Kurangi Sedimentasi, Indonesia Power Upaya Pelestarian Lingkungan

Ditulis 31 Jan 2011 - 21:44 oleh Banyumas1

BANJARNEGARA – PT. Indonesia Power UPB Mrica melalui Program Community Development arahkan prioritas kebijakannya untuk membantu mengatasi krisis dampak lingkungan. Sampai saat ini kurang lebih 165 ribu bibit pohon beragam jenis telah tersebar di tengah masyarakat, baik yang langsung dikerjakan oleh perusahaan maupun melalui hubungan kemitraan. “Untuk wilayah dataran tinggi Dieng kita telah membantu kurang lebih dari 20 ribu bibit Eucalyptus. Ke depan kita akan mengarahkan bantuan bibit pohon Carica, selain untuk penahan erosi nilai ekonomisnya juga tinggi” kata Gunawan, Humas PT. Indonesia Power UPB Mrica, Senin (31/01) di kantornya.

Selain upaya bantuan bibit, lanjutnya, Indonesia Power juga mendirikan Sekolah Lapang konservasi yang bertujuan untuk mengubah budaya tanam petani dari budidaya tanam yang resiko erosi tinggi kepada budaya tanam ramah lingkungan. Lokasinya dilaksanakan di daerah tangkapan air atau daerah yang produksi sedimentasinya tinggi. “Umumnya daerah tersebut ada di wilayah sub DAS Kaliurang yang merupakan hulu sungai yang muaranya mengarah ke Sungai Serayu sungai induk Bendungan Mrica” katanya.

Sekolah Lapang, lanjutnya, mengenalkan perubahan dasar dalam bercocok tanam yang dilakukan dengan menggunakan system terasing dan dengan kemiringan lahan ke dalam. “Dengan pola tanam tersebut air tidak langsung mengalir deras ke bawah mengikuti kemiringan lahan hingga mengikis tanah tapi mengarah ke dalam mengaliri lahan” katanya.

Keuntungan lain, lanjutnya, pupuk tanaman juga tidak terhanyut percuma lari ke sungai hingga berakibat tingginya polusi air oleh pencemaran pupuk kimiawi. Untuk memperkuat struktur tanam kita mengenalkan tumbuhan kopi jenis robusta.

Agaknya untuk mengenalkan prospek tanaman baru ini, lanjut Gunawan, petani memerlukan contoh nyata. Pengalaman kami, lanjutnya, jika mereka sudah melihat contohnya atau ada yang berhasil akan ditiru oleh warga lainnya. Menyadari pentingnya keteladanan bagi masyarakat tani, maka kami mengirim ketua Sekolah Lapang untuk melakukan kunjungan atau istilah mentereng studi banding ke perkebunan kopi petani di Medan. “Hasilnya luar biasa. Semangat meningkat dan warga di luar kelompok juga mulai bergabung” katanya.

Dari ke enam Sekolah Lapang tersebut dua telah selesai yaitu Kubang dan Leksana di Wanayasa. Empat yang masih berjalan di wilayah Karangkobar yaitu Sekolah Lapang di Jlegong, Susukan, Pagerpelah dan Karanggondang. Setiap kelompok beranggotakan 25 orang dan mempunyai lahan binaan seluas 8 ha. “Yang menarik anggota masing-masing kelompok ini terdiri dari laki-laki, perempuan dan para pemuda-pemudi. Jadi majemuk” katanya.

Dengan anggota yang majemuk tersebut, kata Gunawan, kami mempunyai keuntuntan bahwa persebaran pengetahuan ini meluas. Tidak hanya untuk satu golongan anggota masyarakat. “Harapanya ke depan, pelestarian lingkungan ini terus berlanjut tidak berhenti pada satu program dan satu generasi” katanya.

Terpisah Bupati Drs. Ir. Djasri, MM, MT memberikan apresiasi yang tinggi terhadap perusahaan yang mau berpartisipasi dalam program pelestarian lingkungan. Masalah lingkungan ini, katanya, bukan menjadi tanggung jawab pemerintah an sich. Tetapi merupakan tanggung jawab pemerintah dan seluruh warga.

“Penanganan masalah lingkungan jangan terjebak pada masalah ada atau tidak ada anggaran, meski hal tersebut penting. Tetapi pikirkanlah bahwa masalah lingkungan ini merupakan masalah tanggung jawab kita terhadap masa depan. Apa yang terjadi bila semua pohon telah tumbang dan bencana terjadi di sana-sini” katanya.

Oleh karena itu, lanjutnya, upaya pelestarian lingkungan ini selalu kita lakukan. Saya minta warga di dataran tinggi Dieng dan sekitarnya untuk mengembangkan pola bercocok tanam yang ramah lingkungan. Selain itu saya juga menganjurkan pemakaian pupuk berimbang. Meski begitu, hal ini tentu bukan perkara mudah, katanya, karena pertanian kentang yang banyak menggunakan pupuk tinggi menjadi sumber ekonomi menguntungkan warga masyarakat. “Kenyataan ini tentu harus kita cermati juga, tidak bisa kita menganjurkan warga untuk beralih bercocok tanam tapi tidak diberikan solusi. Pada hematnya, upaya ini memerlukan tanaman pertanian yang bernilai tinggi selain tanaman kentang tapi yang lebih ramah lingkungan” katanya.

Untuk wilayah perkotaan saya tegas menginstruksikan kepada jajaran saya dan warga, bila tebang satu pohon maka harus menanam sepuluh pohon. “Mulanya perintah saya ini diprotes oleh warga di pinggir jalan yang memiliki usaha, tapi lama-lama mereka mau menerima dan menyadari pentingnya pohon untuk kehidupan” katanya.

Sementara itu, Slamet Sawijaya dari Kelompok Pecinta Lingkungan Wijaya Kusuma desa Karangtengah Kecamatan Batur menyatakan bila usaha pertanian di Dataran Tinggi Dieng tidak terkendali akan membawa bencana lingkungan yang cukup riskan yaitu tercemarnya lingkungan oleh pupuk kimiawi. Ia mencontohkan desa Karangtengah yang warganya terpaksa mengambil air sejauh 20 Km ke desa Kabupaten Kendal. “Air di desa kami bau dan berasa asam” katanya.

Sedimentasi

Berkait dengan proses sedimentasi di Waduk Panglima Besar Sudirman atau Waduk Mrica ini, Gunawan menambahkan, bahwa sedimentasi Waduk Mrica saat ini telah mencapai 92,015 juta/m3 dengan laju sedimentasi 4,2 juta m3 per tahun. “Kalau dihitung setara dengan 2000 muatan truk setiap harinya” katanya.

Bila hal ini terus dibiarkan terjadi tanpa upaya untuk mencegahnya, imbuhnya, maka diperkirakan pada tahun 2014 sedimentasi di Waduk Mrica akan penuh. Kekhawatiran utama terjadinya sedimentasi adalah Pembangkit Listrik beroperasinya dengan system Full of River. Itu artinya, bila air ketinggiannya mencukupi Turbin jalan, bila tidak turbin berhenti. “Ini tentu sangat merugikan operasional pembangkit dan juga kebutuhan listrik nasional” katanya.

Oleh karena itu, untuk mengantisipasi tingginya sedimentasi lumpur di Waduk Mrica ini, Indonesia Power telah membuat Pintu Penguras Lumpur di depan In Take atau pintu turbin. “Pintu Penguras Lumpur ini merupakan satu-satunya di Indonesia” katanya.

Kasus tingginya sedimentasi atas waduk untuk pembangkit listrik di Indonesia pernah terjadi di Wadung Wlingi dan Senggaru di Jawa Timur sera Riam Kanan di Wilayah Kalimantan. Untuk mengatasinya dilakukan pengerukan lumpur (BNC/eko).

Tentang Penulis

Leave A Response