Bermain “Othok-othok Keliling Desa Sambil Pamerkan Batik

Ditulis 03 Jun 2010 - 22:15 oleh Banyumas1
GEBYAR BATIK-- Inilah kreativitas siswa -siswi  SDN 2 Gumelem Wetan, Kecamatan Susukan, Banjarnegara. Mereka mengenakan baju batik  bikinan mereka sendiri,  sambil  berkarnaval keliling Desa Gumelem Wetan  memamerkan permainan tradisional anak-anak yang mulai langka, yakni othok-othok. (BNC/prs)

GEBYAR BATIK-- Inilah kreativitas siswa -siswi SDN 2 Gumelem Wetan, Kecamatan Susukan, Banjarnegara. Mereka mengenakan baju batik bikinan mereka sendiri, sambil berkarnaval keliling Desa Gumelem Wetan memamerkan permainan tradisional anak-anak yang mulai langka, yakni othok-othok. (BNC/prs)

Banjarnegara – Tangan-tangan mungil siswa -siswi SD Negeri 2 Gumelem, Kecamatan  Susukan, Banjarnegara begitu piawai memproses batik. Mereka sudah biasa memegang canting, mencelupkan ke dalam cairan lilin, lalu meniupnya, dan menorehkan di kain hingga menjadi kain batik.

“Di SDN 2 Gumelem Wetan ini membuat batik memang masuk dalam kurikulum mulok (muatan lokal, red), sehingga para siswanya sudah tidak canggung dan asing dengan proses membatik,” ujar Ari Sudarti, S.Pd, Kepala Sekolah SDN 2 Gumelem Wetan di sela-sela menerima kunjungan Kepala Dinas Pendidikan , Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Banjarnegara,Wiwit Sulistyo, S.Sos, MM di SDN 2 Gumelem Wetan, Kamis (3/6).

Menyertai Dindikpora Banjarnegara dalam kunjungannya itu, yakni Wakil Ketua Dekranasda, Wiwi Soehardjo, Camat Susukan, Kamsidhi, BA dan beberapa pejabat terkait.

Di SDN 2 Gumelem Wetan, kemarin memang sedang digelar acara  “Gebyar Batik”. Jelasnya,  semua siswa-siswi memakai batik kreasi mereka sendiri untuk karnaval keliling desa memamerkan mainan tradisional othok-othok dari barang bekas buatan sendiri juga.

Dipilihnya  permainan othok-othok ini, karena jenis permainan tradisional ini semakin langka, dan tidak disukai lagi oleh anak-anak jaman sekarang, khususnya yang tinggal di kota. Dan othok-othok itu, adalah buatan para siswa SDN 2 Gumlem Wetan, yang bahan bakunya dari bambu dan bekas kaleng susu .

Karnaval Othok-othok ini berlangsung meriah . Semua siswa mengaku  bangga memakai batik buatan tangan mereka sendiri. “Pakaian ini yang membatik saya sendiri lo….bagus ya Om….,” ujar Agus Indarto, salah satu siswa.

Kepala SDN 2 Gumelem Wetan Ari Sudarti menambahkan,  pihaknya  memang mewajibkan siswa siwinya  untuk melakukan penyesuaian program kegiatan pendidikan dengan kekhasan kondisi daerah. Kebetulan, di Desa Guelem Wetan yang juga  desa wisata  dikenal  sebagai sentra batik ternama di Banjarnegara.

“Terkait dengan pengembangan batik Gumelem, saya merasa ini tanggung jawab kita bersama, terutama bapak ibu guru untuk menyiapkan regenerasi pada anak didiknya. Di masa depan, saya yakin batik Gumelem akan bisa bersaing dan bernilai jual tinggi sehingga bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” tambah Winarso.

Wiwi Soehardjo selaku Wakil Ketua Dekranasda Kabupaten Banjarnegara juga menyatakan kebanggaannya pada kreativitas siswa-siswi SDN 2 Gumelem Wetan. “Semangat mereka sungguh menggugah kami, ditengah keterbatasan fasilitas sarana dan prasarana sekolah mereka tetap mampu berkarya. SD ini harus dijadikan percontohan mulok membuat batik sehingga bisa dicontoh oleh sekolah lain,” ujar Wiwi antusias.

Dalam acara tersebut hadir pula tokoh pelestari Batik Gumelem, Mu’minah dan Suryanto, yang mengaku terlibat langsung dalam proses pembelajaran siswa-siswi SDN 2 Gumelem Wetan. Sebagai tokoh pembatik muda di desa Gumelem, Suryanto memang tergolong gigih dan pantang menyerah mengembangkan serta memperkenalkan batik gumelem ke luar kota.

“Batik Gumelem memiliki keunggulan dalam kualitas bahan dan pewarnaan dibandingkan produk batik daerah lain. Ini yang sedang kami kembangkan bersama pembatik lain agar menjadi nilai tawar batik Gumelem di masa depan,” ujar Suryanto.

Suryanto juga mengungkapkan kebanggaannya pada kesadaran generasi muda untuk mengembangkan batik khas Banjarnegara ini. “Banyak anak yang baru lulus sekolah menengah atas datang minta  diajari cara memproses batik. Antusiasme mereka jelas membesarkan hati kami untuk terus mengembangkan batik Gumelem yang mulai diminati masyarakat luas. Pesanan batik memang terus mengalir dari Purbalingga, Banyumas, Jogja, Solo, Bali dan beberapa kota lain. Omset kami dalam satu bulan bisa mencapai angka Rp.250 juta,” ujar Suryanto bangga. (BNC/prs/tgr)

Tentang Penulis

Leave A Response