Yunif Jago Geguritan

Ditulis 26 Sep 2010 - 17:30 oleh Banyumas1

YUNIF-JAGO-BACA-PUISI-bnc-202x270

PURBALINGGA – Namanya Yunif Putra Pradeka. Umurnya belum genap 7 tahun, tepatya lahir di Purbalingga, 10 Agustus 2003. Yunif–demikian ia biasa dipanggil–adalah anak tunggal Aji Santosa, S.Pd, guru Bahasa Indonesia di SMPN 1 Bobotsari. Yunif kini masih sekolah di TK Aisyiah Bustanul Atfal Bobotsari, namun tempat tingganya di Desa Bojong RT 01 RW 05 Kecamatan Mrebet.

Ada yang patut dibanggakan pada diri Yunif. Pada lomba mengucap syair bahasa Jawa dari tingkat kecamatan, kabupaten dan Eks Karesidenan Banyumas baru-baru ini, ia selalu meraih juara. Jelasnya, mewakili TK Pembina Bobotsari dalam lomba mengucap syair bahasa Jawa, 8 Maret 2010 lalu, Yunif meraih juara 1. Lalu di tingkat Kabupaten  meraih juara 2, dan di tingkat Eks Karesidenan Banyumas meraih juara 1. Hanya saja di tingkat provinsi dalam lomba yang sama yang berlangsung di Gedung PKK Semarang, Yunif baru mempersembahkan peringkat kesembilan.

“Dalam setiap lomba itu, saya membacakan geguritan (puisi berbahasa Jawa-red) berjudul “Pak Tani” sebagai puisi wajib. Sedangkan puisi pilihan, saya membacakan “Ani-ani” karya sastrawan Banyumas, Wanto Tirta,” ujar Yunif  yang didampingi ayahnya, Aji Santosa.

Aji Santosa yang dikenal sebagai pelatih dan pemain teater  ini  menambahkan,  semula  ketika Yunif ditunjuk oleh pihak sekolah untuk mengikuti selesksi lomba di tingkat kecamatan, Aji menolak.

“Alasan saya, Yunif  harinya tidak lepas dari menangis dan sedikit  kurang jelas mengucapkan huruf  “R ” atau celat. Namun pihak sekolah tetap memaksa. Akhirnya saya menyanggupinya. Ternyata memang benar kata guru anak saya, dalam 1 hari Yunif mampu menghapal 2 puisi. Puisi  (wajib ) terdiri 14 baris dan puisi  pilihan 16 baris,” ujar Aji yang tekun melatih anaknya  itu hingga piawai membaca geguritan.

Dua hari  menjelang lomba, sambung Aji, anaknya mendadak sakit,  karena takut tidak dibelikan mainan kereta-keretaan jika tidak juara. “Oleh karena itu hari itu juga saya membelikan mainan dan sakitnya seketika sembuh. Dengan hanya didampingi mbah putri dari istri saya, anak saya maju lomba di  tingkat kecamatan, dan meraih juara satu,” ujarnya bangga.

Diakui Aji, ternyata meskipun pengucapan “R” belum jelas,  tapi tidak menjadi kendala. Anaknya bisa tampil maksimal.
“Selama persiapan lomba di tingkat kabupaten,  anak saya tidak sakit, karena sudah saya wanti- wanti, juara atau tidak juara akan saya ajak bermain di alun-alun,” ujarnya lugas.

Seperti lomba di tingkat kecamatan, Aji pun tidak mendampingi anaknya, tapi didampingi istrinya dan embahnya. Di tingkat kabupaten ini, Yunif meraih juara 2.

Semestinya yang maju di tingkat Eks Karesidenan Banyumas, yang juara 1. Namun mendekati hari H lomba, panitia di tingkat kabupaten mendadak menunjuk Yunif maju ke tigkat Eks Karesidenan Banyumas, dan berhasil ke luar sebagai juara 1.

Atas prestasinya itu, Yunif berhak maju di tingkat Provinsi Jateng di Semarang, 29 Maret silam.Sayang, Yunif belum bisa berbicara banyak dalam lomba di tingkat provinsi. Namun Yunif mauun ayahnya bertekad, suatu saat kelak bisa mempersembahkan yang terbaik mewakil daerahnya.
Aji Santosa menilai,  faktor kekalahan lomba di tingkat propinsi  karena diskriminasi panitia. Yakni menyangkut  faktor dialek. Dialek yang jadi patokan adalah dialek solo (jawa kraton), sedangkan dialek Banyumasan dianggap kasar dan tersasa geli di telinga juri

“Selain itu, faktor teknis. Dalam juklak lomba ada batasan waktu yaiut 4 menit untuk 2 puisi. Ternyata di propinsi panitia dan juri melanggarnya yakni waktu tidak diperhitungkan. Peserta yang melewati batas waktu tidak di diskwalifikasi , namun  justru malah yang masuk juara,” ujar Aji Santosa.
Aji juga menilai, juri tidak fair . “Kalau di propinsi juri berasal dari 4 kabupaten dan jika perserta kabupaten tampil maka juri dari kabupaten itu tidak ikut menilai.Itu tidak fair,” ujar  Aji yang sering membimbing anak didiknya meraih juara di bidang teater di tingkat kabupaten, eks karesidenan Banyumas hingga Provinsi Jateng ini.

Tapi Aji tidak kecewa atas hal itu. “Kekalahan anak saya bukan karena anak saya tampil jelek, tapi karena sebuah sistem yang tidak adil dan itu diakui oleh pihak GOPTKI kabupaten purbalingga. Oleh karena itu, saya sangat berharap pihak GOPTKI kabupaten Purbalingga,  dan Dinas Kebudayaan, Pariwisata , Pemuda dan Olah Raga bersedia mendobrak pendiskriminasian dialek Banyumas di tingkat propinsi. Jika tidak , maka rasanya  berat bagi peserta lomba dari kabupaten purbalingga untuk meraih kejuaraan di Propinsi  Jateng,” kritik Aji . (BNC/prs)

Tentang Penulis

1 Komentar so far. Feel free to join this conversation.

  1. eka juli p 25/06/2011 pukul 09:02 -

    hebat yunif lah…maju terus…go ahead

Leave A Response