Kementrian PDT serahkan bantuan Fasilitasi Limbah Menjadi Biogas

BANJARNEGARA – Meskipun Banjarnegara telah lepas dari status Daerah Tertinggal, namun Kementrian Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) masih melakukan pendampingan sampai beberapa tahun ke depan. Sejumlah bantuan masih akan dikucurkan untuk Banjarnegara dengan maksud untuk mempercepat pemenuhan target pembangunan. Salah satunya seperti yang dilaksanakan pada Sabtu siang (02/10) di Ponpes Al As’adiyah Sered, Madukara,.

Hal tersebut disampaikan oleh Ir. Jamaluddien Malik, MM, Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Kementrian PDT yang secara simbolis menyerahkan bantuan Fasilitasi Limbah Menjadi Biogas kepada 7 kelompok ternak di Kabupaten Banjarnegara.

Menurutnya untuk memenuhi kebutuhan energi di daerah tertinggal dibutuhkan sumber daya energi yang tersedia secara berkesinambungan di masing-masing daerah sehingga dapat mendorong percepatan pembangunan di daerah tertinggal tersebut. “Salah satu peluang yang banyak dan mudah dijumpai di pedesaan adalah melalui pemanfaatan kotoran ternak hewan atau sapi menjadi biogas” katanya

Jamaludin berharap bantuan tersebut dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk memenuhi kebutuhan energi masyarakat sekitar. Oleh karena itu, Ia berharap kepada Perguruan Tinggi mitra Kementrian PDT dalam programnya di Kabupaten Banjarnegara yaitu Universitas Gadjah Mada Yogyakarta untuk terus mengevaluasi kinerja peralatan yang ditempatkan di lokasi.

Lebih lanjut Ia mengharapkan kepada penyedia teknologi untuk dapat membuat alat fasilitasi limbah menjadi biogas yang murah harganya, murah perawatannya, dan mudah operasionalnya. “Ini dimaksudkan agar rakyat banyak dapat dengan mudah memanfaatkannya” katanya.

Wakil Bupati Drs. Soehardjo, MM menyatakan terima kasihnya atas bantuan yang diberikan oleh Kementiran PDT. Menurutnya Banjarnegara yang memiliki visi Maju Berbasis Pertanian mempunyai tiga keunggulan di bidang perikanan, pertanian dan peternakan. Bantuan tersebut, katanya, pas dengan potensi yang ada. Sehingga Ia berharap masyarakat penerima bantuan ramah lingkungan tersebut untuk dapat memanfaatkan sebaik-baiknya. “Jangan sampai bantuan tersebut mangkrak dan tidak dapat dimanfaatkan sesuai kegunaanya” katanya.

Sementara itu, Prof. Dibyo dari UGM menjelaskan Fasilitasi Limbah Menjadi Biogas yang dibuat di Ponpes As’adiyah berkapasitas 5 m kubik. Artinya daya tampung fasilitas tersebut kemampuanya diperkirakan dapat menampung kotoran 5 ekor sapi. Secara perhitungan 1m kubik kotoran mampu menghasilkan gas untuk memasak selama 1 – 1,5 jam, maka dengan 5 m kubik diperkirakan mampu menghasilkan gas untuk waktu kurang lebih 5 jam. “Biogas yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk menghidupkan kompor gas, petromak, rice cooker gas, pompa slatri, dan menghidupkan genset 1500 watt” katanya.

Ke tujuh kelompok ternak penerima bantuan adalah Kelompok Ternak Lembu Karsa Usaha desa Karangsalam, Kecamatan Susukan; Kelompok Ternak Lembu Jaya desa Kaliwinasuh, Purwareja Klampok; Kelompok Ternak Sido Kumpul 3 desa Jalatunda, Mandiraja; Kelompok Ternak Lembu Lestari, Pucungbedug, Purwanegara; Kelompok Ternak Ponpes Al As’adiyah desa Sered, Madukara; Kelompok Ternak Yasa Makmur desa Wanaraja, Wanayasa; dan Kelompok Ternak Bina Mukti desa Jatilawang, Wanayasa.

Untuk menjamin agar pemberian bantuan dapat diterima dengan baik, pada tanggal 02 September yang lalu Kementrian PDT telah menyelenggarakan pelatihan kepada tujuh kelompok ternak tersebut di Pondok Pesantren As’adiyah (BNC/eko)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.