Sudiyono, Jualan Madu untuk Bekal Pensiun

Ditulis 07 Okt 2010 - 16:39 oleh Banyumas1

JUALAN JAMU: Sudiyono saat menawarkan jamu kepada rekan rekannya di kantor (foto:tgr/BNC)

JUALAN JAMU: Sudiyono saat menawarkan jamu kepada rekan rekannya di kantor (foto:tgr/BNC)

PURBALINGGA– Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang satu ini boleh dibilang sederhana dan tak pernah berpikir untuk diperpanjang batas usia pensiunnya. Ia justru menikmati kehidupan dan pekerjaannya sebagai PNS apa adanya. Sakmadyo, begitulah ungkapan yang tepat. Ia justru sudah sangat siap menghadapi masa pensiun yang akan dijalaninya sepuluh bulan mendatang. Bukan melalui cara-cara meminta jabatan atau mencari celah agar usia pensiunnya ditambah. Ia justru menikmati kesehariannya berjualan madu murni.

Adalah Sudiyono (55), seorang PNS penyuluh di Kecamatan Kaligondang, Purbalingga. Bapak dua orang anak dan satu cucu ini, mencoba memanfaatkan waktu-waktu luangnya untuk menjajakan dagangannya madu murni. Sudiyono mengaku tak malu. Ia justru merasa bangga karena bisa ikut membantu petani yang dibinanya khususnya petani pembudidaya lebah madu. Ia juga merasa banggal karena mampu menambah penghasilan keluarga dengan cara yang halal dan tidak membebani kantornya.

“Saya menikmati pekerjaan sambilan berjualan madu. Selain membantu petani yang saya bina, saya juga mendapat penghasilan tambahan yang lumayan. Yang penting halal mas,” ungkap Sudiyono, Kamis (7/10) ketika menjajakan madunya di sebuah kantor.

Sudiyono mengaku mendapat kepuasan dengan berjualan. Bukan untung yang besar, tetapi karena bisa mengisi waktu luangnya dan hobinya berjualan. “Itung-itung, jualan madu ini buat sangu saya pensiun,” tutur PNS yang mulai menekuni pekerjaannya sebagai penyuluh kehutanan.

Madu murni yang dijual Sudiyono berasal dari lebah para petani dari wilayah Purbalingga seperti Kutasari, Karangreja dan Kejobong. Ia mengambil madu petani biasanya dalam ukuran jerigen. Satu jerigen berisi antara 47 – 48 liter. Kemudian, madu murni itu dimasukan dalam kemasan botol ukuran kecil (botol fanta kecil) hingga botol ukuran sirup. Untuk harga per botol kecil yang berisi sekitar 0,33 liter dihargai Rp 22 ribu. Sementara untuk ukuran botol sirup yang berisi satu liter dijual antara Rp 65 ribu hingga Rp 85 ribu.

Harga madu itu, lanjut Sudiyono, tergantung dari jenisnya. Ada madu rambutan, madu randu, madu kopi, madu durian, kelengkeng dan madu kaliandra. Disebut nama-nama pohonnya karena lebah penghasil madu berdiam di pepohonan itu. Sementara lebah yang diambil madunya berjenis lebah Manifera yang merupakan lebah unggul, lebah Lereng (lokal), dan lebah Gung (tawon alas). “Harga madu yang paling mahal berupa madu kelengkeng,” kata Sudiyono yang sudah menekuni jualan madu sejak tahun 1993. (BNC/tgr)

Tentang Penulis

Leave A Response