Aku kapok golet kayu, arep macul bae nang kebon

Ditulis 04 Jun 2010 - 19:50 oleh Banyumas1

Banyumas – Hukum agaknya belum berpihak kepada rakyat miskin. Tak terkecuali kepada bocah desa, Wito bin Marsum (15) warga Desa Panusupan, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas. Hanya gara-gara mengambil beberapa ranting untuk kayu bakar, Wito harus menjalani persidangan di Pengadilan Negeri Purwokerto.

Hari Kamis (3/6) menjadi hari yang sedikit melegakan bocah lugu ini. Meski hakim tunggal Harto Poncono, SH memutuskan Wito bersalah telah mencuri kayu bakar di wilayah Perhutani tidak jauh dari tempat tinggalnya, namun vonis yang dijatuhkan Wito dikembalikan kepada orang tua untuk dibina. Dengan demikian Wito tidak perlu menjalani hukuman penjara.

Wito yang mengaku kapok mencari kayu bakar untuk membantu orang tuanya.

Wito yang mengaku kapok mencari kayu bakar untuk membantu orang tuanya.

Usai persidangan yang berlangsung tertutup, pengacara Wito, Rahardian Prasetyo dan Nina Trisnowati mengatakan, meski terbukti bersalah namun ada beberapa pertimbangan hakim yang membuat Wito hanya divonis dikembalikan kepada orang tuanya. Pertimbangan tersebut antara lain, terdakwa hanya mencuri kayu untuk dipergunakan sebagai kayu bakar, terdakwa menyesali perbuatannya serta masa depan terdakwa masih panjang.

“Selain itu, terdakwa juga masih anak-anak dan pihak desa menyatakan sanggup untuk membina Wito. Atas dasar pertimbangan tersebut, hakim menjatuhkan hukuman, terdakwa dikembalikan kepada orang tuanya,” kata Rahardian.

Wito yang sedikit terbelakang mental tampak masih bingung dengan putusan hakim. Meskipun ia tidak dipenjara, tetapi mimik muka Wito tampak biasa saja. Sesudah dijelaskan dengan bahasa ‘Banyumasan’ oleh pengacaranya, baru Wito tampak lega dan tersenyum.

Aku kapok golet kayu, arep macul bae nang kebon (Saya jera mencari kayu, mau mencangkul saja di kebun-red),” kata Wito saat ditanya tentang perasaannya sesudah divonis bebas.

Pasca vonis ini, Wito mengaku hanya akan membantu ayahnya yang bekerja sebagai buruh tani di sawah. Ia tidak mau lagi jika diajak mencari kayu.

Kepala Desa Panusupan, Sukur Aminudin yang selalu mendampingi Wito dalam setiap sidang menyatakan, bersyukur dengan vonis bebas yang diterima Wito. Menurut Sukur, Wito sama sekali tidak berniat mencuri, dan hanya karena ketidaktahuannya saja sehingga ikut ajakan teman-temannya mengambil kayu di hutan milik Perhutani.

“Persidangan Wito menjadi pelajara berharga bagi kami. Kami akan intensifkan koordinasi dengan pihak Perhutani, agar kasus seperti ini tidak terulang lagi. Perhutani seharusnya juga lebih bijaksana dengan melibatkan LMDH (Lembaga Masyarakat Desa Hutan) yang sudah dibentuk dalam setiap permasalahan di desa setempat,” kata Sukur. (BNC/tgr)

Tentang Penulis

Leave A Response