Rumah Tak Layak Huni di Purbalingga Tinggal 2.700


Purbalingga – Pemerintah kabupaten (Pemkab) Purbalingga tahun 2011 ini akan  merenovasi 717 rumah warga yang tidak layak huni, melalui Program Stimulan Perbaikan Rumah Keluarga Miskin (PSPR Gakin). Dana stimulan yang dialokasikan dari APBD tahun 2011 itu masing-masing Rp 2,5 juta per rumah.

Kepala Bappeda Purbalingga Ir Setiyadi MSi mengungkapkan, implementasi  kebijakan dasar PSPR Gakin berupa hibah dana stimulan dari pemkab kepada keluarga miskin yang diserahkan dalam bentuk kegiatan pemugaran rumah,  bukan uang atau material. Dengan dana stimulan itu, warga yang bersangkutan dipacu agar mengalokasikan dana swadaya untuk memperbaiki rumahnya yang tidak layak huni menjadi hunian sehat.

“PSPR Gakin merupakan upaya mempercepat penanggulangan kemiskinan melalui peningkatan swadaya, prakarsa dan partisipasi masyarakat,” ujar Setiyadi.

Sasaran program PSPR Gakin, yakni keluarga miskin yang karena alasan ekonomi, tidak mampu memenuhi kebutuhan rumah sehingga terpaksa menempati rumah yang tidak layak huni. Penentuan penerima program didasakan pada  hasil musyawarah desa.

Setiap desa dan kelurahan diwajibkan berkontribusi melalui swadaya masyarakat. Wujudnya  berupa tenaga kerja, material, uang tunai, konsumsi, dan lainnya. Swadaya bahan bangunan, uang tunai dan konsumsi diutamakan berasal dari masyarakat mampu di sekitar penerima program.

“Hasil pendataan pada 2003, di Purbalingga terdapat  14.340 rumah tidak layak huni. Hingga akhir 2010, pemkab sudah merenovasi 11.640 rumah. Tahun ini akan dilakukan renovasi 717 rumah. Artinya masih tersisa 1983 rumah lagi. Sisa rumah itu akan direnovasi pada tahun-tahun mendatang,” ujar Setiyadi.

Seperti diberitakan sebelumnya, PSPR Gakin dimulai pada 2003 lalu. Bupati Purbalingga saat itu, Drs Triyono Budi Sasongko MSi terinspirasi oleh kasus jagal mayat, Sumanto yang mengguncang dunia pada Pebruari 2003. Seorang laki-laki warga Desa Palumutan kecamatan Kemangkon, menggali kuburan, mencuri mayat wanita dan membawa ke rumahnya. Laki-laki sangar itu memotong-motong daging mayat wanita itu, memasak dan menyantapnya.

Ketika kisah kanibalisme masih hangat menjadi bahan obrolan dimana-mana, Bupati Purbalingga saat itu, Triyono Budi Sasongko menangkap fenomena Sumanto dari aspek yang berbeda.Yakni kemiskinan. Ketika meninjau rumah Sumanto di Desa Palumutan, Triyono tersentak menyaksikan tempat tinggal Sumanto yang dinilainya seperti kandang ternak. (BNC/yol)

Leave a Reply

Your email address will not be published.