Sekda : PNS Itu Harus Ngaton, Keton dan Ketonton

PURBALINGGA – Keprihatinan Sekda Purbalingga Subeno, MM kepada kondisi loyalitas dan kinerja PNS Purbalingga tertuang dalam amanatnya pada Upacara Luar Biasa Hari Senin di Halaman Pendopo Dipokusumo Purbalingga (18/10). Sekda Subeno berharap, PNS mau belajar etika birokrasi berdasarkan falsafah Jawa: Ngaton, Keton dan Ketonton.

Ngaton dimaknai PNS harus selalu hadir memenuhi panggilan atau undangan pimpinannya. Kehadirannya itu sangat penting sebagai bentuk loyalitas dan totalitas pengabdian demi suksesnya kebijakan yang digulirkan pimpinan daerah dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Sedangkan Keton, kata dia, berarti PNS harus mampu menunjukkan prestasi kerja kepada pimpinan meski dalam keterbatasan sarana prasarana. PNS juga harus terus terang kepada pimpinan apa saja yang menjadi hambatan dalam pekerjaannya sehingga akan memudahkan mencari solusi sebelum permasalahan berlarut-larut dan semakin kompleks.

“Jangan sampai ada masalah bilangnya tidak ada apa-apa. Pembiaran atas hambatan yang dialami, dapat berakibat mengganggu sistem dan mekanisme kerja, sehingga berdampak terganggunya koordinasi pelaksanaan program kegiatan,” imbuhnya.

Selain Ngaton dan Keton, yang tidak kalah penting Ketonton. Menurut Sekda Subeno, PNS harus mampu melakukan kreatifitas dan inovasi dalam bekerja sehingga akan diperoleh hasil pekerjaan yang dapat dilihat (ketonton) dan dirasakan menjadi lebih efisien dari segi biaya, ketepatan dan kecepatan waktu, juga efisien dalam penggunaan sumber daya yang ada.

Ora Rumangsa Bisa, Tapi Bisa Rumangsa

Sesuai dengan Keputusan Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara Nomor 25/KEP/M.PAN/4/2002 tentang Pedoman Pengembangan Budaya Kerja Aparatur Negara, menurut Sekda Subeno PNS harus meningkatkan profesionalismenya dalam bekerja. PNS harus memahami etika birokrasi sehingga tercapai kodusifitas dan harmonisasi dalam menjalankan tugas dan kewajibannya selaku aparatur pemerintah dengan rasa penuh tanggung jawab.

“PNS harus selalu berorientasi meningkatkan kualitas maupun kuantitas pengabdiannya,” tegasnya.

Sekda Subeno juga mengingatkan pentingnya berpegang pada falsafah Jawa ‘Ora Rumangsa Bisa, Nanging Bisa Rumangsa’. Maksudnya, PNS harus koreksi diri sehingga tidak terdorong untuk menghujat dan merendahkan potensi orang lain. PNS tidak boleh takabur dengan kemampuan dan potensi yang dimilikinya, sebaliknya selalu berupaya mengembangkan kapasitas dan kualitas dirinya dalam rangka mendukung pencapaian prestasi kerja secara efektif.

“PNS juga harus mawas diri, bekerja sesuai tugas pokok dan fungsinya jadi tumpang tindih pekerjaan dapat dihindari,” pungkasnya. (BNC/cie)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.