Sertifikasi Dicabut bila Guru Tidak Profesional

BANJARNEGARA- Sertifikasi guru akan dicabut bila guru tidak professional. Hal tersebut dimungkinkan karena sertifikasi guru bukan hal yang permanent bisa dinikmati sampai pensiun. “Mutu guru menjadi ukuran. Bila tidak professional sertifikasi akan dicabut” jelas Winarso Wiwit Sulistyo, S. Sos, MM Kepala Dindikpora, Senin (27/09).

Pernyataannya itu disampaikan di hadapan guru-guru di bawah naungan Disdikpora Kecamatan Banjarnegara pada acara Halal bi Halal di Aula Perguba, Krandegan. Upaya tersebut, lanjut Wiwit, dilakukan sebagai bagian dari tindakan pemerintah untuk meningkatan mutu pendidikan dan menjawab berbagai kritik masyarakat. “Ketegasan ini diperlukan mengingat pada tahun yang akan datang anggaran untuk guru bersertifikasi akan dimasukan dalam APBD sehingga menjadi kewenangan penuh Pemkab” katanya.

Ia melanjutkan ada tiga fenomena menarik yang kini tengah terjadi di dunia pendidikan dan ini sejalan dengan kritik masyarakat yang masuk yaitu memudarnya pengaruh guru kepada murid. Memperjelas hal tersebut, Wiwit menyatir hasil sebuah penelitian yang dilakukan oleh pakar pendidikan tentang keterpengaruhan guru kepada anak didik. Penelitian tersebut memakai 3 variabel yaitu ketertarikan murid kepada orang tua, murid kepada guru dan murid kepada rekan, termasuk artis, dan lainnya.

Dari hasil penelitian ketertarikan murid kepada Orang Tua menduduki porsi terbesar sebagai pilihan responden yaitu 38,1%. Ketertarikan murid kepada rekan menduduki porsi kedua yaitu sebesar 37,3%. “Sedikit lebih rendah dibanding ketertarikan murid kepada Orang tuanya” urainya.

Dan yang perlu menjadi perhatian adalah ketertarikan murid kepada Guru yang menduduki ranking ke 3 pilihan responden dengan prosentase sebesar 24,8%. Jauh di bawah ketertarikan murid dengan rekan yang di dalam kategori tersebut terdapat artis-artis popular yang perilakunya saja sering mengusik batin orang-orang tua. Apalagi teknologi sekarang membuat pengaruh tersebut menjadi lebih mudah diakses.

“Bahayanya adalah jika pengaruh Guru ke siswa rendah, maka sulit mengharapkan proses pendidikan dapat terlaksana dengan baik” ujarnya.

Fenomena ini, kata Wiwit, menunjukkan adanya ancaman serius terhadap kualitas pendidikan. Menyikapi hal tersebut, lanjutnya, dalam waktu dekat Dindikpora akan segera melaksanakan monitoring dan evaluasi dengan sasaran utama adalah guru bersertifikasi. Logikanya adalah guru mestinya mempunyai pengaruh kepada murid-muridnya, apalagi guru yang telah bersertifikasi. “Dindikpora tidak segan-segan akan mencabut sertifikasi bila terbukti guru bersertifikasi tersebut tidak professional dalam bidangnya” tegasnya.

Pengajian halal bi halal diisi oleh H. Syamsudin, S. Pd. M.Pd. yang juga Sekda Kabupaten Banjarnegara. Tema ceramah adalah cinta. Menurutnya, Cinta utama kita adalah kepada Allah SWT dan kemudian kepada Rasululloh Muhammad SAW. Kecintaan tersebut mestinya mewarnai umatnya dalam menjalankan kehidupan sehari-hari yaitu dengan cara saling kasih mengasihi terhadap sesama.

“Wujud cinta tersebut salah satunya dapat ditempuh dengan cara rajin berzakat. Karena jangan lupa, setiap pendapatan yang kita peroleh ada sebagian hak yang harus dibagikan kepada anak yatim, orang miskin dan janda-janda” urainya. (BNC/eko)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.