Cerpil: Nanang Anna Noor

Merobek Kabut (04/tamat)

cerpil-162x270HUJAN dan petir di luar rumah meruntuhkan daun daun dan batang pohon. Terdengar suara gelas jatuh dari meja. Pecahan kacanya berserakan di tepi ranjang. Dinda menangis disamping lelaki yang selama ini disebut sebagai kakaknya itu.

“ Mas kenapa kita lakukan ini, kau jahat mas,” ujar Dinda. Dandi terdiam. Tangannya mengusap air mata wanita yang sangat dicintainya itu. Saat matanya memandang langit langit kamar, wajah Rina, istrinya dan kedua anaknya yang tengah menunggunya pulang di teras rumah.

“ Maafkan aku Dinda, mungkin memang ini sudah takdir. Waktu dan mitos orang tuamu telah merampas apa yang semestinya kita miliki sejak dulu. Sekarang kita telah mendapatkanya. Kita telah merengkuh apa selama ini mestinya kita rengkuh. Kita memiliki cinta putih yang tak pernah mati,”  kata kata Dandi, seperti syair syair yang biasa dia tulis.

“Apakah setelah ini kau akan pergi lagi seperti dulu,”
“ Jelas tidak Dinda. Kesalahpahaman masa lalu kita jangan sampai terulang lagi. Meski kita tak bisa bersama. Tetapi percayalah hati kita akan selalu menyatu,” Dandi menenangkan.

“ Mas,” Dinda memeluk erat lelaki yang telah meruntuhkan hatinya itu. Dandi membalas. Entah berapakali daun daun gugur dan suara gemuruh itu selalu terulang dan terulang lagi.

*******

“PAK…” Suara orang memanggil mengejutkan lamunan Dandi. Pria yang sejak tadi memutar lagu milik BCL itu menunjukan jendela di ruang bersalin. Suara tangisan bayi. Dandi melihat kedua orang tua  Dinda begitu bahagia. Luki terus menerus memandangi bayi itu tanpa berkedip. Aneh,tak ada tawa,senyumnya pahit. Luki berkali kali memandangi Dandi. Sesekali memandangi bayinya. Begitu pula, Bu Lik, Pak Lik memandangi Dandi penuh Tanya.

Dandi mundur meninggalkan kamar bersalin. Dari balik kaca jendela Lelaki bertubuh kerempeng ini memandangi bayi mungil itu sambil berbisik lirih : Oh Dandi Kecil. (TAMAT)

Catatan: Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan dengan kisah anda, hanya kebetulan semata.

Nanang Anna Noor, tinggal di Kota Ajibarang ,Banyumas, Jateng. Tulisan fiksinya tersebar di media nasional dan lokal. Pegiat sastra, teater, musik dan film. Kini Reporter Televisi Indosiar.

6 Comments

  1. Sungguh saya menangis. Sebagai wanita dsaya terharu sekali. Tetapi saya tidak setuju jika harus melakukan perbuatan yang melanggar norma agama. Justru karena pelanggaran itu, cinta kalian menjadi tidak putih lagi.

  2. ditunggu cerita pendek yang lain….. cuma kalau pengi lihat yang sebelumnya gmana yah?

  3. PUFFFH……DAHSYAT…ANGKAT TOPI UNTUK NANANG ANNA NOOR…!!!! AKU SUKA BACA YANG DI AKHIR EPISODE KE DUA…

  4. Nah….habis tamat…..asem tenan jebule Slingkuh. Pintar yah membuat kita bertebak tebakan…………..mana lagi cerpennya yang lain…?????????????

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.