Bagaimana Melawan Radikalisme di Era Digital?

BanyumasNews.com, YOGYAKARTA – Pesatnya pertumbuhan teknologi memberikan ruang penetrasi informasi dan nilai semakin luas. Hal tersebut memberi peluang bagi para oknum pelaku terorisme untuk menggunakan kanal media sosial sebagai sarana penyebarluasan paham radikalisme yang menyimpang.

Center for Digital Society (CfDS) UGM dalam seri diskusi Digitalk, mengangkat isu tersebut, dengan mengundang  Minardi, S.IP,  koordinator Divisi Scouting dan Riset Arus Infomrasi Santri (AIS) Nusantara sebagai pembicara.

Selama kurang lebih dua jam Minardi memaparkan materi dengan topik “Melawan Radikalisme dalam Dunia Digital” pada Selasa (22/5/2018) lalu di Convention Hall Lantai 4 Fakultas Ilmu Sosial (Fisipol) UGM.

“Jaman terus berubah, meningkatnya arus teknologi dan informasi membuat adanya kemudahan dan kemurahan dalam bermedia sosial, sehingga berinteraksi pun tentu menjadi mudah. Disinilah platform komunikasi positif, seperti Arus Informasi Santri (AIS) ada sebagai penghubung para santri dalam berkomunikasi dan menebar informasi positif,” ungkap Minardi.

Arus Informasi Santri (AIS) merupakan platform komunikasi santri se-nusantara. “AIS ini merupakan implementasi dari refrensi ibadah ala asswaja, dengan menyebarkan kebaikan dan mengkampanyekan perilaku positif sebanyak-banyaknya,” tambah Minardi.

AIS sendiri telah berhasil menjaring hampir di seluruh wilayah Indonesia. Menggunakan group Whatsapp dan pembuatan media instagram danfacebook diharapkan AIS dapat menghapus stereotip wajah santri yang tidak melek informasi.

“Sosial media AIS seperti instagram telah mencapai 33 ribu followers, bukan hanya itu, dalam jaringan komunikasi AIS terdapat berbagai group WA yang berbeda seperti group nasional, groupkajian, dan group member,” ungkap Minardi.

Luasnya jaringan yang dimiliki AIS memberikan kesempatan AIS untuk memanfaatkanya untuk mengkampanyekan hal-hal positif melalui kanal digital yang tersedia, seperti dengan mengadakan berbagai program dengan instrumen digital.

“Program-program yang dicanangkan AIS berupa program kampanye online, berbagai lomba berbasis digital seperti lomba video dan lomba desain grafis, serta kunjungan media. Untuk waktu terdekat ini kita akan mengadakan kopdarnas (kopi darat nasional).” tambah Minardi.

Minardi mengakui bahwa pesatnya arus informasi di dunia maya juga membuat adanya kesempatan yang lebih besar bagi paham radikalisme untuk tersebar di berbagai kanal informasi termasuk media sosial yang dimiliki oleh sebagian besar masyarakat luas.

”Metode rekruitmen teroris jaman old, tentu berbeda dengan metode rekruitmen jaman now. Pada jaman dulu rekruitmen dilakukan menggunakan media face to face. Nah sekarang, menggunakan berbagai platform bebas yang tersedia menjadikan kemudahan-kemudahan rekrutmen dan regenerasi,” jelas Minardi.

Rekrutmen dan pencarian kader ini dilakukan menggunakan berbagai media, bisa melalui facebook,instagramyoutube serta group chat, seperti telegram, group WA dan perkembangan baru-baru ini yaitu TamTam Messanger.

Bahkan menurutnya, melalui kanal chat online tersebut pula disebarkan tutorial membuat bom beserta perakitanya.

“Untuk mengatasi paham-paham yang berkembang dan melawan terorisme tentu diperlukan sinergi antar stakeholders beserta aksi secara langsung contohnya berupa pembinaan,” ungkap Minardi.

Ia melihat bahwa langkah-langkah preventif yang dilakukan oleh pemerintah dengan menutup kanal-kanal potensial yang digunakan untuk penyebarluasan paham radikalisme seperti telegram beberapa waktu yang lalu masih kurang efektif.

Bagi Minardi, lebih ideal pembinaan yang dilakukan langsung terhadap aktor-aktor yang melakukanya, yaitu ke oknum atau pelakunya secara langsung. Aplikasi chat yang selama ini digunakan hanya sebatas platform, masih ada ribuan platform yang dapat digunakan apabila satu platform ditutup.

Salah satu langkah yang telah dilakukan oleh AIS adalah melalui kanal sosial medianya dengan berbagai kampanye, konfirmasi dan verifikasi konten.

AIS secara gencar membantu kampanye-kampanye dengan mengunggah konten positif dan pendekatan konten dengan bahasa yang halus. Selain itu Minardi juga menekankan peran masyarakat juga penting dalam menciptakan lingkungan yang inklusif untuk membantu melawan terorisme.

“Ada beberapa kasus dimana para “mantan” teroris yang telah selesai masa hukumanya tidak dapat diterima kembali oleh masyarakat. Hal ini berdampak besar tentunya bagi pskiologi orang-orang tersebut. Peran masyarakat juga penting dalam membendung agar orang-orang tersebut tidak kembali. Sehingga tidak cukup pemerintah saja yang harus mengatasi radikalisme dan terorisme, namun berbagai organisasi sipil dan juga masyarakat itu sendiri,” jelas Minardi. (BNC/fdr)

Artikel ini pernah dimuat di kanal Media Fisipol UGM

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*