Mbah Maridjan : Merapi Biasa Mawon

Gunung MerapiNama mBah Maridjan tidak bias dipisahkan dengan Gunung Merapi. Namanya mulai mencuat beberapa tahun lalu ketika Gunung Merapi meletus. Ketenaran nama Mbah Marijan akhirnya dijadikan bintang iklan sebuah minuman penguat. Kini, nama mBah Maridjan sang juru kunci gunung Merapu kembali dikait-kaitkan dengan ramalan meletusnya Gunung Merapi.

Apa kata mBah Maridjan (84) soal Gunung Merapi? Merapi biasa ‘mawon’.  Lha nek waspada niku nggih sae mawon. Masyarakat panci kedah waspadha (Merapi itu biasa saja. Kalau waspada itu ya baik-baik saja. Masyarakat memang harus waspada),” tutur mBah Maridjan menanggapi status Merapi yang dikeluarkan BPPTK Yogyakarta.

Sebagai juru kunci, tentu Mbah Maridjan harus bertanggungjawab ‘memelihara’ Merapi. Dengan jabatan itu pula berarti keraton mempercayakan keselamatan warga masyarakat kepada Mbah Maridjan ketika sewaktu-waktu Merapi ‘mengamuk’. Entah kebetulan atau ada fenomena lain, kenyataan menunjukkan, kediaman dan permukiman warga di sekitar rumahnya tak ‘terusik’ sedikit pun saat erupsi Merapi tahun 2006 silam. Lahar dingin yang meluncur, lewat hanya beberapa puluh meter di sebelah timur kediaman Mbah Maridjan.

Meski sebagai juru kunci, yang logikanya mengetahui persis kondisi Merapi, namun jangan harap terlontar penjelasan panjang lebar darinya mengenai gunung yang terletak di perbatasan DIY dan Jateng itu. “Biasa mawon. Nek namung watuk-watuk, saben ndintene kiaine nggih ngoten niku (biasa saja kalau Cuma batuk-batuk. Setiap harinya kyainya memang begitu),” kata Mbah Maridjan.

Sebagaimana orang-orang tua, sesekali seakan tanpa sadar ia menyebut Merapi dengan ‘kiaine’. Seperti pada umumnya orang-orang tua, serta sebagai sosok yang sehari-hari hidup berdampingan dengan Merapi, Mbah Maridjan pun seakan enggan ketika diajak membicarakan kondisi puncak Merapi saat ini. Seolah ia ingin menegaskan, tabu baginya untuk ‘ngrasani’ Merapi. Ia menjaga benar sikap dan tutur katanya, agar tidak keliru yang salah-salah malahan bisa membuat Merapi ‘murka’.

“Nggih ngoten niku, Simbah. Mboten nate ngendika kathah (soal Merapi – red.),” tutur Asih Mursani, menantu laki-laki Mbah Maridjan, yang sehari-hari tinggal bersebelahan dengan kediaman Mbah Maridjan.

Seperti Mbah Mardijan, Asih pun mengemukakan, kehidupan warga setempat biasa-biasa saja meski sejak beberapa pekan belakangan BPPTK Yogyakarta meningkatkan status Merapi menjadi ‘waspada’.

Seakan ingin meneguhkan sikapnya, Mbah Maridjan pun tampak selalu mengalihkan pembicaraan manakala disinggung mengenai kondisi Merapi. Sikap seperti itu selalu ia tunjukkan ketika berbicara dengan siapa pun. Tak terkecuali dengan para tamu yang setiap hari selalu saja ada dan berasal dari berbagai kota itu.

Petugas pos pengamatan Merapi di Kaliurang Sleman DIY, Triyono mengemukakan, hingga Selasa (12/10) siang, status Merapi masih tetap ‘waspada’. “Secara visual dari pukul 00.00 hingga 11.00 WIB, kondisi puncak Merapi cerah di pagi hari, tak teramati luncuran lava pijar, serta belum ada perubahan morfologi puncak Merapi,” jelasnya.

Data kegempaan, terjadi gempa guguran dua kali dan gempa multi phase sebanyak 17 kali. Tak terjadi atau tercatat adanya data kegempaan yang lain. “Dengan status ‘waspada’ aktivitas warga termasuk penambangan pasir dibatasi hingga radius tujuk kilometer dari puncak Merapi. Sedangkan untuk pendakian, untuk sementara tidak diperkenankan,” tutur Triyono. (BNC/tgr)

2 Comments

  1. trurut berduka cita atas meninggalnya korban2 semburan gunung merapi

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.