Perajin Batik Purbalingga Butuhkan Bapak Asuh

Ditulis 03 Okt 2010 - 19:06 oleh Banyumas1
PURBALINGGA – Meskipun telah berjalan setahun, pengakuan UNESCO atas batik sebagai warisan budaya bukan benda milik Indonesia dan diperingati sebagai Hari Batik setiap tanggal 2 Oktober, tidak lantas memberikan pengaruh berarti bagi perkembangan Batik Purbalingga. Padahal menurut para pengamat batik dan kolektor, kualitas batik tulis Purbalingga termasuk terbaik se-Karesidenan Banyumas.

Menurut Kepala Bagian Perekonomian Setda Purbalingga Mukodam, permasalahan yang dihadapi para perajin relatif kompleks. Di satu sisi Pemkab ingin mewajibkan seluruh PNS mengenakan batik tulis Purbalingga, di sisi lain perajin mengaku kewalahan karena proses pewarnaan belum dilakukan sendiri.

“Perajin belum mampu melakukan pewarnaan sendiri. Padahal, pemkab telah berkali-kali memfasilitasi pelatihan pewarnaan bagi perajin,” ujar Mukodam di ruang kerjanya, Sabtu (2/10).

Mukodam menganalisa, para perajin ini memang membutuhkan bapak asuh yang fokus memberdayakan perajin batik, memotivasi mereka lebih berani melakukan pewarnaan, membantu penguatan modal hingga memperluas pemasaran. Jika hanya menggantungkan pada Pemkab Purbalingga dalam segala hal akan sangat berat karena usaha kecil menengah yang harus diperhatikan Pemkab tidak hanya batik.

Pelaku dan Pengamat Batik Banyumasan, Zubaedah Tidar mengatakan, dari sisi pembatikan hasil garapan perajin Batik Purbalingga sangat baik, halus dan berkualitas tinggi. Bahkan, pecinta Batik yang berdomisili di Purwokerto ini mengatakan, Batik Purbalingga termasuk batik terbaik se-Karesidenan Banyumas.

“Kelemahannya perajin belum berani dalam pewarnaan, selalu dikirim ke Sokaraja. Ya kalau yang mewarnai sedang mood, nah kalau mewarnai sesuka hatinya kan malah merusak batik yang sudah bagus tadi? Karena kalau bukan garapan sendiri, yang mewarnai seringkali juga kurang hati-hati,” jelasnya.

Zubaedah sendiri pernah memiliki pengalaman terkait pewarnaan ini. Dia meminta perajin Desa Galuh Mrebet Purbalingga untuk membuat sejumlah batik sesuai motif yang diinginkannya. Tapi, batik yang sudah halus garapannya itu akhirnya menjadi barang ‘gagal’ atau reject dan tidak jadi ia pasarkan hanya karena pewarnaan yang asal-asalan. (cie)

Tentang Penulis

Leave A Response