‘Wartawan Kok Jualan Kaos dan Taplak Meja’

Bakohumas-radarPURBALINGGA – Profesi wartawan kembali dipertaruhkan oleh oknum-oknum yang ingin mencari keuntungan pribadi. Wartawan yang satu ini tidak berniat mencari berita, tetapi justru menjual kaos, taplak, atau meminta sumbangan bantuan untuk bencana alam. Ada lagi modus wartawan yang mengancam dan buntutnya bisa ditebak, meminta sejumlah uang.

Hal tersebut terungkap dalam pertemuan Bakohumas tingkat Kabupaten Purbalingga yang digelar oleh Bagian Humas Setda di Ruang Operation Room Graha Adiguna, Senin (6/12).  Pertemuan Bakohumas tersebut menghadirkan Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Perwakilan Jateng VI Supriyanto Suparjo, S.Sos, S.Pt, kemudian Kasi Penyuluhan Pajak Kantor Pelayanan Pajak Pratama Purbalingga, Agus,  Kabid Pemerintahan dan Kesra Bappeda Drs Umar Fauzi, M.Kes, dan Kabag Humas Drs Rusmo Purnomo. Acara yang dimoderatori oleh Kasubag Pemberitaan & Media Massa Bagian Humas Ir Prayitno, M.Si, diikuti oleh 69 orang anggota Bakohumas dari seluruh instansi di jajaran Pemkab Purbalingga, BUMD, dan instansi vertical lainnya.

Sesi diskusi yang paling menarik ketika membahas soal banyakanya ‘Wartawan ‘bodreks’ yang beraksi di wilayah pedesaan. “Bagaimana cara yang tepat untuk menghadapi wartawan bodreks. Mereka memang punya surat kabar, tapi tidak beredar di Purbalingga. Mereka dating, tidak mengkonfirmasi berita, tapi justru untuk kepentingan lain. Intinya, mereka mencari uang,” kata Dwi Argo, anggota Bakohumas dari Kecamatan Karangmoncol.

Dwi menuturkan, di wilayah Kecamatan Karangmoncol, sudah didatangi tiga orang wartawan yang medianya tidak beredar luas di Purbalingga. Kedatangan mereka seperti sudah tidak bersahabat sejak awal. “Saya lihat dengan mata kepala saya sendiri, mereka bertiga berhasil meminta sejumlah uang kepada seorang kades.  Ternyata, beberapa waktu kemudian, saya kembali mendengar wartawan ini berulah, dengan lokasi di desa lain di Karangmoncol,” kata Dwi.

Hal senada juga diungkapkan Kusningah, anggota Bakohumas dari Kecamatan Pengadegan. Hanya saja, modusnya sedikit berbeda. Wartawan ini ada yang berdalih meminta sumbangan untuk korban bencana alam. Ada lagi yang menjual kaos dan taplak meja secara paksa. ”Saya sebenarnya sungkan menghadapi wartawan seperti ini. Mereka tidak butuh berita, tapi hanya mau menjual kaos atau taplak meja secara paksa. Sudah barang yang dijual jelek, harganya mahal lagi. Malah mintanya minimal dibeli dua biji,” kata Kusningah.

Kusningah juga mengaku sempat diperdayai oleh wartawan tersebut. Mereka memaksa untuk meminta cap stempel yang disebutnya sebagai tanda kehadiran ke kantor kecamatan. ”Eh.. tak tahunya, stempel itu dijadikan alat untuk menemui kepala desa di wilayah Pengadegan, denga maksud yang tentunya sama, jualan kaos, taplak atau meminta sumbangan bencana,” kata Kusningah.

DSC_0022

Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Tengah 6, Supriyanto, S.Sos SPT meminta agar masyarakat, pengusaha maupun birokrat tak
perlu takut dengan wartawan. Jika ada indikasi profesi waratwan dijadikan modus penipuan dan pemerasan, Supri meminta agar korban atau calon korban segera melapor kepada yang berwajib.

“Kalau kita tak memiliki kesalahan, kenapa mesti takut menghadapi wartawan?! Wartawan juga manusia yang mempunyai hak dan kewajiban
terhadap media dimana dia bekerja, organisasi yang menaunginya dan masyarakat,” tegas Supri.

Supri sangat menyayangkan banyaknya media yang tidak jelas keberadaannya dan merekrut wartawan dengan cara membayar biaya untuk pencetakan kartu identitas yang disebutnya sebagai kartu pers. ”Pokoknya jangan takut menghadapi wartawan yang meminta stempel, memeras, atau menjual kaos, taplak meja, dan sejenisnya. Tolak saja. Wartawan tugasnya mencari berita sesuai kde etik jurnalistik, bukan untuk memeras atau berjualan,” tegas Supriyanto. (BNC/tgr)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.