Tujuh Kelurahan/Desa di Purbalingga Masuk Kategori Resiko Sanitasi Sangat Tinggi

Ditulis 08 Des 2010 - 19:11 oleh Banyumas1

Purbalingga – Sebanyak tujuh dari tiga kecamatan di Kabupaten Purbalingga
tergolong resiko sanitasi sangat tinggi. Kesimpulan ini didasarkan hasil penelitian di 22 kelurahan/ desa di empat kecamatan (Purbalingga, Kalimanah, Kaligondang, Padamara) dengan membandingkan skor penilaian data Survei Penilaian Resiko Kesehatan Lingkungan (Environmental Health Risk Assessment – EHRA), data sekunder dan persepsi stakeholders yang diwakili para pimpinan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD).

“Kelompok kerja sanitasi membandingkan skor ketiga data itu dari hasil penilaian terhadap kondisi sanitasi seperti penanganan sampah dan kebersihan lingkungan, air jamban dan jamban keluarga, saluran air kotor serta air bersih,“ ujar Kepala Bappeda Kabupatem Purbalingga Ir Setiyadi MSi dalam Lokakarya/ Konsultasi Publik Buku Putih Sanitasi Kabupaten Purbalingga di Aula Bappeda, Rabu (8/12).

Ketujuh kelurahan/ desa yang dimaksud antara lain Kelurahan Karangsentul (Kec. Padamara), Desa Lamongan, Desa Toyareja, Kelurahan Purbalingga Lor, Kelurahan Purbalingga Wetan dan Kelurahan Penambongan (Kec. Purbalingga) dan Desa Selabaya (Kec. Kalimanah). Studi EHRA, kata dia, sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan data bagi pembangunan sanitasi yang harus menyesuaikan dengan kondisi wilayah setempat, sekaligus untuk memecah persoalan keterbatasan data.

Penelitian ini kemudian dilaporkan dalam Buku Putih Sanitasi Kabupaten
Purbalingga yang memberikan gambaran secara global kondisi sanitasi di kota perwira ini. Beberapa kesimpulan hasil penelitian yang menonjol antara lain belum optimal dan terintegrasinya penanganan sanitasi dan sampah, kesadaran pengelolaan sanitasi dan PHBS yang rendah, kebutuhan air bersih yang telah tercukupi meskipun mengalami kebocoran, belum adanya unit instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT), dan volume sistem drainase yang tidak bertambah. Penelitian ini juga sangat bermanfaat untuk menentukan teknologi terbaik dalam pengelolaan sanitasi.

“Untuk menentukan pilihan teknologi sanitasi yang akan diterapkan, seluruh
kelurahan atau desa diklasifikasikan berdasarkan area urban, peri-urban dan
rural,” tambahnya.

Penentuan klasifikasi ini, kata dia, didasarkan kepadatan populasi sebagaimana acuan dari World Bank Policy Research Paper. Untuk 22 desa/kelurahan di empat kecamatan yang menjadi wilayah penelitian,
hanya mencakup dua areal yakni area urban dan peri urban. Yang dimaksud area urban bila kepadatan lebih dari 125 orang/ha seperti Purbalingga Kulon,
Purbalingga Lor, Kandanggampang dan Purbalingga Kidul. Sementara untuk area peri-urban jika kepadatan berkisar antara 25-125 orang/ha, seperti Purbalingga Wetan, Bancar, Penambongan, Kalikabong, Babakan, Karangsentul, Kembaran Kulon, Wirasana, Kalikajar, Penaruban, Jatisaba, Kedungmenjangan, Mewek, Bojong, Toyareja, Lamongan, Selabaya, dan Karangmanyar.  (BNC/c)

Tentang Penulis

Leave A Response