Djasri: Menjaga Kelestarian Lingkungan itu Ibadah

Ditulis 29 Agu 2010 - 15:20 oleh Banyumas1

Bupati Banjarnagara. M Djasri (foto:dok/BNA/BNC)

BANJARNEGARA – Melimpah ruahnya air dengan kejernihannya rupanya membawa kesan mendalam bagi Bupati Drs. Ir. Djasri, MM, MT saat bertarawih keliling di dusun Majatengah, Desa Purwadadi, Kecamatan Karangkobar, Kamis (26/08). Menurutnya, kemudahan tersebut berbeda dengan yang dijumpai di kota. “Warga kota banyak yang mengandalkan air PAM yang pemanfaatannya pun harus bayar. Di Majatengah ini, selain air jernih dan melimpah, juga gratis” ujarnya.

Oleh karena itu, pesan Bupati, rawatlah kemurahan alam ini dengan baik. Ia mengingatkan hutan menghijau yang melingkari wilayah desa ini merupakan penangkar air hujan terbaik yang alam berikan dan sekaligus penjaga cadangan air. Dari sanalah sumber air yang melimpah ruah tersebut berasal dan terjaga keberlangsungannya. “Bersyukurlah atas kemurahan yang diberikan oleh Allah SWT dengan cara jangan main babat alas sak enake. Karena tindakan pengundulan hutan itu akan menjadi awal kerusakan alam dan lingkungan sekitarnya” urainya.

Ketika alam telah rusak, lanjutnya, butuh waktu lebih lama untuk memulihkannya. Dibutuhkan waktu puluhan tahun, bahkan ratusan tahun untuk mengembalikannya. Itupun dibutuhkan kerja keras, biaya yang sangat besar dan komitmen yang tinggi pada kelestarian lingkungan. “Bahkan karena kompleksitas permasalahan, bisa jadi hutan yang telah hilang tak akan pernah kembali lagi. Karena itu, sekali lagi jaga kelestariannya. Pada emana karo anak putu” tegasnya.

Menurut saya, lanjut Djasri, menjaga kelestarian hutan juga ibadah. Karena tindakan itu didasarkan untuk kebaikan orang banyak. Bahkan untuk generasi berikut juga. “Apalagi di bulan puasa, pahalanya bisa berlipat-lipat” katanya.

Ia melanjutkan, jangan sampai kita mewariskan alam yang telah rusak. Kasihan generasi berikut. “Alangkah sedihnya bila air yang jernih tersebut berubah menjadi coklat dan lama-lama menghilang dari kampung kita. Na’udzubillahimindalik…jangan sampai ya…” katanya.

Berkait dengan aspirasi warga tentang pembangunan tempat wudhu masjid Baiturrohman yang belum selesai, Djasri menyampaikan bantuan dari Pemkab sebesar Rp 1,5 juta. “Kekurangannya silahkan dipenuhi oleh para jamaah” ujarnya.

Ia mengingatkan, sebaik-baiknya tempat ibadah adalah bila dibangun dari hasil keringat jerih payah jamaah sendiri. Selain bangga, lanjutnya, pahalanya menjadi tidak kemana-mana tetapi kembali untuk sangu akhirat warga dusun Majatengah, desa Purwodadi sendiri. Pahalanya akan terus mengalir sepanjang masjid tersebut terus dimanfaatkan. “Apa mau pahala membangun masjid ini jadi milik Djasri semua?” tanya Djasri retoris.

Camat Karangkobar, Drs. Agus Kusuma, MM juga ikut menyampaikan aspirasinya tentang penanganan sampah di pasar Karangkobar yang senantiasa menggunung dan sulit mengatasinya. Selain memunculkan bau tidak sedap, tumpukan sampah tersebut juga tidak enak dipandang mata. “Bila banjir limbahnya ke mana-mana” urainya.

Sementara itu, ustad pengisi materi H. Afit Juliete, S. Ag., MA dari Pagentan dalam materi yang disampaikan mengingatkan para jamaah untuk memanfaatkan bulan ramadhan ini untuk mempelajari Al Quran. “Al Quran harus bersemayam di dalam hati” urainya.

Cara untuk menanamkan dalam hati adalah dengan cara membacanya, memahami artinya, mengamalkannya dan terakhir adalah mengajarkannya. Maka alangkah kasihan orang-orang Islam yang meninggalkan Al Quran dan hanya menjadikannya hiasan rumah belaka. “Rumah-rumah yang tidak pernah di dalamnya dibacakan Ayat-ayat Al Quran, akan dihuni oleh Setan dan Jin” katanya (BNC/eko).

Tentang Penulis

Leave A Response