Menikmati Gulai Melung di Pelosok Desa

Ditulis 01 Jun 2010 - 10:36 oleh Banyumas1

Sajian Gulai Melung, dagingnya dipisah dengan santan. (BNC/tgr)

Sajian Gulai Melung, dagingnya dipisah dengan santan. (BNC/tgr)

Para pencinta kuliner sejati bisa jadi bakal penasaran mendengar makanan jenis ini : Gulai Melung. Jika tertarik, datanglah ke Dusun Melung, Desa Larangan, Kecamatan Kejobong, Purbalingga. Meski lokasi warungnya berada jauh di desa, berjarak 28 kilometer arah Timur Kota Purbalingga, namun, tetap saja menjadi incaran kunjungan para penggemar gulai kambing.

Pemilik warung gule Ny Mariyati menjelaskan, gulai melung adalah gulai daging kambing, terdiri atas kuah, daging, tulang (balungan), kikil (kaki kambing), juga kepala kambing. Tampilannya sangat khas, yakni disajikan dengan ketupat, kuah terpisah, dan dagingnya disajikan di mangkuk.

Seorang Pelanggan sengaja datang ke Warung Bu Hadi yang berada di desa hanya untuk menikmati gulai Melung...(BNC/tgr)

Seorang Pelanggan sengaja datang ke Warung Bu Hadi yang berada di desa hanya untuk menikmati gulai Melung...(BNC/tgr)

Kuah gulai rasanya gurih. Aroma kuahnya wangi karena bumbunya yang komplet, seperti daun salam, sere, bawang, dan combrang. Combrang adalah tanaman perdu yang bisa menghilangkan bau amis daging kambing. “Lazimnya, masakan gulai sudah jadi satu dengan irisan daging, tapi di sini sejak dulu kuah dipisah,” kata Mariyati yang lebih dikenal dengan sebutan Bu Hadi.

Menurut Mariyati, gulai melung jamaknya dimakan dengan ketupat. Namun, juga tersedia nasi bagi penikmat yang menghendakinya. Untuk menyesuaikan rasa gurih dan pedas sesuai keinginan pelanggan, tersedia irisan cabai dan kecap.

Masakan rumahan

Gulai melung sudah digemari masyarakat di Kejobong sejak 1989. Awalnya, selama puluhan tahun gulai melung hanyalah masakan rumahan yang hanya dijual pasar tradisional Kejobong hanya pada hari Selasa dan Sabtu. Yang mengenalkan adalah Ny Moradjie yang juga kerabat Mariyati. “Budhe saya itu jualan gulai di pasar. Pelanggannya ya pedagang dan ibu-ibu di Pasar Kejobong,” kata Mariyati.

Pelanggan yang ketagihan lantas meminta keluarga Mariyati membuka warung. Harapannya, pelanggan tidak lagi hanya bisa membeli gulai di pasar yang hanya buka pukul 06.00-12.00. Akhirnya, sejak 2007 Mariyati memberanikan diri membuka warung gulai melung.

Bu Hadi tengah memasak gulai. (BNC/tgr)

Bu Hadi tengah memasak gulai. (BNC/tgr)

Rumah sederhana di tepi jalan tembus Purbalingga-Banjarnegara itu dirombak menjadi warung sederhana. Warung buka setiap hari pukul 09.00-18.00. Tidak dinyana, setelah buka di rumah, gulai melung semakin meroket namanya. Dalam sehari, untuk warung ini dibutuhkan satu ekor kambing. Namun jika akhir pekan, kebutuhan bisa meningkat menjadi dua ekor.

Penggemar gulai melung pun meluas. Tidak hanya pelanggan lama di pasar, tetapi juga para pejabat. Mereka ada yang berasal dari Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Pemalang, dan Semarang. (BNC/tgr)

Tentang Penulis

& Komentar so far. Feel free to join this conversation.

  1. Ragil 23/08/2011 pukul 04:49 -

    Jadi tambah penasaran, emang udah pernah dengar dari temen sih, katanya emAng yahuudd, tp belum tau rutenya?????????

  2. sulistiyani 02/12/2010 pukul 11:59 -

    senang rasanya, sebagai pengobat rindu kampung halaman, aku sendiri belum pernah coba masakannya, masalahnya aku gak makan kambing, seandainya gulainya dari daging sapi, pasti kalau aku pulang ke Kejobong, pasti aku mampir, sukses untuk warung gulainya dan maju terus kampungku

  3. adjie 24/08/2010 pukul 13:47 -

    wah…saya yang asli pengadegan malah belum nyoba… segera tak coba kalo pas mudik akh…tksh

Leave A Response