Status Gunung Merapi Turun ke “Siaga’

Letusan Merapi Senin 1 Nop 2010Yogyakarta – Status aktivitas Gunung Merapi mulai Jum’at (3/12) pukul 09.00 WIB statusnya diturunkan dari ’Awas’ menjadi ‘Siaga’.  Penurunan status ini dengan memperhatikan aktivitas gunung yang menurun. Meski demikian, dalam tingkat ‘Siaga’, Merapi masih berpotensi adanya ancaman bahaya primer berupa erupsi dengan awan panas dan lontaran material pijar.

“Perkiraan jika terjadi aliran awan panas akan mengarah ke sektor selatan meliputi Kali Gendol, Kali Kuning dan Kali Boyong. Sedang Potensi bahaya sekunder berupa lahar hujan dapat terjadi di semua alur sungai yang berhulu di Gunung Merapi,” kata Kepala Pusat Pusat Vulkanologi dan Mitigasi, Badan Geologi Kementerian Energei dan Sumberdaya Mineral (ESDM), Dr Surono di Yogyakarta, Jum’at (3/12).

Status Merapi sebelumnya ditingkatkan dari ’Aktif Normal’ menjadi ’Waspada’ pada tanggal 20 September 2010. Kemudian ditingkatkan menjadi ’Siaga’ pada 21 Oktober 2010 dan menjadi ’Awas’ pada 25 Oktober 2010 pukul 06:00 WIB. ”Erupsi pertama terjadi pada 26 Oktober 2010 pukul 17:02 WIB kemudian disusul dengan rangkaian erupsi lainnya dengan erupsi terbesar terjadi pada tanggal 5 November 2010,” kata Surono.

Dikatakan Surono, dengan penurunan status aktivitas Merapi menjadi ’Siaga’ kepada para pemangku kepentingan dalam penanggulangan bencana Merapi direkomendasikan untuk tidak ada kegiatan di daerah Kawasan Rawan Bencana III G. Merapi dalam radius 2.5 km dari puncak G. Merapi. Lebih khusus pada KRB III sementara di wilayah Kecamatan Cangkringan, Kecamatan Ngemplak dan Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman.

Wilayah bahaya lahar, lanjut Surono, berada pada jarak 300 meter dari bibir sungai yang berhulu di puncak G. Merapi meliputi K. Woro (Kab. Klaten), K. Gendol, K. Kuning, K. Boyong (Kab. Sleman), K. Bedog, K. Krasak, K. Bebeng, K. Sat, K. Lamat, K. Senowo, K. Trising (Kab. Magelang), dan K. Apu (Kab. Boyolali). Pada saat terjadi hujan di sekitar G. Merapi, guna mengurangi risiko bahaya lahar hujan, masyarakat tidak melakukan kegiatan pada wilayah bahaya lahar tersebut.

”Karena banyak pemukiman penduduk yang terlanda awan panas, maka Pemerintah daerah agar melakukan penataan ruang ulang dengan mengacu pada Peta Kawasan Rawan Bencana Gunung Merapi yang dikeluarkan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral,” jelas Surono.

Surono juga meminta agar masyarakat tidak terpancing isu-isu mengenai erupsi Merapi yang tidak jelas sumbernya dan tetap mengikuti arahan aparat pemerintah daerah atau menanyakan langsung ke Pos Pengamatan Gunung Merapi terdekat atau ke kantor BPPTK, Jalan Cendana No. 15, Yogyakarta, telefon: (0274) 514180.

Surono juga mengingatkan, Volume endapan material erupsi Gunung Merapi tahun 2010 sekitar 150 juta m3 yang jika terjadi hujan dengan intensitas tinggi berpotensi menyebabkan aliran lahar hujan yang dapat mengancam pemukiman penduduk serta masyarakat yang beraktivitas di bantaran sungai-sungai yang berhulu di Puncak Merapi. Secara umum, endapan lahar telah teramati di semua sungai yang berhulu di puncak Merapi dari arah Tenggara, Selatan, Barat Daya, Barat, hingga Barat Laut, meliputi K. Woro, K. Gendol, K. Kuning, K. Boyong, K. Bedog, K. Krasak, K. Bebeng, K. Sat, K. Lamat, K. Senowo, K. Trising, dan K. Apu.

”Telah tercatat beberapa kejadian banjir lahar yang diantaranya menyebabkan kerusakan pada beberapa jembatan,” kata Surono. (BNC/tg)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.