KPAI : Mayoritas Motif Penculikan Anak, Rebutan Kuasa Asuh

Ditulis 07 Jun 2010 - 19:15 oleh Banyumas1

Magelang – Pelaku penculikan anak tidak selalu identik dengan orang yang tidak dikenal oleh korban atau keluarga korban. Komisi Perlindungan Anak

Drs Hadi Supeno, M.Si

Drs Hadi Supeno, M.Si

Indonesia (KPAI) mencatat, mayoritas pelaku dalam kasus penculikan anak adalah orangtua korban karena berebut kuasa asuh.

Ketua KPAI Drs Hadi Supeno MSi mengemukakan, 95 dari 167 kasus penculikan anak dalam tiga tahun terakhir, dilakukan oleh keluarga korban. Sisanya dilakukan oleh orang luar dengan motif beragam seperti adopsi, perdagangan manusia dan transplantasi organ tubuh.

‚ÄúBerdasarkan data-data itu menunjukkan, bahwa sekitar 70 persen kasus penculikan anak dilakukan oleh orangtua korban sendiri yakni pihak ayah atau pihak korban,” kata Hadi Supeno, Senin (07/06).

Tingginya angka penculikan anak oleh keluarga sendiri, menurut dia, sebagai efek atas perebutan kuasa asuh karena perceraian, baik sebelum maupun pascaputusan pengadilan. Sekitar 42% dari 600 pengaduan langsung soal perebutan kuasa asuh, antara pihak suami istri pasangan cerai.

Salah satu pihak ingin menguasai penuh atas hak asuh anak dari hasil perkawinan mereka yang tidak dapat dipertahankan. “Karena tidak ditemukan kompromi, dilakukan pemaksaan dengan cara menculik,” kata Hadi Supeno.

Namun, kata dia, cukup banyak kasus perceraian yang sudah diputus pengadilan tak dapat dieksekusi karena ketika putusan terbit, anak sudah dalam pengasuhan pihak mantan pasangan yang kalah. Pihak yang menang di pengadilan, kemudian menempuh upaya paksa.

Penyebab lain, lanjut Hadi Supeno, karena merasa dipersulit untuk bertemu sang anak, maka mantan pasangan memilih menculik si anak. Walau pihak keluarga sebagai pelaku penculikan anak, katanya, tindakan itu berpotensi kekerasan terhadap anak. (BNC/tgr)

Tentang Penulis

Leave A Response