LSS SMP N 3 Bukateja Siap, TKIT Ragu-ragu

Ditulis 11 Nov 2010 - 17:53 oleh Banyumas1

PURBALINGGA – Keberhasilan SMP Negeri 3 Bukateja menjadi juara umum dalam Lomba Sekolah Sehat (LSS) Tingkat Jawa Tengah, sudah diduga sebelumnya. Meskipun dengan anggaran minim ditambah saat penilaian banyak lalat musim buah, Tim Juri sepakat SMP yang berlokasi di Desa Kutawis itu memang yang terbaik.

Kepala SMP N 3 Bukateja, Bangun Pracoyo mengaku sedikit minder dengan kondisi sekolahnya yang secara fisik kalah dengan sekolah-sekolah dari kabupaten lain. Tapi rupanya dengan aspek non fisik seperti Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Sekolah (JPKS), biopori/ sumur resapan, kebun sekolah hingga kantin kejujuran cukup meningkatkan poin bagi kemenangan sekolah pinggiran ini.

Selain masalh dana, persoalan klasik muncul karena belum adanya pembenahan di Sekretariat Tetap TP UKS Provinsi Jawa Tengah. Dari penilaian LSS tingkat Nasional di tahun-tahun sebelumnya, selama belum ada perbaikan manajemen dan administrasi di Sektap TP UKS Jateng, selama itu pula sulit bagi perwakilan Jateng menjadi juara umum nasional.

“Kami sudah berupaya untuk mendiskusikan hal ini ke provinsi, tapi belum ada titik terang,” ujar Kepala Bidang Pemberdayaan dan JPK Dinas Kesehatan drg. Hanung Wikantoro, MPPM.

Kemelut TKIT

Sementara itu, persoalan lain juga muncul. Jika SMP Negeri 3 Bukateja tetap siap menghadapi LSS di tingkat Nasional, TKIT Bina Putra Mulia justru ragu-ragu untuk melangkah mempersiapkan diri menghadapi LSS Tingkat Karesidenan Banyumas.
Berdasarkan Surat Nomor 441.5/1024/2010 tentang Pengumuman Hasil LSS 2010, TK yang berlokasi di Gang Panca Purbalingga Kulon ini menjadi yang terbaik menyisihkan TK-TK se- Purbalingga dalam LSS Tingkat Kabupaten.

“Secara dana, kami yang hanya sekolah swasta Alhamdulillah telah siap dana 200 juta untuk mempersiapkan LSS ini. Tapi saat ini kami menghadapi persoalan yang pelik terkait fasilitas bersama seperti masjid, lapangan dan kebun di komplek Pesantren Suchari yang tidak bisa lagi kami nikmati,” ujar Kepala TKIT Bina Putra Mulia Rusmini.

Menurut Rusmini, persoalan ini muncul sejak Pesantren Suchari tidak lagi dikelola Yayasan Bina Insan Mulia, yayasan yang menaungi TKIT Bina Putra Mulia. Katanya, pihak manajemen pesantren melarang anak-anak menggunakan masjid, lapangan, kebun dan bahkan toilet yang telah dibangun Yayasan Bina Insan Mulia ini.
“Kami sudah mencoba mengkomunikasikan hal ini dengan pihak pemilik tanah wakaf dan manajemen pesantren. Tapi sepertinya tidak ada titik temu. Untuk menghadapi LSS ini kami jadi manggong-manggong, apalagi pohon-pohon yang menjadi nilai tambah itu sudah ditebangi,” keluh perempuan berjilbab ini.

Mendengar keluhan TKIT ini, Kepala Bagian Kesejahteraan Setda Kab. Purbalingga Yani Sutrisno sebagai salah satu Ketua TP UKS mengungkapkan, saat pihaknya masih menjabat sebagai Camat Purbalingga pernah berniat mempertemukan pihak-pihak
terkait untuk menyelesaikan masalah ini. Sayangnya, belum sempat pertemuan dilaksanakan, Yani dimutasi menjadi Kabag Kesra di Setda.

“Saya pikir ini sangat mendesak untuk diselesaikan. TKIT itu memiliki poin yang cukup tinggi dalam berbagai hal, termasuk mencakup fasilitas masjid, kebun, lapangan dan toilet. Insya Allah kita akan berupaya untuk memfasilitasi pertemuan itu,” jelasnya (BNC/tgr/cie)

Tentang Penulis

Leave A Response