Lebih dari 50 desa di Purbalingga rawan kekeringan

Ditulis 24 Jul 2009 - 23:39 oleh Sista BNC

Desa yang rawan kekeringan di Kabupaten Purbalingga semakin bertambah. Desa tersebut tersebar di beberapa kecamatan dengan jumlah mencapai lebih dari 50 desa. Antara lain di wilayah kecamatan Karanganyar, Kemangkon, Kejobong, Bukateja, Kaligondang.
Dari keseluruhan desa yang mengajukan bantuan air bersih tercatat memiliki lebih dari 35.000 keluarga. Padahal pada minggu pertama usulan desa masuk, jumlah keluarga yang kekurangan air bersih hanya sekitar 21.000 keluarga.
“Kami memperkirakan jumlahnya masih bisa bertambah, karena musim kemarau baru berjalan belum sampai satu bulan. Kebanyakan kondisi wilayah itu memang menjadi langganan kekeringan setiap musim kemarau,” papar Kabag Hubungan Pelanggan PDAM Purbalingga, Titin Kusriati Jumat (24/07).
Menurut Titin, sejak pekan lalu, pihaknya sudah memulai pendistribusian ke desa-desa tersebut. PDAM mencocokan data sesuai pengajuan usulan bantuan air bersih dari masing-masing desa. Hingga saat ini sudah lebih dari 20 tangki air bersih disalurkan kepada desa rawan air bersih itu.
“Kami juga akan dibantu dari Bakorwil Banyumas untuk unit kendaraan pengangkut air.. Pasalnya saat ini dengan 4 unit kendaraan yang ada, dimungkinkan kedepan masih kekurangan armada untuk ke desa lainya. Kemungkinan Jumat (24/7) hari ini, kendaraan dari Bakorwil sudah mulai melaksanakan pengiriman air,” katanya.
Kades Nangkasawit (Kejobong), Nasirun, mengaku wilayahnya sudah mulai membutuhkan air bersih. Meskipun belum terlalu parah, namun pengusulan bantuan lebih dini telah dilakukan.
Saat ini di desanya masih mengalir saluran air dari program pemerintah tahun yang lalu. Namun kondisinya sudah minim pasokan dan cenderung kurang. “Pada bulan ketiga kemarau biasanya desa kami baru benar-benar kekurangan air bersih. Tumpuan kami hanya bantuan air bersih dari pemerintah dan memanfaatkan sungai terdekat,” katanya.
Sementara itu beberapa warga di Desa Karanganyar (Karanganyar) juga sudah memanfaatkan air sungai. Mereka mengambil air sungai dan mengangkutnya dari tepi Ssungai Laban dengan alat seadanya.
Terpisah, Kasi Linmas pada Kantor Kesatuan Bangsa Politik dan Perlindungan Masyarakat, Suprapto, kembali mengingatkan pemerintah desa untuk segera mendata dan melaporkan usulan bantuan air bersih. Jangan sampai masyarakat sudah menjerit air baru diusulkan.
“Kades sebagai kordinator Satuan Linmas di desa harus sigap, cepat dan tepat sesuai kebutuhan, melaporkannya kepada pemerintah. Apalagi permasalahan kesulitan air setiap musim kemarau sudah menjadi langganan, seharusnya sudah bisa tanggap,” jelas Suprapto, kemarin. (banyumasnews.com/pyt)

Tentang Penulis

Leave A Response