Meliput Penambangan Emas, Sekelompok ‘orang brutal’ Serang Wartawan

Ditulis 07 Des 2010 - 11:43 oleh Banyumas1
BRUTAL: Sekelompok orang dengan mulut bau alkohol menyerang wartawan TransTV, Kusworo, Sabtu (04/12) (foto:dok/BNC)

BRUTAL: Sekelompok orang dengan mulut bau alkohol menyerang wartawan TransTV, Kusworo, Sabtu (04/12) (foto:dok/BNC)

BANYUMAS- “Pas waktu Magrib, sejumlah orang dengan mulut bau alkohol tiba tiba menyerang saya dan saya memilih menghindar,” ujar Kusworo (44), wartawan TransTV yang nyaris dihakimi massa saat meliput tewasnya penambang emas di Desa Cihonje Kecamatan Gumelar Banyumas, Jawa Tengah, Sabtu (04/12). Kusworo mengaku tak bisa membayangkan jika dia tetap berada di lokasi tersebut. Karena sekitar 50 orang yang brutal yang sebagian membawa kayu itu mengejarnya hingga ke jalan raya. Mereka memaki maki dan meneriaki wartawan.

” Kebetulan saya yang membawa lampu kamera, jadi begitu melihat lampu menyala, mereka langsung mengejar saya. Teman teman
berhasil menghindar,” tutur Kusworo. Tiga wartawan teve lainnya, Sonik Jatmiko (Anteve), Saladin Ayyubi (MNC) dan Darbe Tyas (Metroteve) serta dua wartawan surat kabar ,Susanto (Suara Merdeka) dan Agus (Radar Banyumas) buru buru menjauhi lokasi. Namun apes bagi Kusworo, dia yang masuk ke rumah warga akhirnya disandera. Mereka yang sudah beringas ini berusaha menghakimi Kusworo” Kamera saya langsung dirampas,” tutur Woro, saat melapor ke Mapolres Banyumas.

Beruntung seorang anggota polisi berpakaian preman datang tepat waktu dan berusaha menenangkan warga. Meski begitu, suasana
tetap tegang. Bahkan massa seperti tidak perduli dengan beberapa polisi dari Polsek Gumelar yang ada di lokasi. ” Aneh,
mereka seperti gak takut ada polisi disini,” tutur Kusworo. Kamera yang sempat dirampas itu diminta anggota polisi tersebut.

Pada saat massa berusaha mendekat Kusworo, tiba tiba muncul petugas berseragam TNI. Petugas yang diketahui seorang anggota
Koramil ini langsung merangsek ke tengah puluhan orang yang mengerumuni Kusworo. Kehadiran anggota TNI ini membuat mereka
ciut dan satu persatu pergi.

Untuk menghindari hal hal yang tak diinginkan, Kusworo, Agus dan Susanto diamankan di rumah warga. Sementara tiga wartawan

lain berupaya menghubungi pihak keamanan . ” Saya sungguh tak bisa berbuat banyak karena kondisi di lokasi yang tak konsudif dan segera melakukan langkah menghubungi pihak keamanan,” ujar Sonik Jatmiko yang dibenarkan Saladin Ayyubi. Tak berapa lama kemudian puluhan aparat Polres Banyumas tiba di lokasi mengamankan situasi.

Sejumlah warga menuturkan, insiden itu terjadi karena selama ini mereka tak menginginkan kegiatan penambangan itu diliput.
” Maklum penambangan disini tidak memiliki ijin, jadi mereka takut jika diliput yang akhirnya takut ditutup,” ujar Wargo warga setempat.  Kalau mau meliput, lanjut Wargo, harus sama pejabat dari Purwokerto atau polisi, agar aman.

TANPA IJIN JALAN TERUS: Meski ilegal dan telah memakan korban jiwa, penambangan di Desa Paningkaban dan Cihonje Gumelar jalan terus (foto:tia/BNC)

TANPA IJIN JALAN TERUS: Meski ilegal dan telah memakan korban jiwa, penambangan di Desa Paningkaban dan Cihonje Gumelar jalan terus (foto:tia/BNC)

Kalangan pers menyesalkan insiden tersebut. Minggu (05/12) malam sejumlah anggota PWI Banyumas dan Komunitas Jurnalis Televisi dan
Photografi (KJTP) Purwokerto,  menggelar rapat mendadak. “Ini sebuah pelanggaran hukum, penghadangan, menghalang halangi kerja wartawan apalagi merampas kamera,” ujar Khoerudin Islam, wartawan senior Suara Merdeka.

Menurut Khoerudin, perlu ada sosialisasi agar masyarakat tahu kerja wartawan. Bahwa wartawan bekerja dilindungi undang undang. Siapapun yang menghalang halangi bisa dikenai sanksi pidana. ” Mereka harus kita beritahu tentang masalah tersebut,” tambah Khoerudin.

Kordinator Komunitas Jurnalistik Televisi dan Photografi (KJTP) Purwokerto, Nanang Anna Noor meminta semua pihak untuk saling menghargai. Menurut Nanang, insiden yang nyaris mencelakakan wartawan TranTV ini bisa terjadi kepada siapa saja semua pekerja pers. Perisitiwa itu merupakan preseden buruk bagi dunia pers yang untuk kesekian kalinya. ” Ini terjadi karena kurangnya pemahaman hukum terhadap kerja jurnalis. Karenanya itu kita harus bersikap arif, dengan memberikan pemahaman bagi mereka yang belum paham fungsi
pers,” kata Nanang.

“Jika masih sebatas pelanggaran kecil bisa kita toleransi dengan solusi yang arif. Namun jika sudah mengarah pada tindak pidana, mari kita selesaikan melalui prosedur hukum yang berlaku,” tambah Nanang yang juga wartawan Indosiar ini (puh/BNC)

Tentang Penulis

1 Komentar so far. Feel free to join this conversation.

  1. Nurudin SH 07/12/2010 pukul 14:29 -

    Aksi kelompok orang yang menyerang watawan, sebuah pelanggaran hukum yang fatal. Apalagi mereka tengah mengkonsumsi alkohol. Polisi dapat menjerat mereka dengan dua ancaman. Pelangaran UUD Pers dan tindak pidana perbuatan tidak menyenangkan. Bisa juga dijerat dengan penggunaan Miras. Dari berita tersebut terlihat indikasi ada yang memobilisasi sekelompok orang tersebut. Nah itu tugas polisi mengusutnya. Semoga mereka bisa bersikap independen meski ikut menikmati ‘ setoran” penambangan tersebut

Leave A Response