Musim Bola, Stok Darah di Purbalingga Anjlok

Ditulis 07 Mar 2011 - 15:30 oleh Banyumas1

PURBALINGGA – Musim pertandingan sepak bola sejak akhir tahun 2010 hingga Februari 2011, ternyata sangat mempengaruhi jumlah persediaan darah di Kabupaten Purbalingga. Hal ini karena banyak orang yang begadang semalam suntuk sehingga kondisi fisiknya tidak memungkinkan untuk diambil darahnya.
“Saya saja yang teratur donor darah, kalau pas musim sepak bola, tidak bisa diambil. Biasanya HB-nya rendah,” ujar Semin, PNS di Setda Purbalingga di sela-sela kegiatan Donor Darah di Lobby Setda Purbalingga, Jumat (4/3).

Pernyataan Semin yang juga Bendahara Paguyuban Donor Darah Indonesia (PDDI) yang berdomisili di Kecamatan Bobotsari, dibenarkan Paramedis Teknologi Transfusi darah PTTD) Unit Transfusi Darah Palang Merah Indonesia Purbalingga, Khanifatun. Khanifatun mengungkapkan, dalam tiga bulan terakhir ini, jumlah pendonor memang turun drastis.

”Kalau awal hingga pertengahan tahun lalu dalam sebulan kami bisa mengumpulkan 500-an kantong darah. Tapi dalam tiga bulan terakhir, jumlahnya jauh dibawah itu. Yah sekitar 300-an hingga 400-an kantong darah,” jelasnya.

Jumlah sebanyak 500-an kantong darah itu menurut Khanifatun masih sangat jauh dari idealnya, yakni 800-an kantong darah/bulan. Pada tahun 2008-2009, kata dia, Kabupaten Purbalingga cukup stabil dalam menyediakan darah hingga 700-an kantong.

Persoalannya, menurut Khanifatun, setiap pasien transfusi darah umumnya membutuhkan persediaan darah hingga 3 kantong. Sementara batas maksimal frekuensi mendonorkan darah hanya 3 bulan sekali sebanyak satu kantong.

”Bisa dibayangkan kalau jumlah pendonornya sedikit. Makanya, setiap bulan kami harus keliling dari satu kecamatan ke kecamatan lain, ke kantor-kantor dan ke sekolah-sekolah untuk bis amengumpulkan darah sebanyak-banyaknya,” ungkapnya.

Saat ini, kata dia, masyarakat Purbalingga masih relatif kecil peminat donor darah. Kalaupun berminat banyak juga yang terpaksa tidak bisa diambil karena tekanan darah dan Haemoglobinnya tidak mendukung. Semin mengatakan saat ini baru Kecamatan Bobotsari yang masyarakatnya teratur mendonorkan darahnya setiap 3 bulan sekali. Sayangnya, pesertanya relatif ’ajeg’ tanpa penambahan peserta baru.

”Alasan orang yang sehat fisiknya tapi tidak mau donor darah itu macam-macam. Ada yang takut jarum, ada juga yang takut berat badannya bertambah dan macam-macam alasan lainnya. Tapi kalau saya boleh menganjurkan, sebaiknya yang belum pernah donor darah silahkan beranikan diri donor darah. Percayalah, Anda akan lebih sehat,” tegas Semin. (BNC/cie)

Tentang Penulis

Leave A Response