiliki tenaga borongan 70 orang, 12 tenaga harian dan 120 tenaga jahit. Tenaga jahit tidak dipekerjakan di bengkel kerjanya, namun dibawa pulang ke rumah oleh penduduk sekitar. Setiap pagi, buruh penjahit sapi mengambil bahan baku, dan pada sore hari mengembalikan sapu yang sudah dijahit. ”Pekerja di bengkel kami yang melakukan finishing dan packing,” kata Bambang yang ditemani istrinya Rochimah.

Dikatakan Bambang, konsumen di Taiwan dan Korea, cukup ketat dalam hal kualitas produksi. Setiap biji sapu juga beratnya harus ditimbang dan tidak kurang dari 1,6 ons. Jika kurang, maka langsung ditolak dan masuk kategori afkir. ”Kami melakukan seleksi ketat terhadap produksi sapu yang akan diekspor. Jika tak lolos seleksi kualitas, maka sapu kami lempar untuk konsumen dalam negeri baik lokal maupun di sejumlah kota besar di Indonesia,” ujar Bambang.

Harga satu biji sapu, lanjut Bambang, untuk jenis lakop dengan rata-rata Rp 4.000 per buah, sedang sapu Rayung seharga Rp 7.000/biji. ”Kendala yang masih kami hadapi lebih ke teknis yakni, pengeringan rumput galagah ketika musim hujan tiba. Jika rumput yang digunakan masih basah, maka akan menghasilkan sapu yang lembab. Sapu seperti ini jelas tidak bisa diterima oleh konsumen di luar negeri. Jika memungkikan, pemerintah bisa mendukung peralatan oven untuk mengeringkan rumput glagah,” harap Bambang (BNC/tgr)

Tentang Penulis

1 Komentar so far. Feel free to join this conversation.

  1. Nurcahyo 13/03/2012 pukul 13:28 -

    Saya memiliki banyak bahan baku kembang glagah,apabila membutuhkan bisa hubungi saya d nomor 087733557253

Leave A Response