Tanaman Pakis Merbabu Diburu Warga Jepang

Ditulis 31 Mei 2010 - 19:34 oleh Banyumas1
|
Berita Kategori
Tak Berkategori
248
Dalam Tag

Tanaman Pakis Merbabu1Magelang – Para ibu rumah tangga di Jepang ternyata menggemari belanja tanaman hias termasuk tanaman pakis (Leatherleaf Fern -LF). Alokasi dana belanja tanaman hias masyarakat Jepang dalam satu tahun tak kurang dari 500 miliar Yen atau Rp 50 triliun

“Ibu-ibu rumah tangga di Jepang dalam membeli LF seperti bapak-bapak di Indonesia dalam membeli rokok,” kata Mr Tomita, seorang pengusaha tanaman hias dari Jepang saat berkunjung ke  Desa Jogonayan, Kecamatan Ngablak, Magelang. Tomita berkunjung ke Magelang untuk memastikan rencana pembelian tanaman pakis yang dibudidayakan petani di kawasan lereng Gunung Merbabu itu.

Menurut Mr Tomita, selain tanaman hias pakis yang disukai warga Jepang, beberapa tanaman hias jenis lain juga banyak dicari warga Jepang, seperti tanaman Chrisant, Anggrek dan Rose. Namun jenisnya khusus, dan benihnya berasal dari pembeli. “Soal harga dan ketepatan pembayaran, jangan khawatir,” kata Tomita, Senin (31/5).

Sementara itu, Kepala Dinas Dinas Pertanian Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Magelang, Ir Wijayanti M.Si mengatakan tanaman hias Pakis cocok dibudidayakan di dataran tinggi hingga 800 meter di atas permukaan air laut. Pada ketinggian sampai 2.000 meter, kualitas daunnya semakin baik. “Tapi pertumbuhannya agak lambat,” kata Wjayanti.

Dijelaskan Wijayanti, cara penanaman pakis Merbabu sekitar 60.000 batang per hektar. Usia panen setelah umur 15 bulan sampai umur 12 tahun. Waktu panen dapat setiap saat sepanjang tahun tergantung kriteria tanaman yang layak jual.”Untuk produksi awal, tiap tahun bisa dipanen minimal 600.000 tangkai daun sebagai produknya. Dengan harga paling murah Rp 500/tangkai ditingkat petani untuk ukuran yang paling kecil (grade S atau small),” kata Wijayanti.

Dalam satu hektar lahan dengan tingkat perawatan sedang, mampu menghasilkan nilai panen sekitar Rp 300 juta/tahun. Investasi awal memang agak besar, yaitu sekitar Rp 250 juta/ha. Tetapi itu hanya sekali saat awal tanam. Setelah itu, selama 12 tahun berikutnya, tinggal melakukan perawatan, pemupukan, pengendalian hama yang biayanya paling hanya sekitar Rp 25 juta/tahun.

“Semakin tua, produksi makin meningkat dan puncak pada umur empat sampai tahun mampu berproduksi rata-rata 1,5 juta tangkai per tahun,” kata Wijayanti. (BNC/tgr)

Tentang Penulis

Leave A Response