PP Muhammadiyah Tanpa Perempuan

Ditulis 07 Jul 2010 - 20:34 oleh Banyumas1

Yogyakarta – Meski 13 anggota Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah terpilih, bahkan telah ditetapkan Prof Din Syamsuddin kembali menjadi ketua umum dan Agung Danarta sebagai sekretaris umum, namun persoalan keterwakilan perempuan di ormas Islam itu belum juga jelas. PP Aisyiyah pun bertekad akan terus mendesakkan keterwakilan perempuan hingga ke tingkat pimpinan wilayah.

“Sebenarnya lucu karena keanggotaan Muhammadiyah itu ada laki-laki dan perempuan. Tapi, tidak apa-apa. Kami para anggota Aisyiyah akan tetap berkiprah secara ikhlas sesuai potensi yang kami miliki,” ujar Ketua Umum PP Aisyiyah periode 2005-2010, Prof Dr Siti Chamamah Soeratno, di arena muktamar Aisyiyah, Rabu (7/7), menanggapi tidak diresponnya nota keberatan Aisyiyah terhadap Muhammadiyah.

Seperti diberitakan sebelumnya, PP Aisyiyah sempat melayangkan protes dengan nota keberatan kepada panitia pemilihan dan PP Muhamamdiyah karena dari 39 orang calon tetap anggota PP Muhamamdiyah 2010-2015 ketika itu tidak ada seorang pun wakil perempuan. Nota keberatan itu pun ditandatangani 33 pimpinan wilayah Aisyiyah.
Namun, hingga ketua dan sekretaris umum PP Muhammadiyah 2010-2015 terpilih secara definitif, kabar nota keberatan dari ‘ibu-ibu’ Muhammadiyah itu tak terdengar lagi. Meski sempat berembus isu akan ada penambahan jumlah anggota PP Muhammadiyah, namun kabar itu pun juga tak ada tindaklanjutnya.

“Saya kira, jumlah anggota PP Muhamamdiyah saat ini perlu ditambah. Tapi, bukan karena untuk mengakomodir perempuan maupun figur muda seperti diembuskan di arena muktamar. Penambahan, kalau pun dilakukan, lebih karena tantangan serta persoalan Muhamamdiyah di bad keduanya akan jauh lebih kompleks sehingga membutuhkan personil yang ekstra pula,” kata Sekum PP Muhammadiyah 2010-2015, Agung Danarta.

Begitu pula dalam sidang komisi, beberapa peserta sempat melontarkan keberatan jika muncul unsur perempuan di dalam PP Muhammadiyah. Mereka beralasan, perempuan Muhammadiyah sudah memiliki wadah Aisyiyah. Jadi, biarlah isteri tetap isteri dan suami tetap suami.

Prof Chamamah dengan enteng menanggapi hal itu. “Biarkan saja kalau masih ada warga Muhammadiyah yang memiliki sikap seperti itu. Tidak apa-apa, kami kaum perempuan akan tetap bekerja dan berkarya. Apa pun, landasan di Muhammadiyah itu amanah,” katanya.

Hanya saja, jika dulu perempuan Muhammadiyah akan diam, mengalah, menerima kenyataan apa adanya, sekarang tidak bisa lagi seperti itu. “Kami akan bunyi, teriak, terus bersuara hingga aspirasi tersampaikan dan terpenuhi. Kami akan menunjukkan kaum perempuan Muhammadiyah itu seorang yang intelek, militan, cerdas, seperti yang diteladankan Aisyiyah isteri Rasulullah,” tandas Chamamah.

Tekad lebih keras justru ditunjukkan Dra Siti Noordjannah Djohantini MM MSi. “Sebagai tindaklanjut nota keberatan itu, kami akan mendorong pimpinan wilayah Aisyiyah untuk juga mendesakkan persoalan itu ke pimpinan wilayah Muhamamdiyah masing-masing,” kata Siti. (BNC/tgr)

Tentang Penulis

Leave A Response