Pendidikan Karakter: Harapan Baru Membangun Peradaban Bangsa

Ditulis 28 Mei 2010 - 23:55 oleh Banyumas1
|
Berita Kategori
Tak Berkategori
225
Dalam Tag

Children are born with unique temperaments, needs and gifts. Some find it much easier to share their toys than others. Some feel horrible when they lie, while others seem to delight in deception. Some are timid; others show amazing courage and tenacity. But, no matter where children are born on these continuums, they have the potential to develop good character and become positive contributors to society ( Rita Sommers-Flanagan, Ph.D., and John Sommers-Flanagan, Ph.D.)
Paragrap pembuka di atas sangat menarik hati saya untuk menuliskan pendapat soal Pendidikan Karakter yang baru-baru ini diluncurkan dan menjadi tema besar peringatan Hari Pendidikan Nasional 2010. Meski dalam paragraf tersebut diarahkan pada anak-anak, saya tidak merasa bahwa tema ini akan sangat kedaluwarsa untuk era saat ini yang semuanya ber-mark-up serba instant dan mengandalkan kecanggihan teknologi. Tentu saja, tema ini justru mampu memberikan pompaan semangat atas munculnya rasa pesimis akan redupnya aura pendidikan di Indonesia. Kita hanya mempunyai satu kesempatan dalam mempersiapkan siswa untuk masa depan yang tak bisa diprediksi oleh siapa pun dari kita. Maka, apa yang akan kita lakukan dengan satu kesempatan ini?
Kita tahu, setiap anak mempunyai potensi untuk dikembangkan karakter positifnya sehingga mampu memberikan kontribusi yang baik juga untuk masyarakatnya. Anak, siapa pun dia, apa pun latar belakang yang membuatnya ada dan terlahir di dunia ini, berhak untuk dibantu mengembangkan karakter-karakter positifnya oleh orang-orang dewasa yang ada di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat di mana dia berada.
Idealnya, karakter positif lahir dari budaya-budaya positif. Dan budaya positif adalah budaya yang sudah dikenal oleh anak di rumah dan dilanjutkan di sekolah dimana mereka menimba ilmu. Jadi, anak berkarakter positif bukan lahir dari rumah atau hanya sekolah yang memiliki budaya positif juga, tetapi merupakan produk dari sinergi dua lingkungan tersebut dan terwujud dalam rupa karakter positif ketika anak harus berbaur dengan masyarakatnya. Maka, kita sependapat bahwa pendidikan karakter bukan melulu tanggung jawab sekolah, tetapi juga tanggung jawab keluarga (orang tua).
Seperti apa yang disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudoyono saat menghadiri peluncuran buku Stephen R Covey, The 8th Habit: From Effectiveness to Greatness, beliau sangat berharap, seperti halnya kita, bagaimana budaya unggul tersebut benar-benar mampu menjadi bagian dari karakter bangsa Indonesia. Dan, pendidikan karakter bukanlah mata pelajaran, tetapi nilai-nilai yang bisa diintegrasikan dalam setiap mata pelajaran di sekolah, atau pun setiap pengembangan budaya positif di sekolah dan di tengah-tengah keluarga.
Mengapa pendidikan karakter saat ini dianggap sedemikian penting? Kita semua menyadari bahwa pendidikan karakter adalah bagian dari pembangunan watak yang sangat penting untuk mencapai peradaban yang unggul dan mulia. Semua hal itu bisa terlaksana dengan masyarakat yang baik yakni manusia bermoral dan beretika sehingga bangsa Indonesia bisa bersaing dengan bangsa lain dengan cara yang terhormat dan martabat. Oleh sebab itu, pembangunan karakter dalam diri anak bangsa harus tetap memperhatikan dan berpedoman kepada sendi-sendi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) serta norma sosial yang berlaku dalam masyarakat.
Kita percaya, Presiden SBY bukannya ingin menjadikan buku karya Covey, seorang pakar kepemimpinan, pakar keluarga, pendidik, konsultan organisasi, ini sebagai satu-satunya panutan untuk mengembangkan pendidikan karakter di Indonesia. Kita cukup punya banyak tokoh nasional yang bisa dibanggakan dan diteladani. Tetapi mengapa buku Covey, saya mencoba menebak, itu karena keberhasilannya dalam menularkan budaya positif dan sudah banyak diadopsi dan diadaptasi oleh sekolah-sekolah di dunia dan cukup memberikan hasil yang sangat efektif. Tentu saja, ketika dipaparkan tentang keberhasilan sekolah-sekolah yang sudah menerapkan The 7 Habits ini, siapa yang tidak ingin sekolahnya juga berkembang sedemikian membanggakan?
Stephen R. Covey melalui bukunya ingin menularkan budaya positif yang mengedepankan kepemimpinan. Mengapa kepemimpinan? Hakekatnya jiwa pemimpin itu ada pada tiap individu tanpa harus terbingkai dengan sebuah kedudukan dalam suatu organisasi. Buku ini dia susun sebagai jawaban atas beribu pertanyaan yang muncul dari kalangan pendidikan sendiri, pebisnis, maupun tata kehidupan masyarakat, bahwa ternyata yang dibutuhkan bagi generasi mendatang tidak cukup hanya tingginya nilai akademik, bagaimana menaikkan pencapaian nilai ujian, tetapi lebih dari itu, masa depan membutuhkan generasi muda yang menguasai ketrampilan dasar, ketrampilan kepemimpinan, yang sangat dibutuhkan untuk kehidupan sehari-hari.
Dikisahkan dalam buku ini, bagaimana sekolah-sekolah maju menerapkan budaya sekolah yang dicetuskan oleh Covey dan dikenal dengan The 7 Habits. Setiap anak penting dan mempunyai sesuatu yang bernilai untuk disumbangkan. Budaya positif yang dikembangkan di sekolah ternyata mampu menjadikan anak-anak tumbuh menjadi manusia yang bertanggungjawab, peduli, berperasaan, menghormati keberagaman, dan tahu apa yang harus dilakukan ketika menghadapi keputusan sulit. Ya, dalam dunia pendidikan selalu ada kreativitas, hasrat, kepedulian, atau riset untuk membuat sekolah yang hebat, kelas yang hebat, atau siswa yang hebat.
Bagaimana nilai positif ini dapat dikembangkan melalui 7 (tujuh kebiasaan)? Ini ringkasan dari buku Covey yang bisa kita pelajari dan renungkan bersama.
Kebiasaan 1. Jadilah Proaktif
Kebiasaan ini ditandai dengan sikap-sikap:
Saya orang yang bertanggungjawab. Saya mengambil inisiatif. Saya menentukan tindakan, sikap, dan suasana hati saya. Saya tidak menyalahkan orang lain bila melakukan kesalahan. Saya melakukan hal yang seharusnya saya lakukan, tanpa dimina, meskipun tak ada orang yang melihat.
Kebiasaan 2. Mulai Dengan Tujuan Akhir
Saya membuat rencana di depan dan menetapkan target. Saya melakukan hal-hal yang berarti dan membuat perbedaan. Saya adalah bagian penting dari kelas saya dan saya memberi kontribusi yang positif untuk visi dan misi sekolah saya, serta berusaha menjadi warga sekolah yang baik.
Kebiasaan 3. Dahulukan Yang Utama
Saya menghabiskan waktu untuk hal-hal terpenting. Ini berarti saya mengatakan tidak untuk hal-hal yang tidak boleh saya lakukan. Saya menetapkan prioritas, membuat jadwal, dan menetapkan rencana. Saya disiplin dan terorganisir.
Kebiasaan 4. Berpikir Menang-menang
Saya menyeimbangkan keberanian kemauan saya dan kemauan orang lain. Saya selalu mempertimbangkan perasaan orang lain. Jika terjadi perselisihan, saya mencari alternatif ke tiga.

Kebiasaan 5. Berusaha Memahami Dahulu, Kemudian Berusaha Dipahami
Saya mendengarkan gagasan dan perasaan orang lain. Saya mencoba melihat dari sudut pandang mereka. Saya mendengarkan orang lain tanpa memotong pembicaraan. Saya percaya diri menyuarakan gagasan saya. Saya menatap mata lawan bicara saya.

Kebiasaan 6. Wujudkan Sinergi
Saya menghargai kekuatan orang lain dan belajar darinya. Saya pandai bergaul, bahkan dengan orang yang berbeda dengan saya. Saya bekerja baik dalam kelompok. Saya meminta gagasan orang lain untuk memecahkan masalah karena saya tahu bila saya bekerja sama dengan orang lain maka kita dapat membuat solusi dengan lebih baik daripada kalau bekerja sendiri. Saya selalu belajar untuk rendah hati.
Kebiasaan 7. Mengasah Gergaji
Kebiasaan ke tujuh ini dimaknai dengan budaya selalu belajar, belajar tentang apapun juga, sehingga mampu melengkapi ke enam kebiasaan yang lain.
Mudahkan mengimplementasikan budaya tersebut di sekolah kita? Ternyata tidak. Tetapi juga sangat mungkin untuk dilakukan. Yang dibutuhkan hanyalah komitmen dari segenap komponen sekolah, dukungan dan partisipasi orang tua, maka yang tidak mungkin itu pun berubah menjadi sebuah kenyataan.
Melalui Tujuh Kebiasaan ini kita berharap membangun manusia Indonesia yang berakhlak, berbudi pekerti, dan berperilaku baik. Bangsa kita ingin pula memiliki peradaban yang unggul dan mulia. Peradaban demikian dapat kita capai apabila masyarakat kita juga merupakan masyarakat yang baik (good society). Dan, masyarakat idaman seperti ini dapat kita wujudkan manakala manusia-manusia Indonesia adalah manusia yang berakhlak dan berwatak baik, manusia yang bermoral dan beretika baik, serta manusia yang bertutur dan berperilaku baik pula.
Bangsa yang berkarakter unggul, disamping tercermin dari moral, etika dan budi pekerti yang baik, juga ditandai dengan semangat, tekad dan energi yang kuat, dengan pikiran yang positif dan sikap yang optimis, serta dengan rasa persaudaraan, persatuan dan kebersamaan yang tinggi.
Lalu apa harapan orang tua yang mempercayakan anak-anaknya belajar di sekolah yang mengedepankan budaya-budaya unggul tersebut? Pada umumnya mereka akan berpendapat bahwa sekolah ini sukses mendidik siswa karena mencintai dan menghormati siswa. Orang tua merasakan guru adalah sosok pendidik yang benar-benar mencintai anak-anak. Dan mereka bekerja sepenuh hati membimbing siswa dari titik A ke titik B, ke titik C dan seterusnya lalu memastikan bahwa tahun-tahun selanjutnya siswa didiknya akan tetap bersinar.
Guru adalah seorang pendidik yang benar-benar menginginkan yang terbaik untuk siswa-siswanya, dan memiliki kepedulian untuk meluangkan waktu guna menemukan bakat individu siswa, lalu mencari cara untuk mengasuh dan memberdayakan bakat tersebut.
Sungguh, pada sekolah yang mengedepankan budaya positif berkembang dengan sangat sehat, anak tak perlu mencari teladan jauh-jauh, karena bagi mereka Kepala Sekolah, guru, siapa pun yang terlibat dalam keberlangsungan sekolah adalah teladan yang layak dijadikan panutan dalam tutur kata, cara berpikir, bertingkah laku, dan membangun relasi sosial. Semoga. (Yohana Kristianti, S.Si, Pendidik di SMPN 1 Purbalingga)

Yohana Kristianti, S.Si

Yohana Kristianti, S.Si

Tentang Penulis

Leave A Response