Money Politics Ciderai Pilkada Kebumen

Ditulis 06 Jun 2010 - 16:51 oleh Banyumas1

Kebumen – Menjelang waktu pemungutan suara pada Pilkada Kebumen (Jateng) putaran II, Minggu (06/06/2010) praktik politik uang semakin marak. Salah satunya, terungkap di Dusun Jetis, Desa Kutosari, Kecamatan Kota Kebumen. Sejumlah warga mengaku memperoleh uang wuwuran rata-rata sebesar Rp 10.000.

Salah satu penerima uang Siti Rohiyah (55) warga RT 02/RW 02 mengaku diberi uang sebesar Rp 10.000. Menurutnya, uang tersebut diberikan tanpa amplop dan tanpa disertai alat peraga kampanye. Dia juga mengaku tidak disuruh untuk memilih kepada salah satu pasangan calon. “Wong dikasih yang saya terima saja,” kata Rohiyah, Minggu (06/06/2010).

Sementara itu sejumlah warga yang tidak mendapat pembagian uang menyatakan tidak akan menggunakan hak pilihnya. Seperti yang disampaikan oleh Daloh (38) warga Gang Platuk, Kelurahan/kecamatan Kebumen ini. “Tidak dapat duit yang tidak nyoblos,” katanya.

Ketua Pawaslu Kabupaten Kebumen Suratno ketika dikonfirmasi mengenai maraknya money politik menyatakan telah meminta pengawas Panwascam dan PPL untuk melakukan pengawasa di wilayahnya masing-masing. Pengawasan praktek politik uang ini juga melibat sejumlah LSM. “Kami terjunkan beberapa petugas dan LSM untuk mengawasi kecurangan Pilkada,” katanya. (Py)

Secara terpisah, Wakil Sekretaris DPD Partai Golkar Kabupaten Kebumen, Halimah Nur Hayati mengungkapkan, pihaknya sudah melihat gelagat adanya politik uang disejumlah wilayah khususnya di desa-desa. “Kami memantau pesta demokrasi putaran kedua ternyata mulai diwarnai praktik politik uang. Hal ini sungguh menyakitkan,” kata Halimah.

Menurut Halimah, cara-cara kotor, politik uang, itu telah mengoyak proses demokrasi. Persaingan dua cabup – cawabup Kiai HM Nashiruddin Al Mansyur – Probo Indartono SE MSi (Nashpro) dengan Buyar Winarso SE – Djuwarni AmdPd pun  semakin panas oleh isu tersebut. “Praktik politik uang jangan sampai terjadi lagi seperti pada pemilukada putaran I lalu,” kata Halimah.

Dikatakan Halimah, kekalahan pasangan Drs Poniman Kasturo – Nur Afifatul Khoeriyah saat mengikuti Pemilukada putaran pertama disebabkan karena praktik politik uang dari salah satu pasangan cabup – cawabup.

Halimah menghimbau masyarakat untuk mengantisipasi adanya serangan fajar. “Kami berharap, persaingan antara dua pasangan calon tersebut berjalan sehat dan demokratis,” tandasnya.

Halimah menambahkan, parpol pendukung Nashpro yang terdiri dari Partai Demokrat, PKB, Hanura, PDIP dan Golkar tidak ingin kebobolan suaranya hanya gara-gara serangan fajar. “Modal perolehan suara yang diklaim Tim Sukses Nashpro sebesar 72,98 itu harus diamankan hingga pelaksanaan pencoblosan Minggu (6/06). (BNC/tgr)

Tentang Penulis

Leave A Response