MA Terlalu Gemuk Tangani Kasus

Yogyakarta – Peneliti dari Lembaga Kajian dan Advokasi untuk Independensi Peradilan (LeIP) Dian Rositawati menilai Mahkamah Agung (MA) saat ini terlalu banyak menangani kasus. Diperlukan kebijakan pembatasan perkara agar tidak semua kasus ditangani MA. “Setiap tahun, MA menangani sekitar 10 ribu kasus. Ironisnya, diantara kasus itu ada yang Cuma kasus ringan dan sepele,” kata Dian di Yogyakarta, Jum’at (2/7).

Diungkapkan Dian, pada tahun 2006, MA memutus 24.826 kasus. Kemudian tahun 2009, kasus yang diputus sebanyak 20.820. “Meski MA sudah mereformasi diri sejak tahun 2000, namun jumlah kasus yang ditangani masih terlalu banyak. Perlu kebijakan restrukturisasi yang ketat lagi di tubuh MA,” katanya.

Menurut Dian, masih ada kekeliruan pemikiran bahwa pengadilan di semua level sama. Penyelesaian sengketa mestinya dilakukan di pengadilan pertama. Pengadilan kedua fungsinya mereview, sedangkan kasasi atau MA fungsinya menjaga kesatuan tingkat hukum. Sementara fungsi MA adalah mengawasi efektivitas pengadilan di bawahnya.

Yang terjadi saat ini, lanjut Dian, justru MA membuka kran sebesar-besarnya untuk semua penyelesaian kasus. Hasilnya, hampir semua kasus naik ke tingkat kasasi. MA kebanjiran perkara dan sulit menghasilkan putusan yang berkualitas. “Pengajuan Peninjauan Kembali (PK) seharusnya dibatasi. Tidak semua kasus bisa dinaikkan ke tingkat kasasi. Hanya bila ada novum baru, kasus dapat naik ke MA. Melalui cara ini, kasus yang ditangani MA tidak terlalu banyak,” ujarnya. (BNC/tgr)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.