Mahasiswa pasca sarjana UI teliti tanggul pantai Cilacap

CILACAP – Sejumlah mahasiswa pasca sarjana Universitas Indonsia (UI), selama dua hari Rabu dan Kamis (21-22/04) mengadakan kuliah lapangan di Kabupaten Cilacap. Rombongan mahasiswa pasca sarjana jurusan geografi itu, akan melakukan analisa keberadaan tanggul pantai di sepanjang pesisir Cilacap.

Menurut Dr. Joko Hermantio selaku dosen pembimbing, keberadaan tanggul pantai di Cilacap tercatat sebagai satu-satunya fenomena alam terbesar di Indonesia. Dikatakan, tanggul yang berjajar di sepanjang pesisir Cilacap hingga ke timur itu, jumlahnya mencapai 16 baris mulai dari bibir pantai hingga ke daratan.

“Kami telah melakukan penghitungan fenomena tanggul pantai yang berejejer itu melalui citra satelit dan jumlahnya ada 16 baris dari mulai bibir pantai sampai ke daratan,” papar Joko Hermantio saat mengadakan audiensi dengan Wabup H Tatto Suwarto Pamuji, di ruang Prasanda rumah dinas Bupati Cilacap, Selasa sore (20/04).

Munculnya tanggul pantai tersebut katanya, melalui satu proses bio morphologis yang membutuhkan waktu ratusan tahun bahkan ribuan tahun. Secara secara teoritis tanggul pantai tersebut telah dimanfaatkan oleh masyarakat sekitarnya dalam bentuk apapun.

Terkait dengan kuliah lapangan pada semester II itu, pihaknya akan melihat sejauh mana masyarakat yang sudah memanfaatkan tanggul pantai tersebut.

Ia nenandaskan, fenomena alam tersebut akan menjadi bahan analisis para mahasiswanya, kemudian dikaitkan dengan bagaimana kebijakan pemda didalam memanfaatkan fenomena itu dalam penetapan penataan tata ruangnya. “Setelah kami melakukan analisis kami akan membuat sebuah laporan dan insya Allah setelah kami seminarkan dan dianggap sudah cukup baik akan kami sampaikan ke pemda disertai rekomendasi sebaiknya untuk apa dimasa mendatang,” tandasnya.

Apakah tanggul pantai?

Menurut situs www.ranesi.nl tepi pantai yang ditumbuhi alang-alang lebih efektif dibandingkan tanggul beton. Padang alang-alang di tepi pantai punya fungsi sama dengan tanggul yaitu melindungi garis pantai. Bedanya, itu lebih murah dan tidak berdampak negatif terhadap lingkungan. Jadi tidak perlu membangun bendungan dari beton, cukup dengan pantai lebar yang ditumbuhi rumput tinggi semacam alang-alang.

Cara melindungi garis pantai ini adalah gagasan Ronald Waterman dan diberi nama “Rencana Waterman”. Ia adalah anggota parlemen daerah Propinsi Holland Selatan dan penasehat berbagai instansi pemerintah untuk perlindungan pantai. Waterman punya catatan kritis terhadap sistem melindungi pantai yang ia sebut dengan sistem keras, yaitu tanggul-tanggul beton.

“Cara yang umum dipakai adalah melindungi pantai dengan bahan-bahan keras seperti beton. Lalu lihatlah apa yang terjadi. Gelombang menerpa beton dan menampar kembali. Berarti pantai muka terkikis lalu, konstruksi betonnya lama-lama sobek dan hancur”, jelas Waterman. Memperbaikinya tanggul yang rusak makan biaya, lebih mahal daripada membangunnya.

Cepat Bertindak
Menyemprot pasir agar pantai lebih tinggi dan kemudian ditanami rumput alang-alang adalah metode yang lebih baik. Menurut Waterman, cara melindungi garis pantai ini punya masa depan baik. Ini karena murah dan cocok untuk negara-negara sedang berkembang.

Kita harus cepat bertindak, karena menurut Waterman banyak wilayah perkotaan terancam. 80% dari kota-kota besar di dunia terletak dekat pantai atau delta. Contohnya banyak sekali. Misalnya, Hongkong, Shanghai, Manilla, Jakarta, Mumbai, Calcutta, Tjernai, Buenos Aires, Rio de Janeiro, New York, Los Angeles, Longbeach dan sebagainya. (BNC/hum/ist)

ilustrasi
ilustrasi

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.