Sekolah di Purbalingga Diwajibkan Terapkan Hari Khusus Berbahasa Jawa

Ditulis 14 Okt 2010 - 19:01 oleh Banyumas1
HARI BERBAHASA JAWA--Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Purbalingga, Henny Ruslanto SE  (tengah) yang didampingi Kepala Sekolah SMPN 1 Padamara Heru Prayitno S.Pd  (kiri) dan  Ketua MGMP Bahasa Jawa SMP Kabupaten Purbalingga, Sutarman S.Pd pada pertemuan MGMP Bahasa Jawa SMP se-Kabupaten Purbalingga di Aula SMPN 1 Padamara, Kamis (14/10). Dalam kesempatan tersebut, Henny Ruslanto menghimbau kepada semua jenjang  pendidikan dari PAUD, TK, SD, SMP dan SMA/SMK baik negeri maupun swasta di Purbalingga agar segera menerapkan hari khusus berbahasa Jawa. (BNC/prs)

HARI BERBAHASA JAWA--Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Purbalingga, Henny Ruslanto SE (tengah) yang didampingi Kepala Sekolah SMPN 1 Padamara Heru Prayitno S.Pd (kiri) dan Ketua MGMP Bahasa Jawa SMP Kabupaten Purbalingga, Sutarman S.Pd pada pertemuan MGMP Bahasa Jawa SMP se-Kabupaten Purbalingga di Aula SMPN 1 Padamara, Kamis (14/10). Dalam kesempatan tersebut, Henny Ruslanto menghimbau kepada semua jenjang pendidikan dari PAUD, TK, SD, SMP dan SMA/SMK baik negeri maupun swasta di Purbalingga agar segera menerapkan hari khusus berbahasa Jawa. (BNC/prs)

PURBALINGGA–Lembaga pendidikan di Purbalingga, dari jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Taman Kanak-kanak (TK), SD, SMP hingga SMA  dan SMK baik negeri maupun swasta diwajibkan  menerapkan hari khusus berbahasa Jawa. Hal ini sebagai upaya untuk nguri-uri Bahasa Jawa sebagai bahasa ibu agar tetap lestari di kalangan penuturnya.

“Saya akan segera  membuat surat edaran kepada sekolah-sekolah di Purbalingga, untuk menerapkan hari khusus berbahasa Jawa, yakni hari Jumat.  Edaran tersebut, mulai minggu depan diharapkan sudah sampai ke semua sekolah. Setelah mendapat imbauan itu, sekolah-sekolah diharapkan telah siap dan melaksanakan hari berbahasa Jawa selama sehari,” ujar Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Purbalingga, Henny Ruslanto SE dalam pengarahannya di depan para guru bahasa jawa SMP se-Kabupaten Purbalingga yang tergabung dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Jawa SMP Purbalingga di Aula SMPN  1 Padamara, Kamis (14/10).
Dalam kesempatan tersebut, ditampilkan Seni tradisional Begalan oleh Teater “Cinde Laras” dari Desa Selakambang, Kecamatan Kaligondang, Purbalingga, pimpinan Sutarko Gareng S.Pd. Ratusan murid SMPN 1 Padamara dan 60 guru bahasa Jawa SMP se-Purbalingga menyaksikan dengan khidmat seni tradisi yang hampir punah itu.
Menurut Henny Ruslanto, sekarang ini pihaknya  sedang gencar-gencarnya mengkampanyekan pendidikan berbasis karakter. Dalam hal ini, Bahasa Jawa di samping mata pelajaran lain, dipandang memiliki nilai filosofis tinggi dan sopan santun serta tata krama yang tepat, untuk membangun murid  berkarakter.  “Pendidikan berbasis karakter ini penting, agar lahir murid yang bener,pinter dan pener,” ujar Heny Ruslanto yang juga penggemar wayang kulit ini.
Henny Ruslanto menyatakan, pihaknya optimistis bahwa pelaksanaan program ini sekaligus menjadi proses internalisasi pendidikan moral, bisa dilaksanakan di semua jenjang pendidikan dari PAUD, TK, SD, SMP, SMA dan SMK baik negeri maupun swasta di Purbalingga.
“Penerapan hari Bahasa Jawa itu juga untuk melaksanakan amanat kongres Bahasa Jawa di Semarang, 2006. Salah satu rekomendasi kongres tersebut adalah melaksanakan Bahasa Jawa di sekolah. Selama ini, memang belum ada ketegasan untuk menerapkan rekomendasi tersebut, namun saat ini saya tergerak untuk mewujudkan amanat itu, agar bahasa Jawa sebagai bahasa ibu tetap lestari,” ujar Henny Ruslanto.
Penerapan sehari berbajhasa jawa di sekolah, lanjut Henny Ruslanto, banyak manfaatnya.  “Siswa diharapkan tahu unggah-ungguh terhadap yang lebih tua. Sehingga mereka tidak akan nglunjak terhadap gurunya atau yang lebih tua.” katanya.
Henny Ruslanto mencontohkan, penerapan Bahasa Jawa setiap Jumat itu dimulai pagi hari. Kali pertama guru melalui pengeras suara mengingatkan semua siswa untuk menggunakan bahasa lokal tersebut. Konsepnya, dengan para guru siswa menggunakan bahasa jawa krama, sementara dengan teman sebaya menggunakan bahasa ngoko.
Bukan hanya itu saja. Doa sebelum pelajaran dimulai juga wajib menggunakan Bahasa Jawa. Hanya pengantar kegiatan belajar mengajar menggunakan Bahasa Indonesia. “Pengantarnya wajib  pakai Bahasa Jawa. Kami menyadari, awalnya memang berat. Tapi kepada para guru, khususnya guru bbahasa jawa untuk  terus mengingatkan siswa yang tidak memnggunakan bahasa Jawa. Kami yakin, kelak generasi kita akan lahir generasi yang berkarakter dan menjunjung tinggi unggah-ungguh dan toleran terhadap orang lain,” harap Henny Ruslanto.  (BNC/prs)

Tentang Penulis

& Komentar so far. Feel free to join this conversation.

  1. Suyanto Toriana Parorejo 16/10/2010 pukul 14:52 -

    Karena daerahnya masih banyumasan sebaiknya yg digunakan bahasa banyumasan agar bahasa sendiri tidak punah,

  2. gusmar 15/10/2010 pukul 20:04 -

    Kiye Pak Heni..olih seminar nganggo bhs Jawa apa ora ? wkwkwk…esih lewih apik nggawe musium bhs Jawa pak..dr pd nggawe aturan sing melawan zaman…arep dikaya ngapa..wong kota karo wong ndesa ya bhsane beda….jaman cilikane rika karo cilikane bocah siki, bhsane ya beda,…kue sunnatulah zaman…

Leave A Response