Cerpil: Nanang Anna Noor

Ditulis 07 Sep 2010 - 21:08 oleh Banyumas1
|
Berita Kategori
Tak Berkategori
169
Dalam Tag

Merobek Kabut (01)

nanangjadi

UDARA kota Semarang panas. Padahal sehari sebelumnya hujan turun deras dari pagi hingga malam. Musim sepertinya tak menentu.

Dinda kembali mengerang. Suaranya jelas terdengar diruang berasalin. Dokter kandungan yang sejak tadi berusaha memacunya, bayi itu tak juga keluar. Wanita berpakaian putih putih itu sesekali menyeka keringat yang mengucur dari wajahnya.

Dinda kembali mengerang. Tangan kirinya menggenggam erat Luki , sang suami yang sejak tadi menemaninya. Dokter kembali meminta Dinda menghirup udara dalam dalam,mengumpulkan tenaga untuk membantu keluarnya sang jabang bayi.

Dokter menggelengkan kepala. “ Sudah hampir empat jam, kita belum berhasil mengeluarkan bayi ini,” ujarnya sedikit gugup. Dua perawat yang mendampinginya hanya terdiam.

Diluar ruang bersalin sepasang suami istri terlihat gelisah. Berkali kali mendekati pintu kamar bersalin. Dinda, anak sulungya tengah berjuang mati matian, melahirkan anak kedua dari perkawinan mereka 9 tahun lalu.

Pintu ruang berhasil terbuka, dokter keluar. Sepasang suami istri itu langsung memburu dokter. Dokter mengajak mereka ke sebuah ruangan. “ Mari pak dan bu, kita bicara di dalam,” ujar dokter serius. Melihat raut sang dokter,kedua orang tua Dinda tiba tiba seperti disergap rasa khawatir.

“ Ada apa dok, apakah anak saya baik baik saja,” sergap wanita berparas manis itu tak sabar. Dokter sangat paham kekhawatiran wanita itu. Karena sudah lewat empat jam tubuh bayi itu tak juga bisa keluar.

“ Harus dengan cesar?” ayah Dinda sedikit terkejut.

“ Ya pak dan itu harus segera dilakukan,” jawab dokter.

“ Lakukan saja dok, secepatnya,” wanita itu kembali seperti tak sabar.

Saat ketiganya keluar ruangan, seorang laki laki terlihat tergopoh gopoh. Kedua orang tua Dinda terkejut melihat kedatangan laki laki yang sangat mereka kenal itu.

“ Dandi, lho kok,?”

“ Iya bu lik , pak lik, saya kebetulan lagi di Semarang. Saya dikabari Nunik, katanya Dinda mau melahirkan. Makanya langsung kesini,” ujar lelaki yang dipanggil Dandi tersebut.

Kedua orang tua itu terlihat masih terheran heran. Dandi , saudara dekat yang selama ini menghilang dan tak pernah berkunjung ke rumah. Tiba tiba muncul. “ Sekarang Dinda dimana bu lik,” ujar Dandi memecahkan keheranan kedua orang tua tersebut. Bu Lik menunjuk ruangan, Dandi langsung masuk .

Seperti angin yang tiba tiba berhembus keras menerpa dada. Ruangan bersalin dan beberapa perangkat medis seperti bergetar.  Dandi masih dengan menggendong tas dipunggunya, menerobos dua orang perawat yang berada disisi ranjang.

“ Mas…” Dinda terhenyak , setengah berteriak melihat kedatangan Dandi. Lelaki yang masih saudara dekat itu merapat ke ranjang. Dinda memandangi suaminya yang terlihat terkejut melihat kedatangan Dandi.

“ Dik, “ Dandi menyalami Luki. Luki menggerakan bibirnya mencoba tersenyum.

Seperti udara sejuk yang tiba tiba masuk kedalam ruang bersalin. Tubuh Dinda mendadak bergerak seperti menahan sakit. Dinda kembali mengerang, nafasnya terus terpacu. Dua perawat sigap membuka selangkang. Dandi menangkap dan menggenggam kuat kuat tangan kanan Dinda yang sejak tadi meremas remas sprei kasur.

“ Ayo kamu pasti kuat Dinda, pasti kuat,aku tahu kamu wanita yang kuat. Ayo dinda” Dandi memberi semangat. Melihat orang asing di ruang itu,  perawat meminta Dandi keluar,

“ Tenang mba perawat, ini adiku, biarkan saja aku membantunya,” ujar Dandi.

Dinda terus mengerang bersamaan dengan itu dokter datang.

Hanya dalam hitungan menit, suara tangisan bayi memecah ketegangan di ruang berukuran 4 x5 mater itu. Hembusan nafas lega seperti mengakhiri perjuangan Dinda.

“ Maaf mas mas keluar ya,” ujar dokter.

Dandi keluar disusul Luki. Dua orang tua yang sejak tadi gelisah langsung menyambut.

“ Gemana Luk, bayinya selamat dan sehat khan,” ujar Bu Lik menyambut Luki sembari menutup pintu kamar bersalin. Awan putih dan berbinar di wajah mereka (bersambung)

Tentang Penulis

& Komentar so far. Feel free to join this conversation.

  1. Yuyun 29/05/2013 pukul 22:34 -

    kayaknya ini ceritera nyata penulisnya deh….

  2. ani 17/09/2010 pukul 15:12 -

    ehem…. trussss…………om..

  3. Banyumas1 16/09/2010 pukul 09:54 -

    Cerpil Nanang Anna Noor muncul setiap sepekan sekali. Ikuti terus ceritanya

  4. esti widyanting 16/09/2010 pukul 09:44 -

    bikin penasaran. Mana episode berikutnya. Jangan pakai lama dong mas

  5. norma kyut 14/09/2010 pukul 17:43 -

    Mau cerita lengkapnya dong um

  6. Fina Dyahningrum 14/09/2010 pukul 16:47 -

    Heh…. mas…ketemu lagi. Beruntung saya menemukan panjenengan. Lama tak berjumpa. Cerpen cerpen panjenengan yang dulu masih ada di kamar kostku. Majalah itu saya kliping lho mas…..
    Cerpen saya kemarin naik di majalah lokal…malu dehhhhhhhhhh

    Salam kreatif ya mas

    Ffifin Bocah Crewettttttsss Tapi kalem…..

Leave A Response