Reuni ‘Paskal 84’ SMPN 2 Purbalingga, Melepas Rindu dan Berbagi Kebahagiaan Antar Sesama

Ditulis 12 Sep 2010 - 17:27 oleh Banyumas1
Salah seorang panitia, Martina Henny Purwantini berbagi kebahagiaan dengan sesama.

Salah seorang panitia, Martina Henny Purwantini berbagi kebahagiaan dengan sesama.

PURBALINGGA – Rasa rindu yang terpendam selama 26 tahun lebih dan telah membuncah, akhirnya mencair juga. Tak ada rasa sedih, tak ada rasa duka, tak ada rasa kecewa. Yang ada hanyalah perasaan suka cita karena bisa saling berkangen-kangenan antar alumni SMP Negeri 2 Purbalingga lulusan tahun 1984. Para alumni itu menyebutnya sebagai ‘Paskal 84’ yang merupakan kepanjangan dari Paguyuban Alumni SMPN 2 Purbalingga ’84.

Mereka berkumpul bersama suami, istri dan anak-anak di areal outbond ‘Munjuluhur Adventure Zone’ Bumi Perkemahan Munjuluhur, Kecamatan Bojongsari, Purbalingga (Jateng), Minggu (12/9).  Tak hanya saling canda dan tawa ketika mengingat nostalgia semasa sekolah SMP, tetapi para anggota Paskal 84 itu bertekad untuk membangun persaudaraan dan berbagi dengan sesama.

DSC_0159Memang diantara 214 alumni SMPN 2 Purbalingga lulusan tahun 1984, tidak semuanya memiliki cerita bahagia dalam menapaki jalan hidupnya. Banyak yang telah sukses di sejumlah kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Semarang, Kalimantan, Riau, dan sejumlah kota-kota lainnya, namun ada juga beberapa alumni yang harus berjuang untuk menghidupi dirinya sendiri dan keluarga. Justru kekuatan inilah yang mendorong para alumni Paskal 84 untuk bertekad berkumpul untuk saling berbagai.

“Saya bangga punya teman-teman yang telah sukses di pekerjaan. Saya juga bangga karena teman-teman tidak lupa dengan saya dan mau memperhatikan kehidupan saya bersama keluarga. Dorongan dari teman-teman, seolah lebih mendorong kembali saya untuk bersemangat menjalani hidup ini,” tutur Sumin, alumni yang kini masih bergelut sebagai petani kecil dan penderes nira kelapa di tempat tinggalnya di Desa Sidanegara, Kecamatan Kaligondang, Purbalingga.  Ketika mengungkapkan hal itu didepan teman-temannya, sorot mata kesedihannya memang tak bisa ditutupi. Tetapi inilah kehidupan.

Lain Sumin, lain pula Ratum. Setelah malang melintang di Jakarta berpuluh tahun, akhirnya ia kembali ke kampung halamannya di Desa Palumutan, Kecamatan Kemangkon, Purbalingga. Pekerjaan serabutan yang dijalaninya di Jakarta hanya berbekal ijasah STM Pertanian, ternyata hanya sedikit mengangkat kehidupannya. Namun, Ratum tetap bersyukur dan seolah mendapat dukungan untuk menemuki pekerjaannya sebgai penderes kelapa yang dijalaninya lima bulan terakhir.

Kesaksian sosok kehidupan Sumin dan Ratum, yang semakin mendorong alumni Paskal 84 untuk bisa membantu kehidupannya. “Kami ingin berbagi kebahagian dengan teman-teman kami yang kurang beruntung. Mereka adalah salah satu bagian yang pernah mengisi kehidupan kami ketika sama-sama menuntut ilmu di SMPN 2 Purbalingga,” kata Dra Martina Henny Purwantini, salah satu penggagas acara reuni. Heny yang boleh dibilang telah menapaki kehidupan yang sukses di Jakarta.

Ketua panitia Reuni, Anjar Suanto, S.Pd  mengungkapkan, temu alumni Paskal 84 sebagai ajang untuk saling menjalin tali silahturahmi yang telah lama putus, saling mengunjungi, saling membantu dan saling mendoakan. “Reuni ini telah kami siapkan sejak satu tahun lalu. Kami ingin menyatukan dalam satu persaudaraan baik sesama alumni, maupun dengan guru-guru di SMPN 2 Purbalingga,” kata Anjar Suanto.

Dalam reuni itu juga dihadiri kepala SMPN 2 Purbalingga Windiyayanti, para guru seperti Toto Endargo, Edi Suwatno, Ike Nurbaik Adam, dan Gatot Hadianto Prabowo. Panitia alumni juga sempat memberikan sumbangan berupa satu unit komputer untuk sekolah.

Sementara itu, Humas Panitia Ir Prayitno, M.Si mengungkapkan, konsep reuni kali ini dikemas dalam pesta kebun. Para alumni yang membawa anak-anak dan keluarganya diberikan kebebasan untuk menikmati arena outbond di Munjuluhur Adventure Zone. Sementara, sang bapak atau sang ibu bergembira melepas kangen dengan menggelar berbagai acara. Hiburan lengger Banyumasan dan organ tunggal semakin menambah semarak suasana. Suara ledakan puluhan mercon yang menggambarkan bandelnya ketika masih SMP ternyata juga dilakukan ditengah-tengah acara. Bukan rasa kaget yang didapat, tetapi justru saling tawa usai rentetan petasan itu meledak. Hal yang unik, seluruh alumni diberi ID card yang berisi pas foto hitam putih saat di SMP dulu.

“Panitia membagikan door price dan kado kepada para alumni yang beruntung. Juga dibagikan souvenir sebagai kenang-kenangan. Tak lupa, panitia juga membantu  teman-teman alumni yang masih belum beruntung dalam kehidupannya,” kata Prayitno. (BNC/tgr)

DSC_0272

Tentang Penulis

Leave A Response