Bupati Ajak Masyarakat Lindungi Satwa

Ditulis 17 Jun 2010 - 15:40 oleh Banyumas1

Purbalingga – Memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Bupati Purbalingga Triyono Budi Sasongko mengajak masyarakat Purbalingga melindungi satwa-satwa asli jawa, termasuk burung-burung liar yang kini semakin langka karena perburuan yang membabi buta. Tak hanya satwa, berbagai flora termasuk tanam-tamanan dan berbagai jenis buah-buahan lokal juga mendesak untuk dilindungi dan dibudidayakan.

“Saya ingin mengajak kita semua untuk merenung sejenak tentang kondisi alam kita yang semakin rusak. Beraneka burung, satwa asli jawa, tanam-tanaman dan berbagai jenis buah-buahan yang pada masa kecil saya mudah sekali didapat, saat ini menjadi semacam dongeng bagi anak-anak kita,” ujar Bupati dalam sambutan Upacara 17-an Bulan Juni yang dirangkai Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2010 di Pendopo Dipokusumo, Kamis(17/6).

Ternyata keresahan bupati juga menjadi keresahan dunia saat ini. Terbukti, United Nations Environment Programme pada Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2010 yang diperingati di Kigali, Rwanda, mengambil tema “Many Species, One Planet, One Future”. Sejalan dengan itu, pada peringatan yang sama, Indonesia juga mengusung tema “Keanekaragaman Hayati, Masa Depan Bumi Kita”. Bahkan pada tahun 2010 inipun telah ditetapkan sebagai “Tahun Keanekaragaman Hayati Internasional”.

Gaya Hidup Ramah Lingkungan

Pada kesempatan yang sama, Bupati juga mengajak warga Purbalingga untuk tidak memburu burung-burung atau satwa lain baik untuk diperjualbelikan maupun pemenuhan hobi. Bupati juga mengajak warga Purbalingga untuk menjadikan ramah lingkungan sebagai gaya hidup. “Mulailah membudayakan diri dengan menanam pohon terutama untuk menandai saat-saat penting dalam hidup kita, seperti pernikahan, kelahiran anak, atau bentuk syukuran setiap kali kita memperoleh berkah Tuhan,” tambahnya.

Gaya hidup ramah lingkungan juga termasuk membiasakan diri dengan  3R, yaitu Reuse, Reduce, danRecycle. Reuse atau memakai kembali berarti menggunakan kembali barang-barang yang masih layak kita pakai, bukan membuangnya. Reduce atau mengurangi. Sebagai contoh, membeli gado-gado tanpa plastik, tapi membawa wadah dari rumah. Karena plastik sangat sulit diurai tanah. Reduce ini termasuk dengan mengurangi pemakaian energi yang berlebihan. Sebagai contoh menggunakan kendaraan umum, sepeda atau jalan kaki daripada sepeda motor pribadi jika hanya untuk ke tempat-tempat yang dekat. Recycle atau daur ulang, misal dengan memisahkan sampah organik dan sampah non organic sehingga memudahkan pemulung mengambil sampah yang bisa didaur ulang.

“Mungkin kita saat ini belum bisa menikmatinya, namun anak cucu kita nantinya akan sangat berterima kasih karena menerima warisan kekayaan hayati dan lingkungan yang lestari,” tegasnya. (BNC/cie/tgr)

Tentang Penulis

Leave A Response