Kubah Sisi Selatan Gunung Merapi Paling Rapuh

Klaten – Puncak Merapi saat ini dikelilingi timbunan material jutaan meter kubik, hasil dari 11 kali erupsi yang pernah terjadi selama ini. Berturut-turut erupsi tahun 1902, 1911, 1940, 1948, 1955, 1956, 1957, 1992, 1997, 1998, dan 2006 yang kemudian membentuk kubah lava. Melihat usianya, tentu semakin tua maka akan semakin labil kubah tersebut sehingga kemungkinan untuk ambrol ke bawah juga semakin besar.

Gunung Merapi

“Mencermati laju dan arah deformasi atau penggelembungan kubah kali ini, timbunan material atau kubah hasil erupsi 1911 yang mengarah ke selatan atau ke kali Kuning Sleman DIY, menjadi yang paling rapuh di antara yang lain,” kata Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta, Drs Subandriyo MSi, Selasa (26/10).

Hasil erupsi 1902 di sisi timur lebih tua, memang. Namun, deformasi justru ke arah selatan. Deformasi merupakan penggelembungan atau perubahan bentuk kubah di puncak Merapi karena adanya desakan aliran magma dari dalam.

“Sebelum dinyatakan ‘Awas’, laju deformasi atau laju inflasi Merapi memang meningkat tajam. Jika pada akhir September 2010 laju inflasi puncak Merapi hanya 6 mm/hari, hingga 21 Oktober 2010 mencapai 10,5 cm/hari. Kemudian meningkat tajam menjadi 42 cm/hari berdasarkan hasil pengukuran electric distance measurement (EDM) hingga 24 Oktober 2010,” jelas Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Dr Surono. (BNC/tgr)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.