Reboisasi Untuk Katrol P2 Adipura Purbalingga

Ditulis 03 Mar 2011 - 09:06 oleh Banyumas1

PURBALINGGA – Kabupaten Purbalingga harus menggencarkan reboisasi (penghijauan) untuk bisa mengkatrol nilai menghadapi Penilaian 2 (P2) Penghargaan Adipura Tahun 2011 pada bulan Maret – April 2011. Hasil Penilaian 1 (P1) November 2010 lalu, Purbalingga masih rendah dalam hal keteduhan, terutama di pasar-pasar.

Kepala Kantor Lingkungan Hidup, Drs Ichda Masrianto MSi, Rabu (2/3) mengatakan pada P1, Tim Penilai Penghargaan Adipura mengkritik kondisi pasar-pasar di Purbalingga yang belum teduh. Terutama Pasar Bancar. Sayangnya, kondisi-kondisi pasar di Purbalingga memang sudah tak memiliki lahan untuk ditanami. Sehingga reboisasi yang bisa dilakukan hanya dengan menambahkan pot-pot di berbagai sudut pasar-pasar yang ada di Purbalingga Perkotaan.

“Selain itu, yang menjadi sorotan lainnya terletak pada pengelolaan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang masih terbuka, belum menggunakan teknologi Sanitary Landfill. Tapi, setelah koordinasi dengan DPU sebagai penanggung jawab pengelolaan sampah, DPU mengaku telah menganggarkan untuk pengelolaan berteknologi Sanitary Landfill ini,” imbuhnya.

Sanitary Landfil disebut-sebut sebagai teknologi terkini dalam pengelolaan sampah yang ramah lingkungan dengan menerapkan metode 3R (Reduce, Reuse, Recycyling). Teknologi Sanitary Landfill mengintegrasikan pengolahan sampah terpadu. Sampah yang ada didaur ulang, lalu dimanfaatkan komposnya, dan residu/sisanya dibuang ke penghancuran sampah.

Pengelolaan Sampah Rumah Tangga

Jika sanitary landfill digunakan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), untuk skala rumah tangga cukup menggunakan komposter. Menurut Ichda pihaknya masih terus melakukan sosialisasi melalui para kepala desa/ lurah agar masyarakat terbiasa memisahkan sampah organik dan anorganik untuk mempermudah penerapan metode 3R.

Ichda mengakui untuk membiasakan masyarakat memisahkan sampah organik dan anorganik memang tidak mudah. Perlu sosialisasi terus-menerus tanpa kenal lelah. Sampah organik atau biasa disebut sampah basah, diproses menjadi kompos melalui komposter yang telah tersedia di setiap kelurahan/ desa dan pelatihannya telah dilakukan Kantor Lingkungan Hidup (KLH). Sedangkan sampah anorganik yang masih bisa didaur ulang, dapat dijual ke tukang rongsok.

Menurut Ichda, pada P1 lalu, Purbalingga memperoleh poin 73,39 termasuk bagus karena masih di atas ambang batas kriteria baik, yakni 72. Artinya, selain masalah keteduhan di pasar-pasar dan pengelolaan TPA, Kabupaten Purbalingga memiliki nilai di atas rata-rata peserta Adipura kategori kota kecil.

“Sebenarnya Kabupaten Purbalingga relatif lumayan dibanding kabupaten-kabupaten lainnya dalam P1. Kenyataannya, semua kabupaten/ kota mengalami penurunan pada P1 kemarin dibandingkan penilaian Adipura tahun 2010,” lengkapnya.

Untuk lebih lengkap tentang gambaran P1 Kabupaten Purbalingga, Ichda menambahkan jika tidak ada halangan, pihaknya akan menyelenggarakan Ekspose Hasil Penilaian 1 Penghargaan Adipura Kabupaten Purbalingga 9 Maret mendatang. (BNC/cie)

Tentang Penulis

Leave A Response