Gol A Gong: Guru Malang Dibuang Jangan

Ditulis 15 Nov 2010 - 11:02 oleh Banyumas1

Guru Malang Dibuang Jangan

GolaGong
Oleh Gol A Gong*)

SAYA turun dari mobil persis di TamanBudaya Rumah Dunia. Ini pukul 14.00, Minggu, 14 November 2010. Badan lelah sekali. Ini marathon. Sabtu, 13 November 2010, saya menghadiri bedah buku “Banten Bangkit #4: habis Gelap Terbitkah Terang?” karya Gandung Ismanto di auditorium Untirta, Serang. Barusan, saya baru pulang dari Rangkasbitung, menjadi pembicara bedah buku “Banten Bangkit #3: Membangun Perdaban Baru” di depan mahasiswa STKIP Setiabudhi,Rangkasbitung. Sekitar 200-an mahasiswa tekun mendengarkan paparan dari saya, Dr.Bambang Q-aness, Prof.Dr. Ilzamudin Ma’mur, dan Dr. Yayat Ruhyat. Tapi, rasa capek itu terobati, ketika say melihat kerumunan orang-orang di Taman Budaya Rumah Dunia. Masya Allah!

GEMPA LITERASI

Orang-orang mengerumuni saya. Mereka ibu-ibu muda dan para suaminya dari Garasi Ilmu, Bekasi. Ada sekitar 75 orang, datang denan bus Blue Bird. Mereka melakukan study banding. Tias Tatanka dan Langlang Randhawa yang memandu. Mereka minta foto-foto dan tandatangan di novel
saya. Di latar belakang kami, di panggung terbuka, para penulis “Gilalova #3:
Cinta Nggak Kemana-mana” sedang berpesta pora. Mereka merayakan terbitnya buku mereka. Di ujung barang, di lahan seluas 225 m2, panggung gunungan dari bambu yang dibuat Teater Studio Indonesia, para mahasiswa Untirta sedang tekun latihan untuk pementasan di hajatan “Ode Kampung #4”, tanggal 9 hingga 12 Desember 2010 nanti.

Saat saya menandatangani buku-buku
saya, tubuh bergetar. Bukan karena persoalan tandatangannya, tapi suasananya! Aromanya. Sulit mengungkapkannya. Di areal seluas 970 m2 hasil sumbangan para facebooker di akun Gol A Gong sepanjang
2009, yang kami namai “Taman Budaya Rumah Dunia” sedang berlangsung kegiatan literasi; bedah novel, pelatihan, dan pertunjukkan teater. Inilah yang saya namakan “gempa literasi”. Gempa yang tidak menghancurkan, tapi membangunkan. Ini bukan peristiwa sembarangan, tapi investasi. Kelak, akan tyumbuh genreasu baru yang kritis dan kreatif di Banten.

TAMAN BUDAYA
ALTERNATIF

Lalu Hilal Ahmad dan Akhelbri, yang menggagas kelahiran kumcer seri “Gilalova”ini memanggil saya. Grogi juga berdiri di antara 27 penulis muda Banten. Umur saya 47 tahun. Saya harus mendfampingin proses kepengarangan mereka. Hilal dan Ali mempersilhakan saya berbicara.

Saya mnegingatkan semua yang hadir tentang Rumah Dunia, lini sosial Yayasan Pena Dunia, yang didirikan saya alias Heri Hendrayana Harris alias Gol A Gong, berakta notaris Fachrul Kesuma Dharma, SH, nomor 006, 12 Juni 2006. Sejak bergulir tahun 2000, mulai dari areal 500 m2, kemudin 1000 m2, yang dibeli dari royalti novel dan skenario TV saya saat di RCTI sepanjang 1996 – 2008. Kemudian pada tahun 2009, teman-teman di akun facebook Gol A Gong ikut guyub menyumbang semeter, dua meter, bahkan 100 meter persegi, sehingga tanah seluas 970 m2 berhasil dibebebaskan. Bahkan tidak jauh dari lokasi itu, areal kedua seluas 225 m2, hanya terhalang oleh tanah seluas 1800 m2, juga berhasil dibebaskan..

Kini di atas lahan tanah seluas 970 m2 itu sudah berdiri
cafe baca, Balai belajar Bersama, playground, gazebo, kelas terbuka dan
panggung terbuka. Biaya pembangunan itu sumbangan dari Program Rintisan Balai Belajar Bersama (RB3), Departemen Pendidikan Nasional, Direktorat Jenderal PNFI, Direktorat  Pendidikan Masyarakat
sebesar Rp. 200 jt. Areal itu lantas kita sebut “Taman Budaya Rumah Dunia” Pada 16 Oktober 2010 diresmikan penggunaannya.

Hari demi hari, TBRD ramai dikunjungi. “Saya
nyaman sekali sarapan bubur di sini,” kata seorang peajar dari Kampung Kesuren, sekitar 900 meter dari lokasi. “Sambil makan, bisa jajan. Bahkan orang-orang yang melintas henak mnuju tempat kerja pun mampir sarapan atau melepas lelah. Rata-rata mereka merasa nyaman melihat suasana cafre baca, yang dipadu dengan kegiatan kesenian.

Penduduk Ciloang, Cikubil, dan Tegal Duren sangat
merasakan manfaatnya, terutama bagi anak-anak. Pak Asman, 55 th, yang mendapat bantuan modal dari dana pinjaman modal usaha bubur ayam mengomentari, “Cucu-cucu saya sekarang nggak usah jauh-jauh bermain. Cukup ke Taman Budaya Rumah Dunia saja!” Lanjut Pak Asman lagi, “Sarapan pun bisa nebeng di dagangan saya. Alhamdulillah, bubur ayam saya laku. Apalagi setiap hari ada mahasiswa Untirta yang latihan teater di sini!”

Tak dinyana, tak diduga. Taman Budaya Rumah Dunia menjadi “oase”, tempat alternatif anak-anak Banten berlatih teater. Hampir tiap hari, anak-anak Untirta jurusan Sastra berlatih teater di sini. Nadang Arde, sutradara Teater Studio Indonesia, mengatakna kepuasannya. “Areal ini sangat nyaman. Suasananya mendukung. Unhtuk berkesenian. Apalagi jika tnah
di sebelah Taman Budaya Rumha Dunia ini dibeli.”

Bahkan hari Minggu, 14 November 2010 tadi, saya tercengang. Sepulang dari seminar “Banten Bangkit #3” di Rangkasbitung. Saya iseng mengatrakan saat berbicara di depan peserta bedah buku “Gilalova 2”, bahwa tanah di belakang panggung terbuka Taman Budaya rumah Dunia seluas 1800 m2, yang menghubungkan ke areal kedua seluas 225 m2 dimana panggung gunungan dari bambu berada, akan kami bebaskan. Saya meminta dukungan semua yang hadir.

MENJUAL NOVEL

Kali ini saya tidak akan menggalang dana seperti saat membebaskan lahan seluas 790 m2 dan 225 m2 kepada teman-teman saya di akun facebook saya. Beberapa penasehat Rumah Dunia juga menyarankan, agar saya mencari cara lain untuk membebaskan tanah itu. Saya berpikir keras. Say teringat teguran dari sahabat saya di majalah HAI dulu, Pal De, “Jangan minta sumbangan lagi. Malu.”

Ya, saya juga sependapat.
Malu meminta sumbangan terus.

Akhirnya saya menemukan ide. Semoga teman-teman berkenan. Hal ini saya sampaikan kepada para relawan pada Sabtu 13 November 2010 lalu. Mereka setuju. Ide itu adalah dengan berjualan buku. Semoga cara ini bisa dimaklumi. Lewat Gong Publishing, saya akan menerbitkan novel, dimana
royaltinya akan disumbangkan ke proyek pembebasan tanah seluas 1800 m2 itu. Kelak di atas tanah itu akan dibangun gedung serba guna; bisa untuk diskusi tertutup, pertunjukkan kesenian, atau disewakan untuk seminar.

Novel pertama untuk proyek pembebasan tanah ini adalah “Guru Malang, Dibuang Jangan” karya relawan Rumah Dunia, Rahmat Heldy HS. Dia
sehari-hari guru di SMP Al-Irsyad, Waringin Kurung, Serang. Rahmat Heldy alias Rahel mengungkapkan perasaannya, “Mulanya aku membenci profesiku sebagai guru, lama kelamaan aku tertarik dan ingin menulis tentang itu. Sebabdi sana banyak orang –orang menderita dan minta untuk ditulis dengan segera.“  Kini Rahel meras bahgaia novelnya akan diluncurkan pada 9 Desember 2010, saat ”Ode Kampung #4” berlangsung. ”Lebih
membahagiakan lagi, karena royalti novel saya ini disumbangkan untuk pembebasan tanah Rumah Dunia.”

Harga novel “Guru Malang, Jangan Dibuang” karya
Rahmat Heldy HS sebesar Rp 50 ribu, itu sudah termasuk ongkos kirim Jawa dan luar Jawa. “Jika teman-teman membeli novel ‘Guru Malang, Dibuang Jangan’ karya saya, berarti sudah menyumbang Rp 20 ribu untuk tanah,” harap Rahel. “Saya butuh sekitar 20 ribu pembeli novel saya untuk membebaskan tanah itu! Semoga Allah memudahkan urusan ini.”

Secara pribadi, saya sangat berharap support dariteman-teman dengan segera memesan  langsung sekarang dengan transfer ke BCA Serang, nomor rekening 2451790121 an. Heri Hendrayana Harris. Setelah transfer konfirmasi lewat email ke tanahrumahdunia@yahoo.com dengan
menyertakan nama, alamat, no.hp, e-mail, bukti transfer, jumlah transfer dan
judul buku yang dipesan. Di subjek emal tulis “Tanah RD-GMDJ”.

Jika tanah itu berhasil dibebaskan, berarti akan ada kawasan Taman Budaya Rumah Dunia seluas hampir 4000 m2. Itu snagat bagus untuk warga Banten dan Indonesia umumnya, ketika sedang berwiata ke Banten,bisa mampir ke sini. Akan ada banyak agenda yang tentu representatif untuk
ditonton.

Nuhun, thank you, terima kasih atas waktunyamembaca curhat saya ini. semoga Allah meridhai niat baik kita. Amiin. (Gola Gong Ketua Umum Forum Taman Bacaan Masyarakat Banten.Dikutip dan kiriman Gola Gong ke penyairyahoogroup*)

Tentang Penulis

Leave A Response