15 Warga Purbalingga Tertular HIV/AIDS

Ditulis 17 Feb 2011 - 17:07 oleh Banyumas1

PURBALINGGA РDiam-diam ada sebanyak 15 warga Purbalingga dilaporkan tertular HIV/AIDS. Data hasil evaluasi Tim Komisi Penanggulangan Aids Daerah (KPAD) Propinsi Jawa Tengah menyebutkan pada tahun 2010 di Jawa Tengah telah ada lebih dari 3000 kasus HIV/AIDS. Jumlah pengidap HIV/AIDS paling banyak di Semarang sejumlah lebih dari 600  penderita. Disusul Surakarta lebih dari 500 penderita. Data tersebut bersifat prediksi dimana yang muncul atau terdeteksi hanya 10 persen dari kenyataan yang ada di lapangan.

“Kabupaten tetangga kita yakni kabupaten Banyumas terdapat lebih dari 400 penderita dan kabupaten Cilacap lebih dari 300 penderita. Sedangkan di kabupaten Purbalingga telah ada 15 penderita HIV/AIDS,” ungkap Assisten Sekda bidang Pembangunan¬† Kodadiyanto saat mewakili Bupati Purbalingga membuka Seminar Membentuk Karakter dan Watak Kepribadian di Aula Uswatun Hasanah kantor Kementerian Agama kabupaten Purbalingga, Rabu (16/2).

Kodadiyanto yang juga ketua KPAD kabupaten Purbalingga berharap kasus HIV/AID di Purbalingga tidak bertambah. Untuk mencegah berkembangnya penyakit yang belum ada obatnya ini, KPAD telah melakukan beberapa upaya. Antara lain menyebarkan brosur, memasang baliho di tempat-tempat strategis, sosialisasi di berbagai pertemuan. Dia minta para tokoh agama menyisipkan bahaya HIV/AIDS dalam ceramahnya.

“Perlu kami ingatkan, bukan tidak mungkin banyaknya penderita di dua kabupaten tetangga ini bisa berimbas ke Purbalingga melalui penularan. Ini berkaitan dengan moral. Karena ini kami harapkan semua pihak melakukan penyuluhan agar jumlah penderita HIV/AIDS di Purbalingga tidak bertambah,” katanya.

Ketua DPK Keluarga Besar Marhaenis kabupaten Purbalingga Trisnanto Srihutomo mengatakan, berbagai peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini seperti banyaknya kasus suap, perilaku tidak senonoh dan peniongkatan kasus AIV/AIDS harus distop. Persoalan yang menyangkut karakter dan moral harus diselesaikan bersama.

Trisnanto mengusulkan tiga langkah untuk mengatasi problema pembentukn karakter dan kepribadian yakni selalu memperbaiki diri menjadi pribadi panutan, memberikan bekal kepada anak kecakapan hidup (live skill) dan melaksanakan Nation and Caracter Building sebagai mana diwariskan pendiri bangsa.

Sementara itu pembicara lainnya yakni anggota DPRD Purbalingga dokter Mulyadi mengajak para peserta mampu memperbaiki karakter dan ahlak dari dirinya sendiri.

“Mesti bertahap. Namun tahapan pertama justru dari memperbaiki diri sendiri dulu. Kemudian keluarga dan lingkungan. Meski sedikit-sedikit harus diawali dari diri sendiri dulu,” katanya.

Mulyadi yang juga ketua Forum Persaudaraan Bangsa Indonesia (FPBI) mengkritik Kementerian Agama dalam upayanya membentuk karakter dan watak bangsa. Menurut Mulyadi juru dakwah semestinya tidak hanya menyampaikan surga dan neraka saja. Tapi bagaimana ahlak/moral umat dapat dibina melalui hubungan horizontal antar manusia, juga harus terus digaungkan.

Seminar Membentuk Karakter dan Watak Kepribadian dilaksanakan kantor Kementerian Agama Purbalingga selama sehari, diikuti 80 peserta. Mereka terdiri dari dinas/instansi, ormas islam, kepala KUA, penyuluh agama dan petugas pembantu pencatat nikah.(BNC/hr)

Tentang Penulis

Leave A Response