Tidak Boleh Ada Paksaan dalam Agama

Yogyakarta – Staf pengajar STF Driyakara Prof. Dr. Franz Magnis Suseno menyatakan, masyarakat Indonesia sudah memiliki kemampuan toleransi yang mendalam. Meski belum sempurna, toleransi dalam masyarakat tersebut dinilai cukup baik dibanding negara-negara lain.

“Hal itu dibuktikan dengan banyaknya pulau, pelabuhan dan kota perdagangan. Di daerah-daerah itu orang sebenarnya tidak saling mengenal dan berbeda. Seperti di Malaka dan Aceh, itu sebenarnya kota internasional karena perdagangannya bukan kota tertutup yang fanatik,” ujar Prof. Dr. Franz Magnis Suseno pada Workshop “Managing Multiculturalism: Complexities and Contradictions”, Rabu (8/12).

Dalam pandangan Magnis Suseno toleransi tidak hanya sebagai budaya, namun merupakan keyakinan bahwa dalam agama tidak boleh ada paksaan. Bahwa dalam pergaulan semua diharapkan bisa saling menghormati satu dengan yang lain.

Meski melingkupi permasalahan yang kompleks, toleransi ini berkaitan dengan rasa tahu diri dan sikap tenggang rasa. Dalam pandangan staf pengajar STF Driyakara, ini toleransi terus mengalami tantangan. Tantangan-tantangan tersebut jika tidak ditangani oleh banyak pihak seakan-akan bisa mencekik toleransi itu sendiri. Tantangan tersebut diantaranya suasana kompetisi yang sangat keras, terutama kondisi ekonomi yang dialami masyarakat berpendapatan rendah, karena masyarakat inilah yang saling bersaing keras untuk bisa hidup dan maju. Sementara di pihak lain muncul ideologi-ideologi ekslusivisme.

“Kebersamaan memang sebagai solusi, namun hal itu tidak sekedar di omongkan namun perlu banyak dipraktekkan. Banyaknya forum bisa menjembati hubungan antar agama di Indonesia dan itu yang menjadikan semuanya lebih baik dibanding dulu, misalnya hubungan umat Kristiani dan Islam yang semakin bertambah dalam bertoleransi,” jelasnya di Batik Winotosastro Yogyakarta.

Oleh karena itu nilai-nilai kearifan lokal seperti dalam adat dan kebiasaan serta cara berbicara menjadi faktor yang sangat penting. Hal-hal semacam itulah yang harus dimanfaatkan tidak hanya berdasar pada prinsip-prinsip seperti hak asasi manusia, namun kearifan lokal yang berada di tingkat akar rumput harus dibaca. “Dulu saya di Jogja empat tahun bisa mendapatkan peran rasa, olah rasa, tenggang rasa dan saling menghormati sikap. Hal-hal semacam inilah yang akhirnya mendorong ke arah toleransi. Dulu memang ada tapi ko sepertinya sekarang tidak diangkat, jaman pak Harto sudah ada tapi kebijakannya justru berkebalikan,” tambah Magnis.

Pengalaman sebagai rohaniawan, Frans Magnis Suseno menilai hubungan Islam dan Kristen dalam hal-hal tertentu saat ini jauh lebih baik dibanding masa lampau. Bahkan hubungan tersebut jauh lebih erat dibanding 60 tahun lalu saat kedatangannya di Indonesia.

“Enam puluh tahun yang lalu seorang romo tidak kenal dengan seorang Kyai dalam sebuah pondok pesantren, sekarang hubungan dengan NU dan Muhammadiyah jauh lebih erat. Karena bisa menepis yang negatif-negatif dan menumbuhkan kepercayaan meski permasalahan yang dihadapi sangat kompleks,” terangnya.

Selain Frans Magnis Suseno, Workshop dalam rangkaian kegiatan World Conference on Culture, Education and Science ini menampilkan beberapa pembicara lain, diantaranya Prof. Dr. Judith Schlehe (Jerman), Dr. Mulyadi, M.Si (UNIPA, Manokwari), Ali Abdel Moneim, B.S., Dip., M.Si (UII), Umar Hadi, Prof. Dr. Muchtar Ahmad (Universitas Riau), Prof. Santosa, Ph.D (ISI Surakarta), Prof. Dr. Paul Morris (Director for Religious Studies at Victoria University of Wellington, New Zealand), Prof. Dr. P.M. Laksono (UGM), Dr. Jean Couteau (Perancis), Dr. Dwia Aries Tina Pulubuhu, M.A (Universitas Hasanuddin, Makasar) dan Dr. Rimbawan (IPB, Bogor). (BNC/tg)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.