Arif Disunat Mahluk Halus

Arif didampingi ibunya.
Arif didampingi ibunya.

Banjarnegara – Kejadian misterius anak disunat oleh mahluk halus membuat geger warga Desa Kebakalan, Kecamatan Mandiraja, Banjarnegara (Jateng). Alat kelamin Arif Romadhon (9), anak pasangan Imam Prayitno dan Kamisah tiba-tiba berubah seperti sudah disunat.

Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 21.00 Kamis  (21/10). Saat itu, Arif Romadhan yang tengah nonton TV di runga tengah mengeluhkan kalau alat kemaluannya terasa gatal dan perih. Alat kelamin Arif kemudian dilihat untuk mengetahui penyebabnya. Alangkah terkejutnya saat melihat ujung kemaluan cucunya dalam kondisi layaknya telah di khitan.

Dengan rasa khawatir esok paginya mereka memeriksakan ke klinik dr Edy Santoso yang terletak tidak jauh dari tempat tinggalnya. Sesampainya di klinik, dokter mengatakan jika kondisi kemaluan putranya itu memang tampak seperti habis disunat. Oleh dokter di beri obat anti biotik dan di perban.

”Dokter menyarankan untuk di sunat ulang, namun saat itu kami bingung hingga Arif kita bawa pulang. Dan hari itu juga kita konsultasikan ke beberapa orang pintar. Mereka mengatakan kemaluan Arif sudah seperti di sunat, jika di sunat lagi maka bagian mana lagi yang mesti di sunat. Akhirnya hari ini (Sabtu (23/10), kami lakukan selamatan,” kata Kamisah ditemani Saminah, nenek Arif Romadhan.

dr Edy Santoso yang memeriksa Arif Romadhan ketika dimintai keterangan wartawan mengatakan, dari tinjauan medis kejadian yang dialami Arif disebut ‘paraphymosis’. Ini biasanya terjadi ketika anak menjelang remaja dan memiliki kelainan pada kulup kemaluan. Imbas kejadian tertentu atau tindakan sang anak menarik kulup tersebut akhirnya tidak bisa kembali lagi.

”Karena pertumbuhan kulup atau preputium sang bocah tidak seimbang dengan perkembangan kepala penis. Sehingga alat kemaluan lebih dahulu ereksi lalu kulit kulup tertarik ke batang penis. Alhasil kepala penis pun terbuka dan tak bisa kembali sehingga mirip dikhitan pada umumnya. Kebalikan dari kejadian ini di sebut phymosis di mana lubang kulup sempit sehingga sulit tertarik ke belakang. Kedua kasus ini memang jarang terjadi di masyarakat,” ungkap dr Edi Santoso. (BNC/*)

4 Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.