Buah Ciplukan Tekan Pertumbuhan Sel Kanker

Yogyakarta – Masyarakat perdesaan sudah tak asing lagi dengan buah Ciplukan, yang banyak ditemukan di perladangan saat musim kemarau sehingga seringkali dianggap sebagai tanaman liar yang tidak berguna. Bahkan dianggap sebagai buah biasa. Namun, siapa sangka, jika Ciplukan (Physallisa angulata L) ternyata memiliki efek sitotoksik yang mampu menekan pertumbuhan sel kanker secara in vitro.

Mahasiswa Fakultas Farmasi UGM, Amelianda Monikawati mengatakan, Ciplukan mengandung senyawa Fisalin dan Withanolid yang  dari berbagai laporan disinyalir mengandung aktivitas antikanker. Pun, bersifat sitotoksik pada beberapa sel kanker, mampu menghambat pertumbuhan sel kanker payudara MDA-MB 231, sel adenokarsinoma paru NCL-H23, sel leukimia, serta memiliki aktivitas anthihepatoma pada sel hepatoma manusia Hep G2, Hep 3B, dan PLC/PRF/5.

“Dari penelitian-penelitian yang dilakukan menguatkan bila Ciplukan memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai agen kemopreventif,” kata Amelianda, di ruang Fortakgama UGM, Rabu (1/12).

Dari penelitiannya bersama Inna Amandari dan Sofa Farida, berhasil menguji potensi kemopreventif ekstrak etanolik herba Ciplukan (EHC) pada sel kanker payudara. Berkat penelitiannya itu pula, tiga mahasiswa Fakultas Farmasi UGM itu dinyatakan menjadi pemenang I bidang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) pada Kompetisi Pemilihan Peneliti Remaja Indonesia (PPRI) ke-9 tahun 2010, dan berhak mendapat hadiah uang Rp 12 juta.

Ketiganya sependapat bila aktivitas kemopreventif ekstrak etanolik herba Ciplukan menjadi alternatif pengobatan penderita kanker payudara. Sementara pengobatan kanker payudara melalui kemoterapi selama ini dinilai kurang efektif. Bahkan sering menimbulkan resistensi, serta beberapa efek samping seperti mual, muntah, toksisitas pada jaringan normal, toksisitas pada jantung dan menekan sistim imun. “Karenanya dibutuhkan suatu alternatif terapi kanker yang lebih aman, terjangkau. dan efektif,” jelas Amelianda.

Secara in vitro, dari penelitian tersebut berhasil menekan pertumbuhan sel kanker hingga 20 persen. Tidak hanya secara in vitro, untuk mendukung penelitian potensi Ciplukan sebagai agen kemopreventif pada kanker payudara dilakukan pula secara uji in vivo. Uji secara in vivo bertujuan untuk mengobservasi pengaruh EHC pada hewan uji tikus betina galur Sprague Dawley.

Uji in vivo, jelas Amelianda, dilakukan melalui pengamatan hispatologi sel payudara dengan metode pewarnaan Hematoksilin & Eosin, serta aktivitas antiproliferasi EHC dengan metode AgNOR pada tikus yang terinduksi DMBA. Hasil penelitian menunjukkan, EHC mampu menghambat proses karsiogenesis dari DMBA dan memiliki aktivitas antiproliferatif dengan menunjukkan black dots (nilai mAgNOR) dibandingkan dengan kelompok kontrol DMBA.

Tiga mahasiswa itu pun menyimpulkan, Ciplukan berpotensi dikembangkan sebagai agen kemoprevensi kanker payudara melalui induksi apoptosis dan penghambatan proliferasi sel. Dapat dijadikan pula sebagai agen ko-kemoterapi dengan doxorubicin. “Karenanya, uji selektivitas serta ekspresi berbagai macam protein yang terkait dalam pemicuan apoptosis dan regulasi daur sel perlu dilakukan untuk mengetahui keamanan dan mekanisme molekulernya dalam menghambat pertumbuhan kanker payudara,” kata Amelianda. (BNC/tgr)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.