Kisah Afif, Penerima Beasiswa Hafidz Qur’an UMP

BanyumasNews.com, PURWOKERTO – Salah seorang penerima beasiswa hafiz Al Qur’an dari Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP)  adalah Muhammad Afif Muizuddin (21). Ia mengaku senang menerima beasiswa tersebut, meskipun setiap semester harus diuji kembali.

“Dengan demikian (ujian – red), saya harus lebih sering mengulang hafalan. Jadi hafalannya tidak hilang”, kata mahasiswa semester 4 Program Studi Teknik Informatika Fakultas Teknik UMP itu.

Terkait dengan upaya menghafalkan Al Qur’an, Afif mengatakan hal itu dilakukan selama menjadi santri di salah satu pondok pesanteren Kota Salatiga, yakni membaca satu halaman Al Qur’an setiap subuh dan diulang sebanyak 20 kali.

Menurut dia, pengujian hafalan Al Qur’an itu dilaksanakan dua hari masing-masing 15 juz.

“Alhamdulillah saya bisa kuliah di UMP, selain dekat dengan rumah juga UMP memberikan kesempatan untuk melanjutkan studi melalui program beasiswa hafidz Qur’an,” katanya.

Menurut mahasiswa yang aktif di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) ini, motivasi terbesar dalam menghafal Al Qur’an adalah menjadi Ahlullah. “Sebagaimana dalam hadist, sesungguhnya Allah mempunyai keluarga di antara manusia, para sahabat bertanya, siapakah mereka ya Rasulullah? Rasul menjawab, para ahli Al Qur’an. Merekalah keluarga Allah dan hamba pilihanNya. Dan motivasi terbesar saya dalam menghafal Al Qur’an adalah memberikan kebaikan untuk kedua orangtua,” ungkapnya.

Afif menuturkan, untuk mendapatkan semua itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dia harus melalui proses sangat panjang.

“Bukan tanpa cobaan dan godaan. Akan tetapi, saya selalu mengingat motivasi awalnya ketika menghafal Al Qur’an. Motivasi awal itu yang selalu saya ingat ketika mulai merasa malas dalam menghafal,” ungkapnya.

Mahasiswa asal Kembaran Kulon Purbalingga ini memiliki kiat-kiat bagaimana ia bisa menjadi penghafal quran.

“Paling utama niat ikhlas karena Allah, selanjutnya fokus dalam menghafal, hindari maksiat, dan tentunya membacanya berulang-ulang minimal 20 kali per ayat,” ungkapnya.

Ia berpesan kepada anak muda untuk kembali menghidupkan masjid. “Zaman sekarang masjid lebih penuh dengan orang-orang tua, sementara yang muda sudah jarang sekali. Serta jangan terlalu intens dengan gawainya (aktifitas),” pungkasnya. (BNC/tgr)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*